Oleh : Abdullah Al-Jirani

Jika ada pertanyaan seperti ini, maka jangan terburu untuk menjawabnya. Karena pertanyaan tersebut, walau sekilas teks-nya pertanyaan, namun konteks-nya penetapan hukum kepada orang-orang yang mengikuti para ulama’, sebagai orang yang tidak mengikuti dalil. Maka judul di atas diakhiri dengan dua tanda baca, satu : tanda tanya, dan kedua : tanya seru.

Sebuah pertanyaan yang memberi dua opsi (pilihan), dimana kita disuruh untuk memilih salah dari dua hal yang ditawarkan. Keduanya pilihan yang sangat delematis. Karena keduanya mengandung sebuah celah untuk kemudian disudutkan. Padahal, hakikatnya penanya hanya ingin mengiring kita agar memilik opsi pertama, yaitu dalil. Karena menurut mereka, pilihan kedua (ikut ulama’) itu buruk.

Pertanyaan di atas, biasanya diajukan oleh seorang yang tidak bertanggungjawab kepada orang lain yang punya pendapat lain dengan pendapatnya. Intinya, orang ini sangat yakin di atas kebenaran berdasarkan dalil, adapun siapa saja yang berbeda atau menyelisihi pendapatnya –walaupun mengikuti ulama’- maka dihukumi salah dan tidak mengikuti dalil. Inilah kejahilan versi zaman now yang demikian berkembang pesat di sebagian komunitas yang berintisab (menyandarkan diri) kepada generasi terbaik (baca : salaf shalih).

Dalil tidak bisa dipisahkan dari ulama’, dan ulama’ tidak dapat dipisahkan dari dalil. Untuk memahami dalil, kita sangat butuh kepada penjelasan para ulama, bahkan mustahil untuk lepas dari bimbingan mereka. Karena merekalah orang-orang yang memiliki piranti-piranti komplit untuk memahami dalil baik dari Al-Qur’an dan hadits dengan benar. Mulai dari hafalan Al-Qur’an, hafalan ribuan bahkan jutaan hadits, mengerti tentang ilmu ushul fiqh, mushtholah hadits, asbun nuzul ayat, asbabul wurud hadits, nasihkh mansukh, mutlak muqoyyad, dan seabrek piranti-piranti untuk berijtihad.

Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hambal –rahimahullah- (wafat : 241 H)berkata :

الحمد لله الذي جعل في كل زمان فترة من الرسل، بقايا من أهل العلم يدعون من ضل إلى الهدى، ويصبرون منهم على الأذى، يحيون بكتاب الله الموتى، ويبصرون بنور الله أهل العمى

“Segala puji bagi Alloh yang telah menjadikan sisa-sisa para ulama’ pada setiap zaman yang kosong dari para rosul. Mereka (para ulama’) menyeru orang yang sesat kepada petunjuk, menyabarkan mereka dari gangguan. Menghidupkan kitabullah yang telah mati. Menerangi orang-orang buta dengan cahaya Alloh…..” [ Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah : 55 ].

Maka pertanyaannya, apakah mungkin anda akan bisa memahami agama ini dengan benar tanpa melalui para ulama’ ?? jawab : tidak mungkin. Kalaupun anda nekat untuk memahami sendiri, sangat mungkin anda hanya akan tersesat, namun terus merasa di atas jalan yang benar.

Benar sekali yang dinyatakan oleh Sufyan bin Uyainah –rahimahullah- saat beliau berkata :

الحديث مضلة إلا للفقهاء

“Hadits nabi bisa menyesatkan, kecuali di sisi fuqoha’ (ahli fiqh/ulama’)”.

Artinya, seorang yang memahami hadits-hadits nabi (termasuk juga Al-Qur’an) sendiri, tanpa mau mengambil penjelasan dan bimbingan para ulama’, maka dia akan tersesat. Alloh sendiri telah memerintahkan kita sekalian untuk bertanya kepada ulama’ jika kita tidak tahu. Alloh berfirman :

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada ahlu dzikri (ulama’) jika kalian tidak tahu”.[ QS. An-Nahl : 43 ].

