Oleh : Abdullah Al Jirani

Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal serta sebagian salaf berpendapat, bahwa sholat malam –termasuk di dalamnya sholat tarawih – adalah dua dua, maksudnya dua rekaat salam, dua rekaat salam.

Mereka berdalil dengan hadits dari sahabat Abdullah bin Umar –rodhiallohu ‘anhu -, sesungguhnya Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

«صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ، صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى»

“Shalat malam dua-dua, jika salah seorang diantara kalian khawatir tibanya waktu shalat subuh, maka shalat witirlah satu raka’at untuk menutup sholat yang telah dia tunaikan.”. [ HR. Muslim : 749 ].

Maksud “dua dua”, dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali –rohimahullah- :

يعني: ركعتين ركعتين. والمراد: انه يسلم في كل ركعتين، وبذلك فسره ابن عمر.

“Maksudnya dua rekaat-dua rekaat. Artinya, sesungguhnya beliau –shollallahu ‘alaihi wa sallam- salam setiap dua rekaat. Demikianlah ditafsirkan oleh Ibnu Umar –rodhiallohu ‘anhu-. [ Fathul Bari : 9/97 ].

Al-Imam An-Nawawi –rohimahullah- berkata :

هَذَا الْحَدِيثُ مَحْمُولٌ عَلَى بَيَانِ الْأَفْضَلِ وَهُوَ أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَسَوَاءٌ نَوَافِلُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَلَوْ جَمَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ أَوْ تَطَوُّعَ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ جَازَ

“Hadits ini dibawa kepada kemungkinan penjelasan yang lebih afdhol. Yaitu, hendaknya seorang salam setiap dua rekaat. Baik sholat sunnah malam hari atau siang hari, dianjurkan untuk salam setiap dua rekaat. Seandainya seorang mengumpulkan beberapa rekaat dengan satu salam atau sholat sunnah dengan satu rekaat saja, maka hal itu boleh”. [ Syarah Shohih Muslim : 6/30 ].

Oleh karena itu, ketika jumhur menyatakan bahwa sholat malam itu setiap dua rekaat salam, maksudnya dianjurkan salam setiap dua rekaat, tidak sampai mewajibkan. Hal ini sebagai bukti, bolehnya untuk salam lebih dari dua rekaat, misal tiap empat rekaat atau lebih.

Al-Imam Abu Hanifah –rohimahullah- berpendapat, bahwa sholat malam itu ada keluasan. Boleh tiap dua rekaat salam, atau tiap empat rekaat, atau tiap enam rekaat, dan selanjutnya. Beliau –rohimahullah- berkata :

إن شئت ركعتين وإن شئت أربعاً وإن شئت ستاً وثمانياً لا تسلم إلا في آخرهن

“ Jika kamu ingin, sholat dua rekaat, dan jika ingin sholat empat rekaat, dan jika ingin enam dan delapan rekaat dalam kondisi kamu tidak salam kecuali di akhinya”. [ Al-Binayah Fi Syarhil Hidayah : 2/613 dan Al-Istidzkar : 5/237 ].

Pendapat ini berdalil dengan hadits dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa dia pernah bertanya kepada ‘Aisyah; “Bagaimanakah shalat (sunnah) Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pada bulan Ramadhan?” Aisyah menjawab :

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ قَالَ: «تَنَامُ عَيْنِي وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat sunnah baik ketika Ramadhan atau diluar ramadhan tak lebih dari sebelas rakaat, beliau mengerjakan empat rakaat, kamu tidak usah menanyakan kualitas dan panjangnya shalat beliau, setelah itu beliau mengerjakan empat rakaat, kamu tidak usah menanyakan kualitas dan panjangnya shalat beliau, kemudian beliau shalat tiga rakaat.” Aisyah berkata; lalu aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum witir? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, kedua mataku memang tidur, namun hatiku tidak.” [ HR. Al-Bukhari : 1147 dan Muslim : 738 ].

Makna yang langsung ditangkap dari kalimat Aisyah “beliau mengerjakan empat rekaat”, beliau sholat setiap empat rekaat salam. Inilah makna yang dzohir dari hadits di atas. Kita tidak boleh mengeluarkan suatu hadits dari maknanya yang dzohir kecuali dengan dalil lain yang secara jelas dan tegas menunjukkan kepada makna yang lain.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr –rohimahullah- ( wafat : 463 H ) berkata :

وَأَمَّا قَوْلُهُ يُصَلِّي أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَذَهَبَ قَوْمٌ (إِلَى) أَنَّ الْأَرْبَعَ لَمْ يَكُنْ بَيْنَهَا سَلَامٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ وَلَا جُلُوسٌ إِلَّا فِي آخِرِهَا

“Adapun ucapan beliau ( Aisyah ) : Beliau-shollallahu ‘alaihi wa sallam- sholat empat ( rekaat ), kemudian empat ( rekaat ), kemudian sholat ( witir ) tiga ( rekaat ), maka sebagian ulama’ berpendapat, sesungguhnya empat rekaat di sini tidak ada salam di antaranya (maksudnya : diantara dua rekaatnya, tapi salamnya di setiap akhir rekaat keempat). Sebagian ulama’ yang lain menyatakan tidak ada duduk kecuali di akhirnya”. [ At-Tamhid Lima Fil Muwaththo’ Minal Ma’ani Wal Masanid : 21/70 ].

