Oleh: Abdullah Al-Jirani Abu Anas

Imam Abdu bin Humaid –rahimahullah- (wafat : 249 H) telah meriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiallohu ‘anhu- beliau berkata :

نا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثَنَا الْحَارِثُ بْنُ عُبَيْدٍ، ثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَا فُلَانُ، فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟» قَالَ: لَا، وَالَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مَا فَعَلْتُ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْلَمُ أَنَّهُ فَعَلَهُ فَكَرَّرَ ذَلِكَ عَلَيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ، كُلُّ ذَلِكَ يَحْلِفُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ فَعَلَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَفَّرَ اللَّهُ عَنْكَ كَذِبَكَ بِصِدْقِكَ، بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»

“Sesungguhnya Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- berkata : “Wahai si anu ! engkau melakukan perbuatan ini dan ini ?”(berupa kemaksiatan). Orang tersebut menjawab : “Tidak, Demi Dzat yang LA ILAHA ILLAHU (tidak ada sesembahan kecuali Dia), aku tidak melakukannya”. Padahal Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- mengetahui bahwasanya dia melakukannya. Nabi sampai mengulang pertanyaannya tiga kali kepada laki-laki tersebut. Dan setiap ditanya, orang tersebut (mengingkarinya) dengan sumpah, padahal nabi tahu bahwa orang itu melakukannya. Maka Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- akhirnya berkata : “Alloh telah mengampuni kebohonganmu dengan pembenaranmu terhadap kalimat LA ILAHA ILLALLOH (tidak ada sesembahan kecuali Alloh)”. [Musnad Abdu bin Humaid : 137 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohihah : 3064 ].

Berbohong itu perbuatan dosa. Jika dilakukan kepada Nabi, maka dosanya lebih besar lagi. Mengimanai kalimat tauhid (LA ILAHA ILLALLOH) merupakan kebaikan terbesar. Tidak ada kebaikan yang melebih hal ini. Sebagaimana lawannya, yaitu kesyirikan merupakan keburukan terbesar,yang tidak ada keburukan yang lebih besar darinya.

Dosa kebohongan yang dilakukan oleh laki-laki di dalam kisah di atas, telah diampuni dengan sebab pembenaraannya terhadap kalimat tauhid. Dia berbohong, akan tetapi diiringi sumpah dengan kalimat tauhid (LA ILALA ILLALLOH). Maka akhirnya Alloh mengampuni kebohongannya, dengan kalimat yang dia ucapkan setelahnya. Sungguh menakjubkan !

Siapapun yang telah masuk ke dalam Islam dengan mentauhidkan (mengesakan) Alloh Ta’ala, maka telah ada kebaikan terbesar di dalam dirinya. Dimana kemaksiatan selainnya akan sangat mungkin digugurkan dengan kebaikan kalimat tersebut. Alloh berfirman :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya berbagai kebaikan itu akan menghilangkan berbagai kejelekan”.[QS. Hud : 114].

Hal ini juga berlaku ketika kita menilai seseorang. Saat kebaikan lebih dominan pada dirinya dari kejelekan yang dia lakukan, maka dia diperlakukan sebagai orang yang baik. Orang baik itu bukan orang yang tidak punya kejelekan. Karena ini mustahil ada. Tapi orang baik itu, seorang yang kebaikannya lebih besar dari keburukannya.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=223507465087227&id=100022839249697