Oleh: Muhammad Abduh Negara

Fiqih itu bukan apa kata ustadz fulan dan ustadz allan, tapi apa kata Imam Asy-Syafi’i atau Imam Abu Hanifah.

Taqlid dalam persoalan fiqih itu boleh hukumnya, tapi taqlidnya harus ke ulama mujtahidin, bukan ke penceramah.

Jika ada seorang ustadz/penceramah agama/muballigh menyatakan semisal, “Hukum perkara ini adalah haram”, atau “Hukum perkara ini adalah wajib”, dan seterusnya. Maka perlu kita lihat:

1. Jika ia nisbatkan pendapat itu pada salah satu madzhab yang mu’tabar atau pada pendapat mujtahidin yang mu’tabar, maka pernyataan ustadz tersebut bisa diikuti, karena ia hanya menyampaikan pendapat ulama yang mu’tabar (pendapatnya layak diikuti)

2. Jika ia tidak menisbatkan secara langsung, tapi ada qarinah bahwa itu pendapat salah satu madzhab atau mujtahidin yang mu’tabar, semisal karena ia sedang mengisi kajian fiqih madzhab tertentu, dan ia terbiasa hanya menyampaikan pendapat dari madzhab yang sedang ia jelaskan tersebut, maka itu sama seperti poin 1.

3. Jika sang ustadz hanya mengutip ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi, maka kita perlu tanyakan, itu pendapat ulama mujtahidin mana, atau pendapat madzhab apa. Apalagi jika sang ustadz langsung menyatakan, “Hukumnya ini dan itu”, tanpa menyebutkan dalil dan tak dinisbatkan pada pendapat ulama manapun, sangat perlu kita tanyakan, itu pendapat siapa.

4. Dalam persoalan kontemporer, minimal kita patut bertanya, siapa ulama yang masyhur keilmuannya, yang berpendapat seperti itu.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10211626740333522&id=1516640179