Saya ( penulis ) berkata : Dan apa yang disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr –rohimahullah- dari sebagian ulama’ tersebut, sesuai dengan dzohir ( makna yang nampak ) dari hadits di atas. Dan ini yang sesuai dengan kaidah ilmu ushul.

Al-Imam An-Nawawi –rohimahullah- berkata ketika menjelaskan hadits Aisyah –rodhiallohu ‘anha- di atas :

وَأَنَّهُ يَجُوزُ جَمْعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ وَهَذَا لِبَيَانِ الْجَوَازِ وَإِلَّا فَالْأَفْضَلُ التَّسْلِيمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ فِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمْرِهِ بِصَلَاةِ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

“Sesungguhnya boleh untuk mengumpulkan beberapa rekaat dengan satu salam. Dan ini sebagai penjelasan akan bolehnya hal ini, walaupun yang lebih utama adalah dengan salam pada setiap dua rekaat. Ini yang masyhur dari perbuatan Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam- dan perintah beliau untuk sholat malam dua ( rekaat salam ) dua ( rekaat salam )”. [ Syarh Shohih Muslim : 6/20 ].

Al-Imam Ash-Shon’ani –rohimahullah- berkata :

(يُصَلِّي أَرْبَعًا) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٍ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٍ وَهُوَ بَعِيدٌ

“( Beliau sholat empat rekaat ) ada kemungkinan sesungguhnya empat rekaat ini bersambung, dan ini ( makna ) yang langsung dapat ditangkap. Ada kemungkian lain, sesungguhnya empat rekaat itu terpisah ( dengan salam pada tiap dua rekaat ) tapi ini kemungkinan yang jauh”. [ Subulus Salam : 1/348 ].

■Faidah :

Ucapan Aisyah –rodhiallohu ‘anha- : “kamu tidak usah menanyakan kualitas dan panjangnya shalat beliau”, maknanya sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi –rohimahullah- :

فِي نِهَايَةٍ مِنْ كَمَالِ الْحُسْنِ وَالطُّولِ مُسْتَغْنِيَاتٍ بِظُهُورِ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ عَنِ السُّؤَالِ عَنْهُ وَالْوَصْفِ

“( Maknanya ) pada puncak kesempurnaan kebaikan dan panjang yang tidak membutuhkan untuk ditanyakan dan disifatkan tentangnya karena kebaikan dan panjangnya sholat ( beliau ) sangat tampak jelas.” [ Syarh Shohih Muslim : 6/20 ].

Al-Imam Al-‘Iroqi –rohimahullah- ( wafat : 806 H ) berkata :

وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَكْثَرُونَ إلَى جَوَازِ الزِّيَادَةِ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَحَمَلُوا هَذَا الْحَدِيثَ عَلَى أَنَّهُ بَيَانٌ لِلْأَفْضَلِ لَا أَنَّ غَيْرَهُ مُمْتَنِعٌ

“Imam Asy-Syafi’i dan mayoritas ulama’ berpendapat, akan bolehnya lebih dari dua rekaat dalam sholat malam. Dan mereka membawa hadits ini kepada pejelasan sesuatu yang lebih utama bukan berarti yang selainnya tidak boleh”.[ Thorhut Tatsrib : 3/75 ].

Teranglah dari penjelasan di atas, sesungguhnya sholat tarawih dua-dua hukumnya bersifat anjuran saja, tidak sampai derajat wajib. Dan ini adalah cara yang paling sering dilakukan oleh Nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Akan tetapi beliau juga pernah melakukannya empat-empat. Ini menunjukkan bahwa hal ini juga cara yang boleh. Sehingga pada hakikatnya pendapat Al-Imam Abu Hanifah tidak bertentangan dengan para Imam yang lain. Bahkan hal ini termasuk bab tanawu’ul ibadah ( beraneka ragam cara dalam melaksanakan suatu ibadah ).

■Catatan :

Jika kita mendapati suatu masjid, masyarakatnya telah terbiasa dengan sholat tarawih empat-empat, maka menurut kami hal itu tidak perlu untuk kita paksakan dirubah. Karena amalaiah ini telah bersandar kepada dalil yang shohih serta memiliki panutan dari kalangan para imam. Khawatir akan terjadi sesuatu mudhorot dibelakangnya. Memaksakan sesuatu yang bersifat anjuran akan tetapi akan menimbulkan fitnah dan mudhorot di masyarakat merupakan perkara yang terlarang dalam agama kita.

Oleh karena itu, setiap diminta mengimami sholat tarawih di suatu masjid, biasanya kami bertanya dulu kebiasaan mereka seperti apa, 4-4 atau 2-2. Kalau 4-4, maka kami ikuti mereka.

Jika masjid terdekat dengan kita amaliahnya 4-4, maka sebaiknya kita juga sholat disitu untuk mempertautkan hati dan pendekatan kepada masyarakat sekitar kita. Agar terjalin hubungan yang baik yang sangat mungkin hal itu akan menjadi jalan kebaikan untuk kita dan mereka. Semoga Alloh menyatukan hati kaum muslimin.

“Mustahil untuk menyatukan pikir seluruh manusia, akan tetapi sangat mungkin untuk menyatukan hati mereka”.