Oleh: Danang Kuncoro

Saya punya teman di kampus yang cukup saya kagumi, berinisial H. Menurut penuturannya sendiri, dia dulu pernah belajar di Ma’had Imam Bukhari lalu melanjutkan kuliah jenjang S.1 di Universitas Madinah jurusan Hadits. Sekarang melanjutkan S.2 di IAIN Surakarta program studi Tafsir dan Ilmu Al-Quran.

Uniknya, meskipun telah lama bergaul di lingkungan salafi, ia tetap mengikuti Madzhab Syafi’i. Bahkan, ia menegaskan bahwa untuk menjadi seorang salafi tidak harus bermadzhab Hambali sebagaimana para ulama di Arab Saudi. Dia juga mengkritisi sebagian orang yang mengaku sebagai salafi namun pada kenyataannya selalu merujuk kepada Tiga Orang: Syekh Al-Albani, Syekh Utsaimin dan Syekh Bin Baz. Seolah-olah salafi hanya bermuara kepada tiga orang tersebut. Fenomena yang cukup unik bagi saya, ada seorang salafi seperti ini.

Dia bercerita bahwa dirinya pernah ditegur oleh rekannya yang notabene salafi. Pasalnya, ketika duduk tasyahud dalam shalat dua rakaat ia bertawarruk, sebagaimana Madzhab Syafi’i.

“Mengapa anda duduknya sama seperti yang dilakukan masyarakat pada umumnya? Apakah karena kita dianjurkan untuk mengikuti kebiasaan masyarakat setempat?” tegur orang tersebut.

Teman saya yang berisial H tersebut menjelaskan bahwa sikap yang demikian bukan dalam rangka mengikuti masyarakat setempat. Permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyyah ijtihadiyyah. Terdapat dua pendapat yang sama-sama kuat yaitu pendapat Imam Syafi’i dan pendapat Imam Ahmad. Dalam hal ini ia mengatakan, “Saya lebih cenderung kepada pendapat Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu”. Ikhwah tersebut bertanya lagi, “Meskipun pendapat tersebut bertentangan dengan sunnah, ustadz?”

Sontak teman saya kaget dengan pertanyaan semacam itu. Ia bercerita, “Subhanallah!!, dalam permasalahan ini mengapa sampai-sampai ikhwah tersebut beranggapan bahwa pendapat Imam Syafi’i bertentangan dengan sunnah? Sunnah apa yang bertentangan dengan pendapat Imam Syafi’i? Apa patokan sebuah pendapat yang bertentangan dengan sunnah? Apakah setiap pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat Ustadz anda, anda katakan tidak sesuai dengan sunnah? Apakah jika seorang duduk tawarruk pada raka’at terakhir dalam shalat dua raka’at anda katakan bukan salafi, dan yang salafi adalah mereka yang duduk iftirasy?”

Dia juga mengatakan, “Sebagian ikhwah salafi memang berpatokan kepada Kitab Sifat Shalat Nabi karangan Syekh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Lantas apakah ketika seorang tidak mengikuti pendapat Syeikh Al-Albani rahimahullah di dalam Kitab Sifat Shalat Nabi-nya dikatakan bukan salafi?”

Ringkasnya, ia mengambil pendapat di atas karena berdasarkan Hadits Abu Humaid namun dari jalur lain yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i rahimahullah di dalam Kitabnya Al-Mujtaba atau yang lebih dikenal dengan Sunan Nasa’i Ash-Shughra. Dalam hadits tersebut Abu Humaid mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَنْقَضِي فِيهِمَا الصَّلاَةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ، وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ، ثُمَّ سَلَّمَ.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyelesaikan shalatnya dengan dua raka’at, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan duduk pada sisi bokongnya dengan cara tawarruk, kemudian beliau salam. [HR. Nasa’i, bab sifatil julus fir rak’atil llati yaqdhi fihas shalah]

Demikianlah, masih banyak orang yang beranggapan bahwa berbeda pendapat dengan mereka berarti tidak mengikuti sunnah.

Kisah ini saya dengarkan langsung darinya tadi pagi ketika berdiskusi di ruang kelas pada mata kuliah Ad-Dakhil fit Tafsir.

Wallahu a’lam bish showab.

https://m.facebook.com/groups/260134364005398?view=permalink&id=588161334536031

Koment tambahan:

Ada artikel menarik antara yg menguatkan pendapat Madzhab Syafi’i:

http://jalansunnah.wordpress.com/2009/12/07/cara-duduk-tasyahhud-akhir-dalam-setiap-sholat/

dan yg menguatkan pendapat madzhab Hanbali:

http://www.firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/55-cara-duduk-tasyahhud-terakhir-sholat-subuh

Koment tambahan:

Sufyan Ats-Tasuri, Said bin Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Umar bin Abdul Aziz, dll, mereka adalah para imam mujtahid mutlak yang madzhab mereka independen daripada madzhab-madzhab lain.

Sebenarnya tidak ada yang tidak bermadzhab di dunia ini. Bahkan sampai mereka yang mengaku tidak bermadzhab sekalipun, pada hakikatnya telah mendeklarasikan madzhab-madzhab baru yang independen dari madzhab lain. Syaikh Albani misalnya telah merintis madzhabnya sendiri dalam buku-bukunya seperti Shifat Shalat Nabi, Qiyam Ramadhan (Tarawih) dan lain sebagainya. Demikian pula para ulama semisal Asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar, Ash-Shan’ani dalam kitabnya Subulus Salam, dan lain-lain. Mereka semua pada hakikatnya telah merintis madzhab-madzhab baru. Hanya saja, sayangnya madzhab mereka belum dilayani oleh para pengikutnya sebaik dan selama Empat Madzhab yang telah eksis sejak ratusan tahun lalu itu.