Dalam ayat lain, Alloh memerintahkan kepada kita untuk mengembalikan suatu kejadian besar kepada para ulama’. Alloh berfirman :

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu perkara dari keamanan atau rasa takut,mereka langsung menyebarkannya. Seandainya mereka kembalikan hal itu kepada Rosul dan ulil amri (ulama’) diantara mereka, maka orang-orang yang memetik hukum akan mengetahuinya. Seandainya bukan karena keutamaan Alloh kepada kalian dan rahmat-Nya, sungguh kalian akan mengikuti syetan kecuali sedikit”.[ QS. An-Nisa’ : 83 ].

Yang mewarisi ilmu nabi kita Muhammad –shollallahu ‘alaihi wa sallam- adalah para ulama’. Jadi, walaupun beliau telah meninggal dunia, masih ada penerusnya yang akan membimging umat Islam kepada kebenaran. Dan mereka adalah para ulama’ rabbani umat ini. Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Ulama’ pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.” [ HR. Abu Dawud : 3641 ].

Imam Ibnul Qoyyim –rahimahullah- berkata :

وَحَاجَةُ النَّاسِ إلَيْهِمْ أَعْظَمُ مِنْ حَاجَتِهِمْ إلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَطَاعَتُهُمْ أَفْرَضَ عَلَيْهِمْ مِنْ طَاعَةِ الْأُمَّهَاتِ وَالْآبَاءِ بِنَصِّ الْكِتَابِ

“Kebutuhan manusia kepada mereka (para ulama’) lebih besar dari kebutuhan mereka dari makan dan minum. Ketaatan manusia kepada mereka lebih wajib dari ketaatan para ibu dan bapak.” [ I’lamul Muwaqqi’in : 1/8 ].

Sifat takut kepada Alloh, salah satu ciri khas ulama’ Rabbani. Sifat inilah yang membawa mereka kepada sikap hati-hati dalam berbicara dalam urusan agama. Mereka tidak akan berpendapat, atau menyeluarkan suatu pernyataan, kecuali dilandaskan kepada dalil. Dan itulah asalnya. Dan hendaknya demikianlah prasangka kita kepada para ulama’ kita. Terlebih ulama’ salaf.

Maka jika anda harus menjawab pertanyaan di atas, jawablah : SAYA IKUT ULAMA’. Karena seorang yang mengikuti ulama’, secara otomatis dia mengikuti dalil. Sebab apa yang dinyatakan oleh ulama’ dilandasakan kepada dalil (walaupun mungkin anda tidak paham sisi istidlalnya atau tidak tahu dalilnya). Tapi seorang yang MENGIKUTI DALIL, belum tentu ikut ulama’. Karena dalil tidak akan bisa dipahami dengan baik dan benar, kecuali dengan bimbingan para ulama’.

Pertanyaan di atas dan yang semisalnya, secara tidak langsung merupakan celaan kepada para ulama’. Seolah, menurut penanya, ulama’ itu tidak mengikuti dalil dalam pendapat dan fatwa mereka. Karena menurut dia, hanya pendapatnyalah yang benar dan mengikuti dalil. Maka jika ada orang lain yang beda dengannya, dia pastikan salah dan tidak mengikuti dalil. Walaupun orang itu mengikuti ulama’ atau imam salaf. Bahkan walaupun mengikuti imam-imam besar, semisal Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal. Pokoknya salah !. Imam-Imam itu tidak ikut dali ! Demikian perkataan beraroma hinaan keji kepada para ulama’.

Benar sekali apa yang dinyatakan oleh Imam ahmad bin Hambal –rahimahullah- ketika beliau berkata :

فما أحسن أثرهم على الناس، وأقبح أثر الناس عليهم

“Alahkah bagusnya pengaruh para ulama’ kepada manusia. Tapi alangkah jeleknya pengaruh manusia kepada para ulama’”. [Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah : 55 ].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata :

كنتم خير الناس للناس، تأتون بهم في السلاسل حتى تدخلوهم الجنة، فيجاهدون لمنفعة الخلق وصلاحهم، وهم يكرهون ذلك لجهلهم

“Kalian (para ulama’) adalah sebaik-baik manusia untuk manusia. Kalian membawa mereka untuk masuk Surga. Maka mereka berjihad untuk memberi kemanfaatan dan kebaikan untuk manusia. Akan tetapi manuisa membenci hal itu karena kebodohan mereka.”[ Majmu’ Fatawa : 16/317 ].

Semoga Alloh senantiasa merahmati para ulama’ kita yang telah wafat, dan menjaga dari mereka yang masih hidup. Segala puji hanya bagi Alloh Rabb semesta alam.