(Penjelasan atas sebagian pertanyaan pada status sebelumnya yang berjudul “MENGERASKAN SUARA DZIKIR SETELAH SHOLAT WAJIB, BERDOSA ?”)

Oleh : Abdullah Al-jirani

Benarkah Jumhur ulama’ melarang (dalam arti mengharamkan atau membid’ahkan ) mengeraskan suara dzikir setelah sholat wajbi ? Hal ini perlu kita teliti secara seksama agar tidak terjadi kesalahan atau gagal paham. Agar kita bisa mengambil kesimpulan yang tepat, mari kita lihat pernyataan Imam An-Nawawi –rahimahullah- dalam masalah ini. Beliau –rahimahullah- mengatakan :

هَذَا دَلِيلٌ لِمَا قَالَهُ بَعْضُ السَّلَفِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيرِ وَالذِّكْرِ عَقِبَ الْمَكْتُوبَةِ…ونقل بن بَطَّالٍ وَآخَرُونَ أَنَّ أَصْحَابَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوعَةِ وَغَيْرَهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى عَدَمِ اسْتِحْبَابِ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ وَالتَّكْبِيرِ

“Hadits ini sebagai dalil terhadap apa yang telah dinyatakan oleh sebagaian salaf, sesungguhnya DIANJURKAN untuk mengeraskan suara takbir dan dzikir setelah sholat wajib…Ibnu Bathol dan yang lainnya menukil dari para ulama’ madzhab yang diikuti dan selain mereka, telah sepakat TIDAK ADA ANJURAN untuk mengeraskan suara dzikir dan takbir…” [ Syarh Shohih Muslim : 5/84 ].

Jika kita memperhatikan ucapan Imam An-Nawawi –rahimahullah-, beliau hanya menyatakan bahwa pendapat jumhur TIDAK ADA ANJURAN. Kalimat ini justru menunjukkan, bahwa jumhur membolehkan hal itu, namun tidak menganjurkan. Karena Imam An-Nawawi ketika menyebutkan dua pendapat di atas, dalam konteks menyebutkan dua pendapat yang sama-sama membolehkan, hanya perbedaannya DIANJURKAN ATAU TIDAK. Membolehkan, tidak harus menganjurkan. Dan tidak menganjurkan, tidak berarti melarang (dalam arti mengharamkan atau membid’ahkan).

Saya pribadi sampai hari ini, tidak menemukan seorangpun ulama’ salaf yang mu’tabar (termasuk di dalamnya Jumhur) yang mengharamkan atau membid’ahkan mengeraskan suara dzikir setelah sholat fardhu.

Sehingga perputaran masalah yang ada, hanyalah pada dianjurkan atau tidak dianjurkan. Bukan antara halal dan haram, atau sunnah dan bid’ah. Oleh karena itu, jika dikatakan pendapat jumhur membolehkan mengeraskan suara dzikir setelah sholat, tidak salah. Hanya saja tidak dianjurkan. Sesuatu yang boleh belum tentu dianjurkan untuk dilakukan. Walaupun di dalam kondisi-kondisi tertentu, bisa saja menjadi dianjurkan. Seperti ketika ada hajat (kebutuhan terhadapnya), contoh untuk pengajaran atau hajat yang lainnya.

Penjelasan di atas akan bisa ketemu dengan pendapat Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah-. Kalau kita teliti, pernyataan imam Asy-Syafi’i juga tidak mengharamkan atau tidak membid’ahkan mengeraskan suara dzikir setelah sholat fardhu. Perhatikan ucapan beliau –rahimahullah- :

وَأَخْتَارُ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ مِنْ الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ مِنْهُ فَيَجْهَرَ

“Aku MEMILIH untuk imam dan makmun agar berdzikir kepada Alloh setelah selesai dari sholat dan merendahkan/tidak mengeraskan suara dzikir, kecuali dia seorang imam yang harus untuk mengajari dzikir tersebut (kepada makmum), maka hendaknya dia mengeraskan (suara dzikirnya)”. [ Al-Umm : 151 ].

Kalimat Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah- “Aku memilih….”, menunjukkan bahwa masalah mengeraskan suara dzikir setelah sholat fardhu, suatu masalah yang ada keluasan di dalamnya. Suatu masalah yang di dalamnya ada ikhtiyar (pilihan). Boleh ini dan boleh itu. Bukan masalah antara haram dan halal, atau sunnah dan bid’ah. Pada akhirnya, ucapan Imam Asy-Syafi’i ini juga bermuara pada kesimpulan bahwa mengeraskan suarat dzikir setelah sholat fardhu adalah boleh. Namun beliau “memilih” bahwa hal itu khusus imam yang hendak mengajari makmumnya. Tapi pendapat yang tidak beliau pilih, bukanlah pendapat yang haram atau bid’ah.

Saya pribadi sampai hari ini juga belum mendapatkan pernyataan imam Asy-Syafi’i yang secara tegas mengharamkan atau membid’ahkan mengeraskan suara dzikir setelah sholat fardhu.

