Imam Abul Fath Amir bin Naja bin Amir Al Arabi As Sawi -rahimahullah- bercerita : “Kala itu, di bulan Syawal tahun 545 H antara Dhuhur dan Ashar di Mekah, aku masuk ke masjidil Haram. Aku tidak mampu berdiri dan duduk dengan baik, karena kepalaku sangat pusing seolah bumi berputar. Akhirnya aku mencari tempat di sekitar Ka’bah untuk istirahat. Akupun istirahat dalam posisi terlentang dengan tangan di bawah pipiku…..sambil berfikir, aku berusaha untuk membuang rasa kantukku agar tidak tidur sehingga thoharohku (wudhuku)hilang (batal).

Namun tiba-tiba aku diserang rasa kantuk yang sangat kuat. Maka antara sadar dan tidak, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang yang sangat banyak, masing-masing mereka membawa buku berjilid-jilid berhalaqoh (mengerumuni) satu orang. Akupun bertanya kepada mereka :”Siapa yang di tengah itu ?”. Mereka menjawab : “Itu Rosulullah, sedangkan yang mengelilinginnya adalah para pemilik madzhab yang hendak membacakan kitab madzhabnya kepada beliau-shollallahu alaihi wa sallam- dan minta tashhih (pembenaran) dari beliau.

فبينا أنا كذلك أنظر إلى القوم إذ جاء واحد من أهل الحلقة وبيده كتاب قيل إن هذا هو الشافعي رضي الله عنه فدخل في وسط الحلقة وسلم على رسول الله صلى الله عليه وسلم .فرد عليه الجواب ورحب به وقعد الشافعي بين يديه وقرأ من الكتاب مذهبه واعتقاده عليه

Saat dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba aku melihat seorang muncul dari kerumunan itu menuju ke tengah mendekat kepada Rosulullah, dimana di tangannya ada sebuah buku. Dan dikatakan, ternyata orang tersebut adalah Imam Asy Syafi’i. Beliau mengucpkan salam kepada Rosulullah -shollallahu alaihinwa sallam- dan rosul pun membalasnya. Lalu Asy Syafi’i duduk dekat beliau dan membacakan berbagai pendapat dan keyakinannya dari buku tersebut kepada beliau-shollallahu alaihi wa sallam”.

[ diceritakan oleh Imam Tajuddin As-Subki -rahimahullah- (wafat : 771 H) dalam kitab “Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al Kubro” : 6/228 dengan sedikit diringkas dan penyesuaian ].

Catatan :

Telah diriwayatkan dari Abu Huroirah-rodhiallohu ‘anhu-, Rosulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

إذا اقترب الزمان لم تكد رؤيا المسلم تكذب ، وأصدقكم رؤيا أصدقكم حديثاً ، ورؤيا المسلم جزء من ستة وأربعين جزءاً من النبوة، والرؤيا ثلاثة فرؤيا الصالحة بشرى من الله…

“Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang Muslim yang tidak benar. Dan mimpi yang paling paling benar adalah mimpi yang selalu bicara benar. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari empat puluh enam macam dari Nubuwwah (wahyu). Mimpi dari seorang yang shalih, merupakan kabar gembira dari Alloh…..” [HR. Muslim : 2263 ].

(Abdullah Al Jirani)