Oleh : Abdullah Al Jirani

Harus kita akui, bahwa adab, merupakan salah satu persoalan yang masih kurang mendapatkan perhatian, baik dari sisi mempelajarinya, terlebih dalam mengaplikasikannya. Pengakuan kita kepada “As-Salafiyyah”, hal yang boleh-boleh saja. Namun, tentunya hal itu tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Kesesuaian dari sisi adab kepada “salafiyyah” itu sendiri harus terwujud dalam diri kita sekalian, agar kita tidak dinilai hanya sebagai “pendaku”.

Imam Al-Khathib Al-Baghdadi –rahimahullah- berkata :

وَقَدْ رَأَيْتُ خَلْقًا مِنْ أَهْلِ هَذَا الزَّمَانِ يَنْتَسِبُونَ إِلَى الْحَدِيثِ، وَيَعُدُّونَ أَنْفُسَهُمْ مِنْ أَهْلِهِ الْمُتَخَصِّصِينَ بِسَمَاعِهِ وَنَقْلِهِ، وَهُمْ أَبْعَدُ النَّاسِ مِمَّا يَدَّعُونَ، وَأَقَلُّهُمْ مَعْرِفَةً بِمَا إِلَيْهِ يَنْتَسِبُونَ، يَرَى الْوَاحِدُ مِنْهُمْ إِذَا كَتَبَ عَدَدًا قَلِيلًا مِنَ الْأَجْزَاءِ، وَاشْتَغَلَ بِالسَّمَاعِ بُرْهَةً يَسِيرَةً مِنَ الدَّهْرِ، أَنَّهُ صَاحِبُ حَدِيثٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ، وَلَمَّا يُجْهِدْ نَفْسَهُ وَيُتْعِبْهَا فِي طِلَابِهِ، وَلَا لَحِقَتْهُ مَشَقَّةُ الْحِفْظِ لِصُنُوفِهِ وَأَبْوَابِهِ

“Dan aku melihat sekelompok orang dari orang-orang yang hidup di zaman ini, mereka menasabkan diri kepada ilmu hadits dan mengelempokkan diri-diri mereka kepada ahlinya (ahli hadits) yang mengkhususkan diri dengan mendengar dan menukilnya, akan tetapi mereka manusia yang paling jauh dari apa yang mereka dakukan, paling sedikit pengetahuannya dengan apa yang mereka menasabkan diri kepadanya. Salah satu dari mereka, apabila menulis sedikit dari bagian-bagian (hadits) dan menyibukkan diri dengan mendengar(nya) dalam waktu sebentar saja dari suatu masa, maka dia seorang ahli hadits secara mutlak. Padahal dia belum berjihad dan belum mengikutkan jiwanya dalam mencari hadits, serta belum ada masyaqqoh (kesusahan) menghafal terhadap berbagai klasifikasi dan bab-babnya yang mengikutinya”.[ Al-Jami’ Li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ : 1/77 ].

Beliau juga berkata :

وَهُمْ مَعَ قِلَّةِ كُتُبِهِمْ لَهُ، وَعَدَمِ مَعْرِفَتِهِمْ بِهِ أَعْظَمُ النَّاسِ كِبْرًا، وَأَشَدُّ الْخَلْقِ تِيهًا وَعُجْبًا، لَا يُرَاعُونَ لِشَيْخٍ حُرْمَةً، وَلَا يُوجِبُونَ لِطَالِبٍ ذِمَّةً، يَخْرِقُونَ بِالرَّاوِينَ، وَيُعَنِّفُونَ عَلَى الْمُتَعَلِّمِينَ، خِلَافَ مَا يَقْتَضِيهِ الْعِلْمُ الَّذِي سَمِعُوهُ، وَضِدَّ الْوَاجِبِ مِمَّا يَلْزَمُهُمْ أَنْ يَفْعَلُوهُ

“Mereka, bersamaan sedikitnya buku-buku dan pengetahuan mereka kepadanya (ilmu hadits), merupakan manusia yang paling sombong, paling menyesatkan, dan paling angkuh. Tidak memperhatikan kehormatan seorang guru, tidak mengharuskan perlindungan (kehormatan) bagi seorang penuntut ilmu, mengoyak (kehormatan) para periwayat hadits, bersikap kasar kepada para pengajar, menyelisihi kandungan ilmu yang telah mereka dengar serta bertentangan dengan apa yang seharusnya mereka amalkan”.[ Al-Jami’ Li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ : 1/77].

Ini di zaman beliau, bagaimana seandainya beliau melihat fonemena di zaman kita sekarang ini ? apa kira-kira yang akan beliau ucapkan ? wallohu a’lam.

Ilmu tanpa adab itu buruk dan tidak akan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagaimana dinyatakan oleh imam Abu Zakariyya Yahya bin Muhammad Al-‘Anbari –rahimahullah- :

عِلْمٌ بِلَا أَدَبٍ كَنَارٍ بِلَا حَطَبٍ، وَأَدَبٌ بِلَا عِلْمٍ كَرُوحٍ بِلَا جِسْمٍ

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu (maksudnya : tidak bisa menyala-pentj). Dan adab tanpa ilmu seperti tubuh tanpa ruh”.

Bahkan para salaf shalih, jika berguru kepada seorang syaikh, dia lebih banyak mengambil adabnya daripada mengambil ilmunya. Diceritakan oleh Imam Abdullah bin Wahb –rahimahullah-(beliau salah satu murid Imam Malik) :

مَا تَعَلَّمْنَا مِنْ أَدَبِ مَالِكٍ أَكْثَرُ مِمَّا تَعَلَّمْنَا مِنْ عِلْمِهِ

“Persoalan adab yang kami pelajari dari Imam Malik bin Anas lebih banyak dari apa yang kami pelajari dari ilmunya”. [Siyar A’lamin Nubala’ : 8/113 ].

Semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita sekalian untuk meneladani adab dan akhlaq baginda Rosul –shollallahu ‘alaihi wa sallam- dan para ulama’ rabbani yang menjadi pewarisnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Ket. foto : Senja itu indah. Segala puji hanya untuk-Mu wahai Rabb semesta alam atas cipta-Mu yang sempurna tanpa cacat sedikitpun.