Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Allah adalah Tuhan kita yang Maha Tinggi. Dialah yang bernama al-Aliyyu (العلي). Dialah yang memiliki sifat al-uluw (العلو). Semuanya bermakna ketinggian yang mutlak. Ketinggian yang dimiliki sejak zaman azali yang tanpa permulaan. Ketinggian yang terus kekal bersama Dzat-Nya, sama seperti seluruh sifat-Nya yang lain.

Allah sudah bersifat Uluw sejak seluruh alam semesta belum Dia ciptakan. Allah tetap bersifat Uluw setelah Dia menciptakan alam semesta. Allah juga akan tetap kekal dalam sifat Uluw-Nya hingga seluruh semesta hancur.

Kemahatinggian Allah itu mutlak. Tak perlu keberadaan arah atau sesuatupun di bawahnya. Tapi sebagian orang memang terlalu bodoh hingga menyangka bahwa ketinggian-Nya adalah soal perspektif arah antara sesuatu yang bertempat di bawah dalam memandang sesuatu yang bertempat di atasnya. Dalam makna ini, ketinggian Allah hanya terjadi ketika Allah menciptakan sesuatu di “bawahnya”, hanya ketika makhluk tercipta saja. Sebelum makhluk tercipta dan setelah semua makhluk hancur, maka tak mungkin lagi Allah disebut Maha Tinggi sebab tak ada yang “di bawahnya” untuk melihatnya sebagai “berada di atas”.

Maha Suci Allah dalam Ketinggian-Nya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifati.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204432478448216&id=1718970307