Oleh: Hidayat Nur

Bid’ah dibagi menjadi dua (2), yaitu bid’ah haqiqiyyah dan bid’ah idhafiyyah. Bid’ah haqiqiyyah adalah perkara baru yang tidak memiliki landasan dalil syar’i, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, ijma’ dan konsep istidlal yang muktabar menurut ahli ilmu, baik secara umum (ijmali) maupun terperinci (tafsili). Bid’ah haqiqiyyah ini tercela menurut kesepakatan ulama. Sedangkan bid’ah idhafiyyah adalah perkara atau amaliyyah yang dari satu sisi ia memiliki sandaran dalil, tapi dari sisi lain, misal bentuk dan kaifiyyah-nya, tidak memiliki dalil secara khusus, seperti membaca shalawat di sela-sela tarawih dan lain-lain. Dari sisi keumuman, bacaan shalawat memiliki dalil yang sangat banyak, tapi dari sisi dibaca atau ditempatkan di sela-sela tarawih ia tidak memiliki dalil landasan secara khusus. Bid’ah idhafiyyah ini masih diperselisihkan ulama; sebagaian kecil ulama menganggap bid’ah yang makruh (tak sampai level haram), dan mayoritas ulama menganggap sebagai bid’ah hasanah dan sebagai hujjahnya adalah amaliyyah-amaliyyah yang tidak memiliki dalil khusus tetapi dikerjakan oleh ulama-ulama salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. (Silahkan rujuk kitab “Iqamah al Hujjah ala Annal Iktsar min at-Ta’abbud Laisa bi Bid’ah” karangan Imam Abdul Hayyi al-Luknawi atau “al-Bid’ah al-Mahmudah wa al-Bid’ah al-Idhafiyyah” karangan Syaikh Abdul Fattah bin Qudaiys al-Yafi’i)

Ulama yang memperbolehkan mengamalkan bid’ah idhafiyyah dan menganggap sebagai bid’ah hasanah atau mahmudah (terpuji) memiliki syarat (agar tidak jatuh dalam makruh), yaitu perkara tersebut dikerjakan tidak dengan keyakinan sebagai sunnah tertentu dari Nabi, tetapi dikerjakan karena itu boleh dan baik, bukan sebagai sunnah Nabi secara khusus.

Terkait syarat melakukan bid’ah idhafiyyah di atas, Imam Ibn Hajar al-Haitami saat menjawab amaliyyah shalawat di sela-sela tarawih, berkata:

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج 1 / ص 186)
وَسُئِلَ فَسَّحَ اللَّهُ في مُدَّتِهِ هل تُسَنُّ الصَّلَاةُ عليه صلى اللَّهُ عليه وسلم بين تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أو هِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عنها فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ الصَّلَاةُ في هذا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ لم نَرَ شيئا في السُّنَّةِ وَلَا في كَلَامِ أَصْحَابِنَا فَهِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عنها من يَأْتِي بها بِقَصْدِ كَوْنِهَا سُنَّةً في هذا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ دُونَ من يَأْتِي بها لَا بهذا الْقَصْدِ كَأَنْ يَقْصِدَ أنها في كل وَقْتٍ سُنَّةٌ من حَيْثُ الْعُمُومُ بَلْ جاء في أَحَادِيثَ ما يُؤَيِّدُ الْخُصُوصَ إلَّا أَنَّهُ غَيْرُ كَافٍ في الدَّلَالَةِ لِذَلِكَ

“Ibn Hajar ditanya, apakah sunat membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara salam tarawih atau justru bid’ah yang dilarang? Beliau menjawab: “Shalawat di tempat ini secara khusus, aku tidak melihat dalilnya dari sunnah dan juga ucapan dari ashhab kami (Syafi’iyyah). Itu adalah bid’ah yang pelakunya di larang apabila bertujuan sebagai sunnah pada tempat itu secara khusus. Dan tidak di larang orang yang melakukan apabila tidak dengan tujuan seperti itu, seperti bermaksud bahwa shalawat tersebut sunnah dalam setiap waktu secara umum, bahkan datang dalam beberapa hadits yang menguatkan secara khusus, hanya saja tidak cukup sebagai dalil”.

Lalu haramkah ketika ada orang awam yang beranggapan sunnah secara khusus membaca shalawat antara salam tarawih? Tidak ada penjelasan ulama muktabar Ahlussunnah wal Jama’ah yang dengan sharih menyebut haram. Bahkan, dalam banyak kitab disebutkan hanya makruh (larangan tidak jazim) dan tidak sampai haram. Imam an-Nafrawi al-Maliki dalam “al-Fawakih ad-Dawani” berkata:

الفواكه الدواني – (ج 2 / ص 644)
وإلا كان من البدع الحسنة؛ لأن محل الكراهة إذا فعل على وجه أنه سنة عن النبي صلى الله عليه وسلم

“Jika tidak demikian, maka itu adalah bid’ah hasanah, karena yang dimakruhkan adalah jika dikerjakan dengan maksud bahwa itu sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Walhasil, membaca shalawat Nabi disela-sela tarawih adalah bid’ah hasanah bila tidak meyakini adanya anjuran khusus dari Nabi bahwa shalawat tersebut sunnah di baca di sela-sela tarawih. Adapun bila meyakini sebagai sunnah Nabi secara khusus, maka itu perbuatan makruh dan bisa dilarang. Dan mayoritas orang awam insha Allah tidak ada yang beranggapan seperti itu.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2033504243636410&id=100009305616246