Oleh : Abdullah Al Jirani

Bagi masyarakat muslim di Indonesia, terkhusus di Jawa, buku RISALAH TUNTUNAN SHOLAT LENGKAP karya Drs. Mohc. Rifai -rahimahullah- merupakan buku yang sangat melegenda dan masyhur. Buku ini telah dicetak ulang puluhan kali semenjak diterbitkan. Dalam kata pengantarnya, buku ini selesai ditulis di Semarang tanggal 19 Dzulqo’dah 1396 H bertepatan dengan tanggal 10 Nopember 1976 M. Mungkin waktu itu diantara kita ada yang belum lahir. Kalaupun sudah lahir, masih unyu-unyu.

Di sisi orang awwam, kepopuleran buku ini mengalahkan buku SIFAT SHOLAT NABI karya Asy Syaikh Al Albani -rahimahullah-. Rata-rata orang yang akan belajar tentang tata cara sholat, akan menjatuhkan pilihan kepadanya. Termasuk saya pribadi waktu itu (kelas 4 SD).

Di mushola kampung saya, juga disediakan buku tersebut oleh takmir masjid yang terletak di rak lemari paling atas sebelah kanan. Bahkan masjid-masjid yang lainpun tidak mau ketingalan. Saat ortu saya mulai mendapatkan hidayah untuk mau menunaikan sholat, saya belikan juga buku tersebut. Namun sudah lupa harganya berapa waktu itu.

Buku tersebut sangat baik sistematika pemaparannya. Ringkas, bahasanya mudah, tidak terlalu meluas serta disertai cara membaca bahasa Arabnya. Kesimpulannya, secara umum buku ini bagus. Buku yang bagus tidaklah harus sempuran tanpa cacat dan salah. Karena itu hanya ada pada kitabullah ( Al Qur”an).

Walaupun penulisnya sangat lekat “aroma” NU-nya, khusus dalam pembahasan sholat, kami pribadi banyak sependapat dengan apa yang dipaparkan oleh penulis. Ada sedikit perbedaan itu wajar. Sebagai suatu hasil karya, merupakan hal yang sangat wajar jika masih ada kekurangan di sana-sini. Jangankan buku ini, kitab AL MUWATHO’ karya Imam Malik bin Anas saja, dikritisi oleh Imam Asy Syafi’i.

Kalau kita menilai sebuah buku karya manusia itu bagus jika tanpa ada kesalahan atau kekurangan sama sekali, itu mustahil untuk ada. Sesuatu yang baik adalah sesuatu yang kebaikannya lebih dominan dari kekurangan.

Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata tentang orang yang adil/baik adalah :

من كان خيره أكثر من شره

“Orang yang kebaikannya lebih dominan/banyak dari kejelekannya”.

Oleh karena itu, sangat tidak pantas jika kita mencela karya orang lain yang banyak memberikan manfaat, sementara kita sendiri belum bisa berbuat semisalnya. Bahkan seperempat-nya pun belum.

Menilai sesuatu itu harus obyektif, supaya mengeluarkan hasil yang adil. Karena kalau subyektif, hanya akan mengiring kita kepada hasil yang dzolim. Alloh berfirman :

إن الله يأمر بالعدل

“Sesungguhnya Alloh memerintahkan untuk berbuat adil”.

Semoga Alloh memberikan balasan kebaikan kepada penulisnya dan menjadikannya sebagai amal jariyyah baginya. Terima kasih Ustadz Drs.Moch. Rifa’i yang telah mengajari kami tata cara sholat lewat karya anda. Dengan perantara buku anda kami tahu dan bisa. Al hamdulillah Rabbil ‘Alamin.

———•••——-