(Kajian #AWAramadhan18 ke 4: Sifat Wujud)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Tuhan adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia di tiap era. Sejak awal mula, sejak era prasejarah, manusia telah sadar bahwa ada sesuatu di luar dirinya dan di luar segala yang ia lihat tetapi terlibat dalam segala kejadian; sesuatu yang besar, yang hebat, yang berperan di balik layat kehidupan. Kesadaran inilah yang dalam islam disebut sebagai fitrah.

Hanya saja ada manusia yang berhasil menemukan aktor inti dari semua kejadian ini, yakni Tuhan yang sebenarnya, yang hanya ada satu, yang kekuasaannya tak terbatas ruang dan waktu. Dan ada juga manusia yang hanya mampu menyadari “aktor kecil” berupa jin, roh, energi alam seperti energi matahari, sumberdaya alam seperti gunung, pohon, dan sebagainya yang akhirnya dengan salah mereka sembah. Sebagian lagi berusaha menolak dorongan kesadaran ini dan terus meyakinkan dirinya bahwa jagad raya dengan segala sistemnya yang luar biasa ini ada dengan sendirinya secara kebetulan. Mereka yang terakhir ini adalah orang-orang yang membohongi diri sendiri.

Bila kita melihat jagad raya ini, kita lihat semuanya punya garis merah yang sama, semua serba berubah. Tak ada yang tak berubah di jagad raya ini, bahkan hal yang kita sangka tak pernah berubahpun ternyata berubah dalam perjalanan waktu. Semua mengalami masa sebelum, sedang dan setelah. Semua berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Bila demikian, maka dengan pasti kita tahu bahwa segala di jagad raya ini punya permulaan. Kita tak tahu kapan tetangga kita dilahirkan, tapi kita tahu pasti bahwa dia punya tanggal lahir. Kita juga tak tahu kapan planet ini dan segala isinya diciptakan, tapi kita tahu dengan pasti bahwa ada awal mulanya. Demikian juga dengan seluruh bintang, planet, galaxy, atau apapun namanya, bagaimanapun bentuknya, kita tahu dengan pasti bahwa semuanya berawal dari sebuah titik yang mengubahnya dari tidak ada menjadi ada.

Segala yang ada di dunia ini juga punya sifat dan karakter khusus; Benda-benda besar di jagad raya mempunyai gaya tarik yang kita sebut gravitasi, api mempunyai karakter membakar, es mempunyai karakter dingin, batu mempunyai karakter keras dengan bentuk tertentu, gelombang punya karakter merambat dan menembus, air punya karakter cair, dan begitu juga pohon, udara, dan segala makhluk hidup punya karakternya masing-masing. Segala karakter inipun saling melengkapi dan membentuk sistem kehidupan yang saling menopang satu sama lain. Meski kita tak tahu dengan detail bagaimana semua itu terbentuk, tapi kita bisa memastikan bahwa seluruh sifat dan karakter itu dibentuk dan dirancang dengan penuh kesadaran oleh sesuatu di luar jangkauan kita sebab mustahil hal yang begitu rumit terjadi dengan sendirinya dan membentuk sistem yang begitu hebatnya.

Ketika melihat keberadaan dinding dari batu bata di tengah hutan, kita bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa dinding itu dirancang dan dibuat oleh suatu makhluk berkesadaran, bukan oleh angin, air, panas mentari, pohon-pohon atau gempa bumi. Padahal susunan dinding batu bata sangat sederhana, tetapi akal kita menolak ketika ada yang mengatakan bahwa dinding itu tercipta dengan sendirinya. Maka bagaimana mungkin kita sanggup mengatakan bahwa jadad raya ini ada dengan sendirinya?

Bila demikian, maka sampailah kita pada pertanyaan paling penting, siapakah aktor yang membuat semuanya ada dari tiada? Siapakah yang merancang dan membentuk seluruh karakter yang kita lihat di setiap hal di jagad raya ini? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Meskipun kita tak pernah melihatnya, tetapi kita tahu dengan pasti bahwa Tuhan itulah penyebab utama dari segala keberadaan di alam semesta. Keberadaannya adalah pasti dan tak bisa didebat lagi.

Keberadaan Tuhan inilah yang disebut para ulama sebagai “wajibul wujud”, keberadaan yang pasti, harus, dan tak bisa disangkal. Adapun keberadaan selain Tuhan sifatnya hanya “mumkinul wujud”, keberadaannya relatif dalam arti bisa saja ada dan boleh juga tidak ada. Tak ada alasan yang memastikan bahwa kita ini harus ada, planet ini harus ada dan segala hal di semesta harus ada. Tapi Tuhan harus ada sebab keberadaannya merupakan keniscayaan dari seluruh keberadaan hal lain yang sudah ada ini. Inilah yang membedakan antara keberadaan Tuhan dan keberadaan selain Tuhan. Meskipun semua sama-sama ada, tapi pada hakikatnya keberadaan keduanya berbeda jauh sekali.

Lalu siapa yang mencipta Tuhan dan memberikan karakter ketuhanan pada-Nya? Ini pertanyaan konyol yang hanya akan membuat lingkaran tak berujung. Ketika kita melihat orang lain, kita tahu bahwa dia punya bapak, bapaknya punya bapak dan demikian seterusnya tapi haruslah ada ujung dari semua rantai kebapakan itu di mana ujung rantai itu tak punya bapak lagi. Bapak paling tua itu yang lewat bocoran wahyu kita kenal sebagai Adam. Demikian juga seluruh hal lainnya harus punya ujung pertama di mana ujung pertama itu tak berasal dari apapun. Yang paling ujung dari semua penciptaan adalah Tuhan dan pastilah Tuhan itu sendiri tak diciptakan, tak dirancang, tak disusun, tak dibentuk dan memang sudah ada tanpa awal mula.

