Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini cukup menggelitik bagi bayak orang. Ada yang tergelitik karena menganggap jawabannya sudah sangat jelas, yakni Allah, tapi kok masih ditanyakan? Ada juga yang merasa tergelitik sebab di atas Arasy di anggap tak ada apa-apa sama sekali. Sebagian lagi tergelitik sebab merasa bahwa itu adalah pertanyaan tentang hal ghaib yang kita tak tahu sama sekali sehingga tabu untuk dibicarakan.

Sebelum menjawab, perlu diketahui bahwa pertanyaan ini bukan hal tabu yang tak boleh dibahas sebab kita menanyakan tentang sebuah makhluk yang bernama Arasy, bukan tentang Sang Khaliq yang kekuasaan mutlaknya mencakup Arasy dan apalagi yang di bawahnya. Pertanyaan soal hal ghaib ini juga bisa diketahui melalui riwayat sahih yang menjelaskannya. Jadi, kata kuncinya adalah riwayat.

Langsung saja, jawaban pertanyaan itu ada dalam riwayat sahih yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim (muttafaq ‘alaihi) berikut:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي (متفق عليه)
“Ketika Allah menentukan nasib manusia, Ia menulis di kitab-Nya yang berada di sisi-Nya di atas Arasy; Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan marah-Ku”.

Hadis tersebut menyatakan bahwa di atas Arasy ada Lauh Mahfudz di sisi Allah. Mengomentari hadis tersebut di atas, Imam Ibnu Hajar mengatakan:

فتح الباري لابن حجر (6/ 291)
وَلَا مَحْذُورَ فِي إِجْرَاءِ ذَلِكَ عَلَى ظَاهِرِهِ لِأَنَّ الْعَرْشَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ أَيْ ذِكْرُهُ أَوْ عِلْمُهُ فَلَا تَكُونُ الْعِنْدِيَّةُ مَكَانِيَّةٌ بَلْ هِيَ إِشَارَةٌ إِلَى كَمَالِ كَوْنِهِ مَخْفِيًّا عَنِ الْخَلْقِ مَرْفُوعًا عَنْ حَيِّزِ إِدْرَاكِهِمْ
“Tak masalah memahami hadis tersebut secara dhahir (bahwa Lauh Mahfudz benar-benar di atas Arasy) sebab sesungguhnya Arasy adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan “di sisi-Nya” adalah disisi ilmu Allah. Jadi penyebutan sisi di sini bukanlah dalam makna tempat tetapi itu adalah isyarat bagi kesempurnaan Lauh Mahfudz yang tersembunyi dari makhluk dan tinggi terangkat dari batas pengetahuan mereka”.

Di kitab yang sama tetapi dari Hadis yang redaksinya serupa itu, Imam Ibnu Hajar juga berkomentar:
فتح الباري لابن حجر (13/ 526)
وَالْغَرَضُ مِنْهُ الْإِشَارَةُ إِلَى أَنَّ اللَّوْحَ الْمَحْفُوظَ فَوْقَ الْعَرْشِ
“Maksud hadis itu adalah mengisyaratkan bahwa Lauh Mahfudz berada di atas Arasy”.

Senada dengan keterangan Ibnu Hajar tersebut, Imam al-Hafidz Badruddin al-Aini juga menyatakan:
عمدة القاري شرح صحيح البخاري (15/ 111)
الْكتاب عِنْده، والعندية لَيست مكانية بل هُوَ إِشَارَة إِلَى كَمَال كَونه مكنوناً عَن الْخلق مَرْفُوعا عَن حيّز إدراكهم
“Lauh Mahfudz di sisi Allah. Penyebutan sisi di sini bukan dalam perspektif tempat, tetapi itu adalah isyarat tentang kesempurnaan keberadaannya dibanding makhluk lainnya, terangkat dari batas pengetahuan mereka”.

