Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Ada orang yang dari cara bicaranya kita tahu bahwa dia memosisikan dirinya sebagai seorang intelektual, mujtahid, peneliti, orang alim atau apapun namanya. Tapi sayangnya intelektualitasnya palsu sebab cara pandangnya penuh standar ganda. Ciri khasnya adalah:

1. Mengatakan kebenaran pendapat orang lain sebagai relatif tetapi mengesankan kebenaran pendapatnya sebagai kemutlakan

2. Mengatakan siapapun tidak maksum (terjaga dari kesalahan) kecuali Rasulullah sehingga ucapannya bisa ditolak, tapi bertingkah seolah dirinya adalah duplikat Rasulullah yang maksum itu sehingga sesatlah semua yang menolak ucapannya

3. Ketika mendapati kelompok lain saling berbeda pendapat, maka dibilang semuanya salah sebab kita tak boleh berbeda pendapat dan pada hakikatnya perbedaan pendapat itu perpecahan, bukan rahmat. Tapi ketika orang di kelompoknya sendiri berbeda pendapat, maka bilang bahwa itulah rahmat.

4. Kalau orang lain berhujjah dengan menukiil ayat/hadis sahih, maka dia bilang kalau itu hanya pemahaman orang lain itu saja. Tapi ketika dia sendiri yang berhujjah dengan menukil ayat/hadis, maka dia bilang kalau itu adalah al-Qur’an/hadis itu sendiri.

5. Bertingkah seolah dirinya sudah di posisi benar sehingga selalu menuntut orang lain untuk membuktikan klaim kebenarannya. Sedangkan asumsinya bahwa dirinya sendiri sudah di posisi benar tak boleh dipertanyakan lagi oleh siapapun.