Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Pembahasan tentang ada dan tiada ini bisa sangat sederhana seperti dipahami anak kecil dan bisa sangat kompleks seperti dibahas para filsuf. Saya akan bahas seperlunya saja di sini dengan bahasa sesederhana mungkin untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang mengatakan bahwa ucapan “Allah tak bertempat, Allah bukan jisim, Allah tak terbatas atau Allah tak berada dalam arah” sama saja dengan mengatakan “Allah tidak ada”. Bagi mereka, semua yang ada pastilah jisim, ada tempatnya, ada batasan ukurannya dan ada arahnya. Argumen seperti ini populer sekali di kalangan hasyawiyah yang menentang Ahlussunnah Wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah). Pada status sebelumnya saya menulis tentang kemahabesaran Allah yang oleh pendaku salafi diartikan Allah punya batasan ukuran yang besar. Basis keyakinan mereka adalah argumen soal ada dan tiada di atas.

Sebenarnya bagaimana kita mengetahui sesuatu sebagai ada dan sebagai tiada? Jawabannya tergantung pada sesuatu yang kita bicarakan. Begini perinciannya:

1. Bila kita membahas soal benda, hewan, manusia, tumbuhan dan segala jisim lainnya, maka keberadaannya adalah menempatnya jisim itu dalam ruang tertentu di jagad raya ini. Keberadaannya di ruang tertentu itu memastikan adanya batasan ukuran dan arah sehingga muat di ruang itu dan terbatas di ruang itu bukan di ruang lainnya. Bila benda itu tak menempat di manapun, maka benda itu kita sebut tidak ada.
2. Bila kita membahas soal ide, maka keberadaannya ditandai dengan munculnya ide itu dalam memori seseorang. Bila seseorang itu adalah kita sendiri, maka kita tahu bahwa ide itu ada ketika memori kita merekamnya. Apabila seseorang itu adalah orang lain, maka kita tahu keberadaan ide tersebut dari ucapan orang yang bersangkutan atau dari tindakannya yang menunjukkan adanya ide tersebut. Apabila dalam memori seseorang sama sekali tak ada rekaman soal ide itu dan sama sekali tak ada tindakan yang mengarah ke sana, maka kita sebut ide itu tidak ada.
3. Bila kita membahas soal mimpi, maka keberadaannya ditandai dengan ingatan seseorang akan bayangan-bayangan yang ia dapat dalam tidurnya. Bila ia sadar akan bayang-bayang itu, maka kita sebut bahwa mimpinya ada. Namun bila ia tak ingat melihat bayangan apapun sewaktu tidurnya, maka kita sebut mimpi itu tak ada, meskipun sains mengatakan bahwa setiap orang tidur pasti bermimpi.
4. Bila kita membahas soal cinta, maka keberadaannya ditandai dengan perhatian lebih dan hal-hal positif pada orang yang menjadi objeknya. Apabila yang sedemikian tidak ada, maka kita sebut bahwa cinta itu tak ada. Demikian juga berlaku bagi semua keberadaan perasaan. Keberadaannya diukur dengan keberadaan indikasinya dan ketiadaannya diukur dengan ketiadaan indikasi tersebut.

Bisa dilihat bahwa masing-masing patokan keberadaan dan ketiadaan di atas berbeda-beda sesuai karakter objek yang sedang dibahas. Sekarang kita bahas bagaimana kita menentukan ada dan tidak adanya Allah yang menjadi Tuhan semesta alam? Jawabannya tentu saja dari keberadaan tindakan ketuhanan di semesta ini. Tatkala kita lihat ada peran Tuhan di setiap gerak semesta ini, maka di situlah kita tahu bahwa Tuhan itu ada. Semua keluarbiasaan, keteraturan, dan sistem yang maha hebat yang kita lihat setiap hari memastikan adanya Tuhan yang merancang semuanya dari awal. Selama semua itu ada, maka kita pastikan bahwa Tuhan ada dan apabila semuanya tak ada, maka di situlah baru Tuhan disebut tak ada.

Jadi, sama sekali tak ada hubungannya antara keberadaan Tuhan dengan tempat, ruang atau sifat jisim seperti batasan ukuran, susunan, berat dan seterusnya. Itu semua hanya berlaku ketika kita membahas keberadaan jisim, bukan keberadaan hal lain. Untuk mengukur keberadaan ide dan mimpi saja sudah tidak relevan kita membahas tempat, ukuran dan sifat jisim. Makin tak relevan lagi ketika kita menggunakan parameter tempat/ruang, batasan dan sifat jisim itu untuk membahas ada tidaknya Allah yang sudah mendeklarasikan diri-Nya sebagai berbeda secara mutlak dengan seluruh hal lain.

Sederhana sekali bukan pemahaman ini? Sayangnya beberapa orang memang tak mampu memahami hal yang paling sederhana sekalipun sehingga menggunakan parameter makhluk untuk mengukur keberadaan Sang Khaliq. Bila jisim selalu bertempat dan berada dalam arah tertentu, maka Tuhan pun dianggap bertempat dan berada dalam arah tertentu. Bila tak bertempatnya sebuah jisim berarti ketiadaan jisim itu sendiri, maka ketiadaan tempat Tuhan juga disimpulkan sebagai ketiadaan Tuhan itu sendiri. Ini sebuah kesalahan mendasar yang sayangnya sulit sekali mereka sadari.

Semoga bermanfaat.