Lebih jelasnya tentang posisi Lauh Mahfudz ini, al-Imam Ibnu Furak menjelaskan:
مشكل الحديث وبيانه (ص: 455)
وَيحْتَمل أَن يكون ذَلِك الْكتاب مَوْضُوعا على الْعَرْش على معنى المماسة لَهُ وَيكون عِنْد الله على معنى إحاطة علمه بِمَا فِيهِ من حَدِيث لَا يخفى عَلَيْهِ مِنْهُ شَيْء
“Memungkinkan bahwa Lauh Mahfudz itu diletakkan di atas Arasy dengan makna menyentuh arasy. Dan, penyebutan “di sisi Allah” maknanya adalah pengetahuan Allah meliputi segala apa yang ada di dalamnya dan tak ada satu hal pun yang samar bagi Allah”.

Lalu kalau di atas Arasy ada Lauh Mahfudz, maka bagaimana dengan Allah yang disebut istawa di atasnya? Apa pula Lauh Mahfudz itu? Bisakah Arasy yang agung dan berada di tempat tertinggi itu disentuh dan digapai oleh makhluk?

Untuk menjawab semua pertanyaan ini, saya nukilkan lagi penjelasan agak panjang dari Imam al-Hafidz al-Khatthabi sebagaimana dinukil sebagai hujjah oleh Imam al-Hafidz al-Baihaqi dalam al-Asma’ was Shifat sebagaimana berikut:

الأسماء والصفات للبيهقي (2/ 279)
قَوْلِهِ: «فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ» . أَيْ: فَعِلْمُ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فَوْقَ الْعَرْشِ لَا يَنْسَاهُ وَلَا يَنْسَخُهُ وَلَا يُبَدِّلُهُ، كَقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا: {قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى} [طه: 52] ؛ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ أَرَادَ بِالْكِتَابِ اللَّوْحَ الْمَحْفُوظَ الَّذِي فِيهِ ذِكْرُ أَصْنَافِ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ، وَبَيَانُ أُمُورِهِمْ وَذِكْرُ آجَالِهِمْ وَأَرْزَاقِهِمْ، وَالْأَقْضِيَةُ النَّافِذَةُ فِيهِمْ، وَمَآلُ عَوَاقِبِ أُمُورِهِمْ، وَيَكُونُ مَعْنَى قَوْلِهِ: «فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ» . أَيْ: فَذِكْرُهُ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ، وَيُضْمَرُ فِيهِ الذِّكْرُ أَوِ الْعِلْمُ، وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ فِي الْكَلَامِ، سَهْلٌ فِي التَّخْرِيجِ، عَلَى أَنَّ الْعَرْشَ خَلْقُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَخْلُوقٌ لَا يستحيلُ أَنْ يَمَسَّهُ كِتَابُ مَخْلُوقٌ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ حَمَلَةُ الْعَرْشِ قَدْ رُوِيَ أَنَّ الْعَرْشَ عَلَى كَوَاهِلِهِمْ، وَلِيسَ يَسْتَحِيلُ أَنْ يُمَاسُّوا الْعَرْشَ إِذَا حَمَلُوهُ، وَإِنْ كَانَ حَامِلُ الْعَرْشِ وَحَامِلُ حَمَلْتِهِ فِي الْحَقِيقَةِ هُوَ اللَّهُ تَعَالَى. وَلَيْسَ مَعْنَى قَوْلِ الْمُسْلِمِينَ: إِنَّ اللَّهَ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، هُوَ أَنَّهُ مُمَاسٌّ لَهُ، أَوْ مُتَمَكِّنٌ فِيهِ، أَوْ مُتَحَيِّزٌ فِي جِهَةٍ مِنْ جِهَاتِهِ، لَكِنَّهُ بَائِنٌ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ، وَإِنَّمَا هُوَ خَبَرٌ جَاءَ بِهِ التَّوْقِيفُ فَقُلْنَا بِهِ، وَنَفَيْنَا عَنْهُ التَّكْيِيفَ، إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Sabda Nabi ‘Lauh Mahfudz di sisi-Nya di atas Arasy’ maksudnya adalah ilmu tentangnya ada di sisi Allah Ta’ala di atas Arasy. Allah tak melupakannya, tak mengubahnya dan tak menggantinya. Sama seperti firman Allah: ”
Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa” (QS. Thaha: 52).
Ada kalanya yang dimaksud kitab adalah Lauh Mahfudz yang di dalamya ada informasi tentang makhluk dan penciptaannya. Juga keterangan tentang urusan mereka, ajal, rizki, takdir yang akan terjadi bagi mereka dan puncak terahir kehidupan mereka (di surga atau neraka).
Makna ‘Lauh Mahfudz di sisi-Nya di atas Arasy’ adalah penyebutan atau ilmu tentang Lauh Mahfudz ada di sisi Allah di atas Arasy. Dalam redaksi itu ada penyimpanan kata “penyebutan” dan kata “ilmu”, semuanya diperbolehkan dalam bahasa Arab; mudah dijelaskan bahwasanya Arasy itu adalah salah satu makhluk Allah Ta’ala yang tak mustahil disentuh oleh sebuah kitab yang juga makhluk. Juga diriwayatkan bahwa para malaikat yang menopang Arasy memikulnya di pundak mereka. Bukan mustahil mereka menyentuh Arasy ketika mereka memikulnya, meskipun sebenarnya yang menahan Arasy dan para pemikulnya adalah Allah sendiri.
Makna perkataan orang islam bahwa Allah istawa atas Arasy BUKANLAH ALLAH MENYENTUH ARASY, BERTEMPAT DI ARASY ATAU TERBATAS DALAM ARAH ARASY, akan tetapi Allah itu terpisah dari seluruh makhluknya. Ungkapan itu tak lain HANYALAH KABAR (AYAT/HADIS) YANG DATANG DARI PETUNJUK WAHYU SEHINGGA KITA MENGATAKAN HAL ITU JUGA, dan kita menafikan mekanisme teknis (kaifiyah) dari Allah sebab tak ada satu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Demikianlah penjelasan para ulama pakar hadis tentang keberadaan Lauh Mahfudz di atas Arasy yang betul-betul keberadaan hakiki dalam makna bertempat di sana. Sedangkan makna “di sisi Allah” maka sama dengan makna teks lain yang memuat redaksi ini, bukan dalam makna bertempat di samping Allah, tetapi bermakna pengkhususan dan pemuliaan. Kalau saja semua ungkapan “di sisi Allah” harus dimaknai bertempat di samping Allah di atas Arasy, maka akan banyak kita jumpai yang bertempat di sisi-Nya di sana sebab ungkapan ini umum sekali. Kalau demikian kasusnya, maka bertempat di atas Arasy sama sekali tak spesial lagi.

