(Tanggapan untuk postet terlampir)

Oleh : Abdullah Al Jirani

Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- (wafat : 676 H) berkata :

وَأَمَّا مَا أَعْتَادَهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَلَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ وَلَكِنْ لَا بَأْسَ بِهِ فَإِنَّ أَصْلَ الْمُصَافَحَةِ سُنَّةٌ وَكَوْنُهُمْ خَصُّوهَا بِبَعْضِ الْأَحْوَالِ وَفَرَّطُوا فِي أَكْثَرِهَا لَا يُخْرِجُ ذَلِكَ الْبَعْضَ عَنْ كَوْنِهِ مَشْرُوعَةً فِيهِ

“Adapun apa yang telah dijadikan adat/kebiasaan manusia berupa salaman setelah sholat Subuh dan Ashar, maka tidak ada asalnya (dalilnya) di dalam syari’at di atas bentuk yang seperti ini. Akan tetapi tidak mengapa (boleh). Sesungguhnya salaman, adalah perkara yang disunnahkan. Kondisi mereka mengkhususkannya di sebagian kondisi dan berlebih di kebanyakkannya, tidaklah sebagian itu mengeluarkan dari kedudukannya sebagai sesuatu yang disyari’atkan di dalamnya.” [ Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 4/634 ].

Seorang ulama salafy, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata :

وسئل فضيلة الشيخ: عن حكم المصافحة في المسجد حيث اعتاد كثير من الناس ذلك بعد الصلاة؟ فأجاب فضيلته قائلاً: هذه المصافحة لا أعلم لها أصلاً من السنة أو من فعل الصحابة – رضي الله عنهم – ولكن الإنسان إذا فعلها بعد الصلاة لا على سبيل أنها مشروعة، ولكن على سبيل التأليف والمودة، فأرجو أن لا يكون بهذا بأس، لأن الناس اعتادوا ذلك.أما من فعلها معتقداً بأنها سنة فهذا لا ينبغي ولا يجوز له، حتى يثبت أنها سنة، ولا أعلم أنها سنة.

Soal : “Asy-Syaikh yang mulia ditanya tentang hukum salaman di masjid setelah sholat dimana hal itu telah jadi adat kebanyakkan manusia ?”

Jawab : “Salaman ini, aku tidak mengetahui asalnya (dalilnya) dari sunnah atau dari perbuatan para sahabat –radhiallohu ‘anhum-. Akan tetapi, apabila manusia melakukannya setelah sholat tidak di atas keyakinan bahwa hal itu disyari’atkan, akan tetapi sebagai bentuk rasa kasih sayang dan kecintaan, maka aku berharap hal ini tidak mengapa (boleh). Karena manusia telah menjadikan hal itu sebagai adat (kebiasaan). Adapun jika seorang melakukannya dalam kondisi menyakini sesunggunya hal itu sunnah, maka ini tidak seyogyanya dan tidak boleh, sampai tetap sesungguhnya hal itu sunnah. Dan aku tidak mengetahui sesunggguhnya hal itu sunnah.”
[ Majmu’ Fatawa wa Rasail fadhilatusy syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah- : 13/287 no : 581]

Faidah dari ucapan Imam Nawawi dan Asy-Syaikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin -rahimahumallah- :

1]. Salaman, secara asal merupakan perkara yang disunnahkan dalam syariat Islam. Akan tetapi waktu pelaksanaannya bersifat mutlak (tidak ada ketentuan harus di waktu ini dan itu).

2]. Pengkhususan salaman di waktu-waktu tertentu, tidak merubah hukum salaman sebagai sesuatu yang disunnahkan. Termasuk pengkhususannya setelah shalat fardhu.

3]. Pengamalan salaman secara berlebih dalam waktu-waktu tertentu, tidak mengeluarkannya dari sesuatu yang disyariatkan.

4]. Salaman setelah shalat fardhu hukumnya disunnahkan (menurut Imam Nawawi) dan boleh (menurut asy syaikh Ibnu Utsaimin) untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan saling mencintai.

5]. Masalah salaman setelah shalat fardhu termasuk masalah adat kebiasaan saja. Jadi tidak harus ada contohnya dari nabi.

6]. Jika kita shalat di suatu masjid yang terbiasa dengan adat bersalaman setelahnya, seyogyanya kita tidak keluar dari adat tersebut. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Aqil Al-Hambali -rahimahullah- :

لا ينبغي الخروج من عادات الناس

“Tidak seyogyanya untuk keluar dari adat kebiasaan manusia.”(selama adat tersebut bukan perkara haram atau melanggar syariat-pent). [ Al-Adabusy Syar’iyyah : 2/47 ].

Saya pribadi, walaupun tidak mengamalkan hal ini, akan tetapi kalau sedang shalat di masjid yang terbiasa dengannya, maka saya tidak menolaknya.

Mengelompokkan masjid yang ada amaliah salaman setelah shalat fardhu sebagai masjid bid’ah, merupakan tindakan yang tidak tepat. Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata :

فالواجب على العالمين أن لا يقولوا إلا من حيث علموا, و قد تكلم في العلم من لو أمسك عن بعض ما تكلم فيه منه لكان الإمساك أولى به و أقرب من السلامة له, إن شاء الله”.الإمام الشافعي ((الرسالة))

Maka wajib bagi orang-orang yang berilmu untuk tidak mengatakan kecuali apa yang mereka ketahui. Dan sungguh seorang telah berbicara dalam masalah ilmu. (Dimana) seandainya orang tersebut menahan diri dari sebagian (ilmu tersebut), dia tidak akan berbicara di dalamnya, sunghuh menahan diri itu lebih utama darinya (berbicara) dan lebih selamat baginya -insya Allah-. [ Ar Risalah : 41 ].

Semoga Allah memberkan hidayah kepada kita sekalian.

اللهم اجعلنا من المنصفين العادلين.

(Bersambung…insya Allah)