Ada seorang tokoh ulama di masa Imam Ahmad yang bernama Ishaq bin Buhlul. Dia membuat sebuah kitab fikih yang berisi beberapa pendapat ulama yang saling bertolak-belakang. Dia menamainya sebagai Kitab Ikhtilaf. Ketika kitab itu disodorkan pada Imam Ahmad, Beliau malah berkata: “Namai kitab itu sebagai kitab kelonggaran”

Begitulah Imam Ahmad memandang perbedaan pendapat perihal fikih sebagai kelonggaran, bukan sebagai konflik yang harus dipertentangkan, apalagi sebagai bahan pembid’ahan. Sayang sekali sekelompok orang yang mengaku sebagai pengikut Imam Ahmad malah tak paham bahwa perbedaan pendapat antar ulama itu lumrah. Pokoknya kalau beda dengan dirinya langsung dianggap bid’ah, sesat, tak layak diperhitungkan.