Jadi, Arasy itu hanyalah salah satu makhluk saja di antara sekian banyak makhluk Allah. Ia bisa digapai, disentuh oleh makhluk lain. Bahkan di atasnya juga ada salah satu makhluk Allah, yakni Lauh Mahfudz. Dengan demikian, Lauh Mahfudz adalah makhluk di posisi tertinggi, setidaknya yang saya ketahui. Seperti makhluk lainnya, Arasy juga bisa bergetar karena terjadinya sesuatu. Dalam hadis sahih kita dapati bahwa wafatnya sahabat Sa’ad bin Muadz membuat Arasy bergetar. Meskipun ada yang mentakwil bahwa yang bergetar adalah para malaikat pemikulnya, tapi redaksi hadisnya menyebutkan bahwa Arasy sendirilah yang bergetar.

Maka tak perlu kita membayangkan yang tidak-tidak soal makhluk dengan ukuran mega besar ini, ia adalah makhluk biasa seperti makhluk lainnya. Namun, Arasy menjadi spesial sebab disebut secara khusus sebagai objek istawa-nya Allah. Kenapa disebut secara khusus? sebab ia berukuran maha besar. Kalau yang besar saja dikuasai secara mutlak oleh Allah, apalagi yang lebih kecil lagi seperti langit dan bumi, apalagi hanya manusia yang tinggal di bumi. Demikianlah para ulama Ahlussunnah menjelaskan. Sudah beberapa kali saya bahas soal ini di tulisan lain beserta nukilan lengkapnya dari para ulama Ahlussunnah. Silakan dilacak di lapak saya bila penasaran sebelum menyimpulkan yang tidak-tidak.

Semoga bermanfaat.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204470745564870&id=1718970307