Oleh : Abdullah Al Jirani

Jumhur ulama (mayoritas ulama), bahkan Imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas? Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hambal) telah sepakat akan keutamaan malam Nishfu Sya’ban dan anjuran untuk menghidupkannya.

Sebagian hadits dalam hal ini dipandang dhoif (lemah) oleh sebagian ulama’. Oleh karena itu sengaja tidak kami bawakan di sini. Akan tetapi, mengamalkan hadits dhoif dalam Fadoilul A’mal (keutamaan amalan-amalan) merupakan perkara yang diperbolehkan dengan dasar ijma’ulama sebagaimana dinukil oleh Imam An Nawawi -rahimahullah-.

Ini jika seluruh haditsnya dhoif. Ternyata ada hadits yang shohih dalam masalah ini sebagaimana diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal -radhiallohu ‘anhu- beliau berkata, Rosul -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang yang hatinya ada kebencian antar sesama umat Islam)”.

Hadits di atas diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalm Mu’jam Al Kabir : 16639, Ibnu Majah no : 1380 dan selain keduanya. Dan sanadnya SHOHIH.

Imam Al Haitsami -rahimahullah- berkata :

ورجالهما ثقات

“Para rawi keduanya orang-orang kepercayaan”.[Majma’ Al Zawaid : 3/395].

Asy-Syekh Al-Albani -rahimahullah- berkata:

حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ ، رُوِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنْ طُرُقٍ مُخْتَلِفَةٍ يَشُدُّ بَعْضُهَا بَعْضًا وَهُمْ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَبُوْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِي وَعَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو وَأَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِي وَأَبُوْ هُرَيْرَةَ وَأَبُوْ بَكْرِ الصِّدِّيْقُ وَعَوْفُ بْنُ مَالِكٍ وَعَائِشَةُ .

“Ini hadits shohih. Diriwayatkan dari banyak sahabat dengan jalur riwayat yang berbeda-beda, yang saling menguatkan. Mereka adalah Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah al-Khusyani, Abdullah bin Amr, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar ash-Shiddiq, Auf bin Malik dan Aisyah”. [Silsilah Shahihah : 3/135].

Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata :

إن دعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الاضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان (الأم :1264-

“Sesungguhnya do’a dikabulkan di lima malam : di malam Jum’at, di malam Idul Adha, di malam Idul Fitri, di awal malam dari bulan Rajab, dan malam Nishfu Sya’ban”. [ Al Umm : 1264 ].

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata :

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا (الفتاوى الكبرى 5344/))

“Adapun malam Nishfu Sya’ban di dalamnya ada keutamaan. Dan di kalangan salaf, ada seorang yang sholat di dalamnya”. [ Fatawa Al Kubro : /5344].

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -rahimahullah- berkata :

ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان روي في فضلها أحاديث ومن السلف من يخصها بالقيام ومن العلماء من السلف وغيرهم من أنكر فضلها وطعن في الأحاديث الواردة فيها، لكن الذي عليه كثير من أهل العلم أو أكثرهم على تفضيلها (مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين: 7| 156)

“Termasuk dalam bab ini, masalah malam Nishfu Sya’ban. Telah diriwayatkan beberapa hadits dalam hal keutamaannya. Sebagian ulama dari kalangan salaf mengingkari keutamaannya dan mencela hadits-hadits yang datang dalam masalah tersebut. AKAN TETAPI, yang merupakan PENDAPAT MAYORITAS ULAMA, menetapkan akan keutamaannya”. [ Majmu’ Fatawa : 7/156 ].

Asy-syaikh Wabah Az Zuhaili -hafidzohullah- berkata :

و يندب إحياء ليلة النصف من شعبان، ويكون بكل عبادة تعم الليل أو أكثره، للأحاديث الصحيحة الثابتة في ذلك، ويندب الإكثار من الاستغفار بالأسحار (الفقه الإسلامي وأدلته : 2|299)

“Dianjurkan untuk menghidupkan untuk menghidupakan malam Nishfu Sya’ban dengan segala ibadah yang meliputi seluruh malamnya atau kebanyakkannya berdasarkan hadits-hadits yang shohih dalam masalah tersebut dan dianjurkan untuk memperbanyak istighfar di waktu sahur”. [ Fiqhu Islami wa Adilatuhu : 2/299 ].

Keutamaan malam Nishfu Sya’ban dan anjuran untuk menghidupkannya merupakan pendapat dari madzhab yang empat. Imam Al Qorofi -rahimahullah- berkata :

من خالف المذاهب الأربعة كمخالف الإجماع

“Siapa yang menyelisihi madzhab yang empat, seperti menyelisihi ijma'(konsensus ulama)”.

Demikian tulisan singkat dalam masalah ini. Semoga bermanfaat. Barokallohu fiikum.