Pengajaran, termasuk salah satu bentuk hajat (kebutuhan) dari hajat-hajat yang ada untuk diperbolehkannya mengeraskan suara dzikir setelah sholat fardhu (menurut Imam Asy-Syafi’i). Namun bukan satu-satunya. Kemudian, hajat akan berbeda-beda dengan perbedaan waktu, tempat, keadaan dan orang.

Jika kita melihat empat hal di atas (waktu, tempat, keadaan dan kondisi manusia), sangat mungkin akan didapatkan hajat lain yang semakna dengan pengajaran. Dan dalam hal ini memakai metode qiyas. Kalau kita cermati masyarakat awam yang ada di negeri ini, memang sangat awam dengan perkara agama mereka, terkhusus sholat. Ditambah kondisi masyarakat muslimin yang mulai terjauhkan dari agamanya oleh kesibukan duniawi. Belum lagi kecenderungan mereka yang sulit untuk berdzikir setelah sholat. Hal-hal seperti ini sangat jelas termasuk hajat yang dibolehkan oleh Imam Asy-Syafi’i.

Oleh karena itu, Syaikh Dr. Mushthofa Dib Bugho menyatakan : “Jika yang dimaksud adalah untuk keperluan pengajaran, sebagaimana kata Imam Asy-Syafi’i, maka kebutuhan untuk mengajari itu selalu ada, terutama di zaman kita yang banyak didapati kelalaian dan ketergesa-gesaan orang-orang setelah sholat untuk keluar masjid demi kesibukan dunia”. [Tanwirul Masalik : Kitab Sholat hal : 123 ].

Sehingga perbedaan dalam masalah ini, hanya antara dianjurkan atau tidak. Atau mana yang lebih afdhol saja. Akan tetapi, semuanya (baik yang menganjurkan atau tidak) sepakat bahwa hal itu tidak keluar dari hukum boleh.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali -rahimahullah-juga memandang bahwa dalam masalah ini hanya perbedaan mana yang lebih afdhol. Beliau berkata :

و دل حديث ابن عباس على رفع الصوت بالتكبير عقب الصلاة المفروضة . وقد ذهب إليه أهل الظاهر.و حكي عن أكثر العلماء خلاف ذلك. و أن الأفضل الإسرار بالذكر

“Hadits Ibnu Abbas menunjukkan bolehnya mengeraskan suara takbir setelah sholat wajib. Ini pendapat ahli dzohir. Dan telah dihikayatkan dari mayoritas ulama pendapat yang berbeda dengan hal itu. Bahwa YANG LEBIH AFDHOL dzikir itu dipelankan.” [Fathul Bari : 7/398].

Kalau masalah mana yang lebih afdhol, maka Imam Al-Allamah Athohthowi –rahimahullah- menyatakan dalam masalah ini saat beliau mengkompromikan dalil-dalil dalam masalah ini :

إن ذلك يختلف بحسب الأشخاص و الأحوال و الأوقات و الأغراض.

“Sesungguhnya hal itu, akan berbeda-beda dengan perbedaan orang, keadaan, waktu dan tujuan.(terkadang lebih afdhol dikeraskan, dan terkadang lebih afdhol dipelankan).”[ Hasyiyah beliau terhadap Maroqil Falah Syarh Nurul Idhoh hal : 318 cet. Darul Kutub Ilmiyyah ].

Oleh karena perkaranya mubah (boleh), maka orang yang melakukannya tidak bisa dikatakan berdosa, dan ulama’ salaf yang menfatwakannya tidak boleh dikatakan syubhat. Suatu perbuatan dikatakan berdosa saat dilakukan, ketika perbuatan itu haram atau bid’ah. Makruh saja, pelakunya tidak mendapatkan dosa lho, apalagi mubah (boleh).

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa yang boleh dikeraskan hanya lafadz takbir saja, ini juga kurang tepat. Simak jawabannya pada artikel yang akan kami upload setelah ini dengan judul “TAKBIR ATAU ISTIGHFAR YANG DIUCAPKAN SETELAH SALAM ?”. Harap sabar,ya. Karena kalau kami cantumkan di sini, akan membuat artikel ini semakin panjang. Dan itu memberatkan pembaca. Barokallahu fiikum.

Semoga artikel ini bisa memberikan manfaat untuk kita sekalian. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Catatan :

Amaliah kami sehari-hari, tidak mengeraskan suara dzikir setelah sholat wajib. Dan ini hukumnya boleh. Akan tetapi kami tidak akan menyatakan bahwa orang yang mengeraskannya telah sesat atau sebagai ahli bid’ah. Kami menyusun artikel ini dan artikel pada status sebelumnya, hanya ingin meluruskan pemikiran yang keliru dari sebagian pihak yang menyatakan bahwa mengeraskan suara dzikir itu haram atau bid’ah dan pelakunya mendapatkan dosa.

Kami hanya ingin mengajak, marilah kita lebih bijaksana dan hikmah dalam menyikapi berbagai perbedaan dalam masaalah khilafiyyah.

Para ulama’ yang memperbolehkan mengeraskan suara dzikir setelah sholat wajib, juga tidak keluar dari madzhab Jumhur ulama’. (konsisten bersama jumhur). Simak artikel kami sebelumnya yang berjudul “MENGAPA MEMILIH MADZHAB JUMHUR ?