Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Sebenarnya saya sering menulis ini, baik di antara status panjang atau di kolom komentar. Tapi sepertinya perlu saya munculkan jadi status tersendiri sebab di bulan Rajab ini banyak sekali kawan yang menyebar meme perihal mi’raj dan menanyakan bagaimana pendapat saya terkait dengan itu yang dijadikan bukti bahwa Allah bertempat oleh segelintir orang. Penjelasannya seperti berikut:

Mi’raj adalah berangkatnya Nabi ke atas sidratul muntaha. Beliau menerima perintah shalat di sana. Tak ada penyebutan Arasy setahu saya. Kejadiannya sama dengan peristiwa ketika Nabi Musa mendapat perintah langsung di puncak gunung Tursina. ini semua berbicara tentang tempat hambanya menerima wahyu, bukan tempat Allah.

Nabi bolak balik dari tempatnya di atas sidratul muntaha ke tempatnya Nabi Musa di langit ke tujuh lalu ke atas lagi untuk memohon keringanan. Dalam riwayat-riwayat sahih kita dapati bahwa yang naik turun adalah Nabi Muhammad. Beliau naik ke tempat ia menerima wahyu dan turun ke tempat Nabi Musa lalu naik lagi ke tempat menerima wahyu sebelumnya dan itu terjadi berulang-ulang. Tempat yang kita bicarakan ini adalah tempat hambanya, bukan tempat Allah. Kalau Allah mau, Dia bisa memberikan wahyunya secara langsung di manapun hambanya berada seperti yang terjadi pada JIbril yang menerima wahyu dari Allah di mana pun ia berada secara langsung.

Sama sekali tak ada bahasan tentang tempat Allah dalam riwayat-riwayat itu kecuali dalam persangkaan orang yang gagal paham yang menyangka bahwa bagi Allah juga berlaku hukum alam sebagaimana kita kenal di dunia ini. Padahal Allah sendirilah yang menciptakan alam beserta seluruh hukumnya, tapi mereka yang gagal paham ini mewajibkan agar hukum alam itu juga berlaku pada Allah sendiri. Dalam benak mereka. kalau kita berbicara dengan seorang manusia pastilah berada di suatu tempat, maka kalau Allah berfirman pada hambanya juga disimpulkan Allah berada dalam suatu tempat. Tak pernahkah mereka membaca sekian banyak riwayat yang berisi tentang tempat Malaikat Jibril menerima wahyu di mana saja? Lalu apa yang mereka pikirkan tentang itu? Tak ingatkah bahwa Nabi Musa “bertemu” dan bercakap-cakap dengan Allah di gunung Tursina? maka apa yang bisa disimpulkan dari itu? Apakah berarti Allah sering berpindah tempat dari langit ke bumi dan muat di dalamnya?

Kita sendiri juga sering pergi masjid bolak-balik hanya untuk menyampaikan untaian doa yang kita panjatkan ke Allah. Bahkan banyak dari kita menabung supaya bisa bolak-balik ke Masjidil Haram untuk melakukannya. Apakah dari sini bisa disimpulkan bahwa kita meyakini bahwa Allah berada di masjid atau di ka’bah? Para pendaku salafi di masjid Nabawi pada sewot kalau ada jamaah yang berdoa ke Allah dalam keadaan menghadap ke makam Rasulullah sebab tak menghadap ke kiblat. Apakah ini berarti Allah berada di arah kiblat? Kita juga mengenal arti kata “mendekatkan diri ke Allah” (taqarrub) yang sama sekali tak bermakna mendekat secara fisik. Lalu kenapa dalam peristiwa mi’ra kata mendekatkan diri lantas berubah menjadi makna fisik? Sempit sekali pemahaman mereka ini.

Lalu untuk apa Nabi dipanggil ke langit? menurut ayat al-Qur’an isra’ itu untuk memperlihatkan sebagian ayatnya (linuriyahu min ayatina) sedangkan saat mi’raj ayat-ayat yang besar juga nampak (laqad ra’a min ayati rabbihil kubra). Ini penuturan al-Qur’an yang seharusnya kita terima bulat-bulat bahwa isra’ dan mi’raj itu hanya soal memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan membawa Nabi ke tempat Allah. Selain itu para ulama menunjukkan hikmah bahwa ini untuk menunjukkan keagungan shalat sehingga perintahnya diberikan di langit sana, bukan di bumi seperti perintah lainnya.

Mereka yang memaksakan diri barkata bahwa mi’raj adalah pembuktian keberadaan Allah secara fisik di langit mengalami kontradiksi parah dengan ucapan mereka sendiri. Di antara kontradiksinya adalah:

1. Katanya Allah selalu bersemayam di atas Arasy, di tempat tertinggi yang tak ada siapapun setinggi itu. Lalu mulai kapan Allah turun ke Sidratul Muntaha? Ataukah jangan-jangan Sidratul Muntaha adalah Arasy? Ataukah jangan-jangan info al-Qur’an dan hadis salah ketika menyebut Sidratul Muntaha?

2. Kalau dimaknai bahwa Nabi Muhammad menemui Allah di Arasy, maka bukankah itu berarti mengatakan bahwa ketinggian Allah bisa dicapai juga oleh makhluk? Lalu apa spesialnya sifat uluw yang biasa mereka maknai sebagai ketinggian fisik untuk Allah kalau toh akhirnya bisa disaingi oleh seorang manusia? Selain itu katanya Arasy di atas Air, apakah kata naik ke atas dalam peristiwa mi’raj berarti Nabi nyebrang melewati air bukan betul-betul ke atas?

3. Katanya lokasi Allah terpisah dari makhluknya (ba’inun min khalqihi) tapi kenapa dalam kasus mi’raj bilang berada dalam satu tempat dengan Nabi?

4. Katanya tempat Allah itu pada hakikatnya adalah tempat ketiadaan (al-makan al-‘adami) yang tak ada batasnya, tapi kenapa dalam kasus mi’raj bilang berada dalam satu tempat dengan Nabi? Apakah Nabi yang keberadaannya berbetuk fisik itu juga juga berada di al-Makan al-Adami itu?

5. Katanya Allah turun tiap sepertiga malam terakhir ke langit dunia (langit pertama) secara hakikat, lalu kenapa saat itu Allah ada di atas sana padahal di bumi sedang ada lokasi yang mengalami sepertiga malam terakhir? Memangnya Allah ada berapa? Kenapa tak menemui Allah di langit dunia saja kalau demikian?

Itulah sederet inkonsistensi mereka yang memahami peristiwa mi’raj dengan cara sederhana seperti pemahaman anak kecil itu. Silakan sanggah seluruh poin di atas kalau tidak sepakat. Jangan hanya mampu menyanggah satu dua saja dengan mengulang dalil yang kita sudah tahu semua bahwa itu maknanya bersayap sebab kalau hanya satu dua maka argumen saya takkan runtuh. Jangan juga membuang waktu saya dengan membawakan nukilan riwayat mi’raj yang meski sanadnya sahih tapi matannya bermasalah sebab bertentangan dengan nash al-Qur’an. Periksalah dulu kitab-kitab syarah hadis sebelum memenuhi kolom komentar dengan riwayat hadis. Dan tentu saja, janganlah berdalil dengan jurus pokoknya ikuti saja, pokoknya diam saja, dan pokoknya ini yang benar.

Semoga bermanfaat.