Oleh: Abdul Wahab Ahmad
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ [الزمر: 62]
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu”
Allah menciptakan Arasy, menciptakan ruang, menciptakan waktu dan menciptakan semua hal. Allah sudah ada dan sudah sempurna dengan seluruh sifat-Nya sebelum semua hal itu tercipta. Kesempurnaan Allah tak bertambah ketika Allah menciptakan ciptaan-Nya dan tak berkurang ketika ciptaan-Nya hancur.
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ [الانفطار: 8]
“Dalam bentuk apapun yang dikehendaki-Nya Dia menyusunmu”.
Allah adalah al-Mushawwir, Maha Pemberi Bentuk. Dialah yang menentukan seluruh bentuk yang ada di semesta alam. Dialah yang menentukan komposisi dan sifat semua susunan. Dia sendiri tak dibentuk oleh siapapun dan tak juga membentuk dirinya sendiri sebab Dia bukan susunan sehingga bisa dibentuk secara fisik.
وفَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ [آل عمران: 97]
“Sesungguhnya Allah Maha Tak Butuh dari seluruh alam”
Alam adalah segala sesuatu selain Allah. Allah tak butuh itu semua. Allah menciptakan ruang, waktu dan arah tapi tak butuh ketiganya untuk bersifat ada. Allah menciptakan itu semua tapi tak membutuhkan satu pun darinya. Bila kemuliaan Allah dicapai dengan berada di arah tertentu dan di tempat tertentu, maka berarti Allah kurang sempurna sebelum itu dan kembali kurang sempurna ketika keduanya tiada. Dengan kata lain, Allah butuh pada arah dan tempat tertentu untuk selalu sempurna dalam sifat-Nya.

لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ [الإخلاص: 4]
“Dan tak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya”.
Manusia dan hewan punya bentuk yang berbeda, tetapi keduanya setara sebagai makhluk hidup. Bumi dan Jupiter punya bentuk yang berbeda, tapi keduanya setara sebagai sebuah planet. Matahari dan VY Canis Majoris punya bentuk yang berbeda tetapi keduanya setara sebagai sebuah bintang. Dan, seluruh hal selain Allah adalah punya bentuk yang berbeda tetapi semuanya setara sebagai sebuah jisim. Allah sendiri tak setara dengan apapun, tidak dalam sisi apapun dan tidak dari perspektif manapun.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [الشورى: 11]
“Tak ada sesuatupun yang sama dengan Dia”
Bila seluruh alam punya kesamaan jenis, kesamaan struktur, kesamaan sifat, kesamaan hakikat, atau kesamaan apapun, maka Allah satu-satunya yang tak sama dengan apapun. Dia bukan dari jenis apapun yang dapat dibayangkan manusia. Tak ada yang dapat dibandingkan dengan-Nya, dibayangkan seperti-Nya atau dikiaskan dengan-Nya. Bila segala sesuatu selain Allah punya awalan, punya akhiran, mengalami perubahan, hidup dalam ruang yang lebih dulu ada dari wujudnya, punya batasan ukuran, dilihat dalam arah, berlaku hukum alam padanya, maka Allah tidak seperti semua itu.

Inilah patokan utama dalam akidah kita yang membedakannya dengan seluruh akidah manusia lain di planet ini. Dengan patokan ini, kita bisa membuktikan superioritas akidah kita atas lainnya. Dengannya, makna La Ilaha Illallah (Tiada yang berhak disembah/dipertuhankan selain Allah) menjadi terang benderang sebab selain Allah, sehebat apapun, sebesar apapun, setinggi apapun tempatnya adalah tak layak dituhankan. Di hadapan manusia yang cerdas, semua yang hebat itu hanya akan jadi objek penelitian yang menarik, bukan objek sesembahan.