Penjelasan di atas adalah penjelasan universal yang dipahami seluruh manusia di manapun, apapun agamanya, apapun bangsanya. Ini adalah kebenaran rasional yang bisa diketahui oleh semua orang berakal. Dengan penjelasan semacam inilah para ulama kita berkomunikasi dengan semua orang dari semua penjuru dunia dengan seluruh latar belakang. Bahasa universal inilah yang dapat diyakini kebenarannya oleh seluruh manusia sebab bukan berdasarkan dogma atau klaim apapun.

Setelah poin keberadaan Tuhan ini dapat disetujui dan diyakini, barulah para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah itu perlu menjelaskan bahwa ada hal-hal yang tak bisa diketahui melalui akal saja. Kita tak bisa tahu siapa nama Tuhan itu, bagaimana seluruh sifat kesempurnaannya dan bagaimana kita harus memperlakukan-Nya hanya dengan berpikir saja. Pada point inilah kita mutlak butuh informasi dari wahyu dan dari wahyu itulah para ulama memberikan segala informasi yang dibutuhkan.

Adapun bagi seorang muslim, maka apakah dalilnya bahwa Allah itu ada? Seluruh al-Qur’an menjadi dalil akan keberadaan-Nya, bukan hanya ayat-ayat tertentu saja. Tetapi memang ada ayat yang secara spesifik menceritakan tentang keberadaan-Nya, misalnya:
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ … قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ [الرعد: 16]
“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. ….. Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Akan tetapi bagi non-Muslim, mereka tak percaya al-Qur’an atau risalah. Percuma saja menukil ayat al-Qur’an pada orang yang tak percaya. Sebab itulah yang bisa dinukil hanyalah ayat-ayat keagungan Tuhan di jagad raya ini (ayat-ayat kauniyah) seperti yang diisyaratkan oleh al-Qur’an:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ [البقرة: 164]
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) BAGI KAUM YANG BERPIKIR”.

Sayangnya, sebagian orang tertutupi rasa benci hingga tak bisa melihat bahwa seluruh penjelasan rasional Ulama Asy’ariyah-Mturidiyah itu hanyalah dalam rangka menjelaskan maksud ayat al-Baqarah 164 itu dan seabrek ayat lainnya tentang ayat-ayat kauniyah dengan cara yang mendetail. Mereka yang gagal paham itu kemudian mempersepsikan ulama Asy’ariyah-Maturidiyah sebagai ulama yang hanya berhujjah dengan akal atau hanya akal-akalan saja dalam membahas sifat Tuhan sebab tak menukil banyak ayat dan hadis seperti mereka. Dikiranya dalil itu hanya teks saja dan dikiranya semua orang percaya pada teks yang mereka yakini.

Tersisa persoalan lainnya, apakah wujud/keberadaan itu merupakan sifat dari sesuatu yang ada ataukan merupakan hal yang ada itu sendiri? Ini menjadi perbincangan menarik di kalangan ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah (Asy’ariyah). Imam Abu Hasan al-Asy’ari menganggap wujud bukanlah sebuah sifat melainkan sebagai hal yang ada itu sendiri (wujud Allah berarti Dzat Allah itu sendiri) sedangkan Imam al-Razi menganggapnya sebagai sebuah sifat bagi Dzat sebab beliau melihatnya sebagai sebuah status bagi Dzat, bukan Dzat itu sendiri. Sesuatu dibilang ada sebab statusnya ada dan dibilang tidak ada sebab tidak ada. Tapi ini perdebatan tak penting sehingga tak perlu dibahas panjang lebar. Perbedaan ini menjadi satu bukti lagi bahwa bermazhab Asy’ariyah bukan berarti membebek pada seluruh pendapat Imam Asy’ari hingga ke detailnya.

Karena pembahasan sifat wujud ini mengeni Dzat Tuhan itu sendiri, maka sifat wujud ini disebut juga sebagai sifat “nafsiyah”, yakni sifat yang menerangkan status diri Tuhan. Keberadaannya menjelaskan keberadaan diri Tuhan itu sendiri dan ketiadaannya menjelaskan ketiadaan diri Tuhan. Adapun sifat lainnya yang insya Allah akan kita bahas selanjutnya berbicara tentang makna tambahan di luar Dzat.

Sebagai Informasi, kata “Dzat” yang biasa dipakai ketika menyebut Tuhan itu sendiri maksudnya adalah diri atau eksistensi itu sendiri. Imam al-Jurjani menjelaskan:
التعريفات (ص: 107)
ذات الشيء: نفسه وعينه
“Dzat sesuatu: diri sesuatu itu dan eksistensinya”

Jadi ungkapan “Dzat Tuhan” maksudnya adalah diri atau eksistensi Tuhan. Ini perlu dicatat sebab ada sebagian orang indonesia mengira Dzat itu sama dengan Zat seperti dalam istilah fisika semisal zat cair, zat padat dan sebagainya. Ini kesalahpahaman yang fatal.

Masalah terakhir, apakah keberadaan sesuatu memastikan keberadaan tempat bagi sesuatu itu sehingga bisa kita simpukan bahwa segala yang ada pasti bertempat? Saya sudah membahasnya di artikel berikut:

Semoga bermanfaat.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204524735834593&id=1718970307