Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Banyak sekali kita dapati gugatan para tokoh, baik tokoh dari era salaf maupun era khalaf, terhadap tokoh-tokoh lain yang memaknai istawa dengan makna menguasai. Di antara gugatan paling besarnya adalah argumen apabila istawa dimaknai menguasai, maka berarti bisa dikatakan bahwa Allah istawa atas segala sesuatu, termasuk istawa atas tempat sampah sekalipun!

Sebelum dilanjutkan, saya perlu menegaskan sekali lagi kalau saya adalah mufawwidh, saya lebih memilih jalan ulama salaf yang tak memaknai istawa atau shifat khabariyah Allah lainnya dengan makna spesifik tetapi memasrahkan makna spesifiknya kepada Allah semata. Yang kami pahami dari ayat itu adalah ungkapan global saja seperti halnya dipahami dari konteks ayat atau hadisnya secara utuh. Lebih dari itu kami memilih diam kecuali sangat terpaksa.

Namun perlulah kiranya kita bersikap adil pada pihak lain yang menyatakan berbeda. Kalaulah tafwidh adalah pilihan yang dirasa paling tepat, bukan berarti takwil harus sesat bukan?. Dulu saya pernah menulis bahwa kalangan ahli takwil memaknai istawa sebagai al-Qahru atau penguasaan mutlak yang tanpa perlu didahului perang atau penaklukan sebelumnya. Ada juga yang meredaksikan makna ini dengan redaksi “istawla” atau “tadbir”. Ini hanyalah perbedaan redaksi semata tetapi maksudnya sama persis, yakni penguasaan mutlak. (bisa baca tulisan lama saya selengkapnya di sini: https://www.facebook.com/wahabjember/posts/10204164109339156 ). Kurang kerjaan apabila kita mempermasalahkan redaksi semata tetapi mengabaikan makna yang dimaksud pengucap. Tanpa mengurangi rasa hormat, argumen kurang kerjaan seperti ini juga banyak kita termukan di kitab-kitab.

Sebenarnya apa yang salah dari makna ini? Tentu tidak ada yang salah sebab Allah memang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Namun makna ini akan terdengar aneh dan salah ketika diungkapkan dengan kalimat “berarti kalau demikian Allah juga istawa atas tempat sampah”. Saya tak habis pikir bagaimana bisa para ulama yang hebat-hebat itu berargumen seperti ini? Saya tak mau sebut nama, tapi banyak sekali yang menggunakan argumen semacam ini untuk menolak makna penguasaan.

Kalau kita mau objektif, sebenarnya yang aneh dan salah dari kalimat “istawa atas tempat samlah” bukanlah makna penguasaannya, tetapi konotasi negatif dari tempat sampah itu sendiri. Semua tentang Allah memang akan jadi negatif kalau diucapkan dalam kontek yang berkonotasi negatif pula. Contoh:
1. Kita semua yakin bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Tak ada muslim yang tak mempercayai hal ini. Namun akan menjadi aneh dan terasa salah ketika kita bilang “berarti kotoran yang kau keluarkan ke toilet itu adalah ciptaan Allah juga?”. Kemahapenciptaan Allah dalam konteks ini jadi tidak enak didengar bukan?. Tapi bukan berarti kita menolak makna bahwa Allah yang menciptakan segalanya.
2. Kita semua yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, bila Allah tak berkehendak maka takkan terjadi. Semua mukmin mengimani hal ini. Namun, tetap terdengar seakan ada yang salah ketika ada yang mengatakan: “Berarti pembantaian kejam yang dilakukan para teroris itu juga atas kehendak Allah?”. Kesan salah ini bukan karena kejadian itu terjadi tanpa kehendak Allah, tetapi karena membawa-bawa nama agung Allah untuk suatu tindakan terkutuk yang dilakukan manusia.

Demikianlah seharusnya kita memperlakukan makna istawa sebagai penguasaan mutlak Allah atas Arasy. Tak ada yang sesat dari makna ini sebab faktanya memang demikia. Kesan negatif seolah makna ini salah hanya muncul ketika kita mengubah konteks penguasaan yang seharusnya agung menjadi konteks penguasaan kecil yang remeh temeh yang tak layak disandarkan kepada Allah.

Sebenarnya, gugatan dengan cara memberikan konteks negatif ini mudah dipatahkan dengan logika sederhana; Kita tinggal bilang pada penggugat: “berarti anda mengatakan bahwa Allah tidak berkuasa atas Arasy?” atau “kalau anda menolak makna berkuasa atas tempat sampah, berarti anda mengatakan bahwa kekuasaan Allah tidak menjangkau tempat sampah?”. Tentu penggugat tadi takkan bisa menjawab gugatan balik ini.

Ini adalah bukti bahwa para ulama hebat di masa emas itu juga manusia biasa seperti orang lain, adakalanya mereka juga salah paham sehingga mengucapkan rasionalisasi yang tidak tepat. Ini hal sederhana yang sebenarnya mudah dipahami, namun kadang tetap saja di antara kita ada yang menolak untuk paham.

Lalu apa istimewanya menyebut Arasy kalau maknanya demikian? Itu adalah simbol penguasaan mutlak terhadap segala sesuatu. Bila Arasy yang ukurannya maha besar itu saja dikuasai secara mutlak, maka apalagi yang lain yang ukurannya jauuuuuhhhhh lebih kecil dan lebih sepele. Sama seperti ketika kita bilang bahwa Jokowi menguasai Indonesia, maka apalagi cuma kampung kecil di dalamnya.

Mungkin di antara pembaca ada yang berkata bahwa perkataan Abdul Wahab Ahmad ini tak sama dengan perkataan ulama A, B, C yang menganggap sesat pemaknaan istawa sebagai menguasai. So what? Mereka tidak maksum bukan? Mulai kapan Nabi bersabda bahwa ayat atau hadisnya harus di tafsirkan sama persis seperti perkataan ulama A, B, C itu dan bukan seperti tafsiran ulama D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N? Sempit sekali cara berpikir yang demikian. Saya sendiri tak memilih arti menguasai ini sebab saya lebih suka tafwidh, tetapi saya enggan mengikuti qaul siapapun yang menganggap sesat takwil seperti ini. Tidak sama dengan pilihan pribadi bukan berarti sesat, itu kaidah universal yang tak boleh dilupakan.

Semoga bermanfaat.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204474301213759&id=1718970307