Dan diakui atau tidak, mereka sebenarnya juga telah membatasi diri mereka sendiri dengan madzhab mereka masing-masing. Hanya saja, ada yang konsisten dalam bermadzhab dengan segala macam ushulnya, ada pula yang bermadzhab dengan ushul yang belum jelas.

Intinya, mujtahid (alim) tidak boleh taklid, dan muqallid (jahil) tidak boleh ijtihad.

‘Ajiib.. para imam yang secara teori menyerukan agar mengikuti dalil, dalam prakteknya tetap bermazhab, membatasi dirinya dengan satu madzhab tertentu. Lantas mengapa orang yang belum mencapai derajat mereka justru mengajak berlepas diri dari keterikatan terhadap satu madzhab tertentu? ‘Ajiib..

Koment tambahan:

Sepertinya tidak unik, karena banyak orang salafi yang saya kenal belajar fiqih melalui madzhab. banyak juga masyayikh salafiyah yang menganjurkan belajar fiqih melalui madzhab karena akan lebih sistematis. bedanya, orang salafi biasanya tidak mengurung diri dalam satu madzhab, tetapi menjadikannya sebagi wasilah untuk muqaranah madzhab dan menemukan hukum syar’i.

Makanya kaidahnya harus dipegang konsisten dari awal sampai akhir. Tidak mengurung diri dalam 1 madzhab juga harus berarti tidak emngurun diri dalam 1 tokoh kontemporer.

membatasi diri atau tidak, itu kaitannya dengan pendapat orang lain, bukan dengan pendapat sendiri. artinya ada orang yang membatasi pilihan fiqihnya hanya pada pendapat seorang imam/ulama/kelompok/buku tertentu dan tidak menerima pendapat yang tidak ada di situ. nah, ada pula orang yang tidak demikian, yaitu yg membuka diri untuk tdk hanya terkurung oleh fiqih madzhab tertentu.

adapun ttg pendapat sendiri, ya memang setiap orang otomatis akan terbatasi oleh pendapatnya sendiri, termasuk seorang muqallid yg otomatis terbatasi oleh pilihannya ttg siapa yg menurutnya tepat atau lebih tepat untuk ditaqlidi.

Syaikh Albani RH pernah mengatakan:

وهذا واجب كل طالب؛ أن يكون حنبليا مع طلب الدليل،وأن يكون حنفيا مع طلب الدليل، وأن يكون مالكيا مع طلب الدليل، وأن يكون شافعيا مع طلب الدليل … لكن إذا كنت حنبليا مقلدا تقليدا أعمى على خلاف الدليل هنا يأتي الانتقاد

Imam Izzuddin bin Abdis Salam RH justru mengatakan:

ومن العجب العجيب أنّ الفقهاء المقلّدين , يقف أحدهم على ضعف مأخذ إمامه بحيث لا يجد لضعفه مدفعا , ومع هذا يقلّده فيه , ويترك من الكتاب والسنّة والأقيسة الصحيحة لمذهبه جمودا على تقليد إمامه , بل يتحايل لدفع ظواهر الكتاب والسنّة ويتأوّلهما بالتأويلات البعيدة الباطلة نضالا عن مقلّده … فسبحان الله ما أكثر من أعمى التقليد بصره حتّى حمله على مثل ما ذكر , وفّقنا الله لإتّباع الحقّ أين ما كان وعلى لسان من ظهره ”

Bedakan antara membatasi diri utk hanya berafiliasi pada madzhab tertentu dg membatasi diri utk hanya menerima kebenaran dari madzhab tertentu. Yang tercela itu yang kedua.

Para ulama itu tidak kontradiksi kok..

“kapasitas” itu kaitannya dengan berijtihad & berfatwa, ada yg mampu dan ada yang tidak. kalau kaitannya dengan menerima kebenaran, itu urusan “keinginan”.

ketika orang alim tersebut mengkaji dan menemukan bahwa wudhu yg benar itu yg sesuai dgn madzhab A dan shalat yang benar itu yg sesuai dengan madzhab B, pada saat itu dia tidak mengurung diri utk hanya menerima kebenaran dari 1 madzhab. ia beribadah dengan cara yang menurutnya benar, tanpa peduli cara itu sesuai dengan madzhab A ataukah madzhab B. fenomena ini lebih tepat disebut sebagai “kombinasi kebenaran” (alih-alih “kombinasi madzhab”). tentunya kebenaran yang relatif dengan tingkat pengkajian sang alim tersebut.

adapun bagi orang awam, seandainya ia mengikuti pandangan orang alim itu dengan tetap membuka diri untuk siap menerima kebenaran dari orang alim yang lain, maka itu merupakan sikap yang tepat. ia beribadah sesuai dengan apa yang ia rasa lebih benar (sesuai batasan wawasannya) bukan sekadar karena mengikuti seseorang tertentu. maka ketika ia kemudian menemukan bahwa pendapat gurunya itu ternyata tidak kuat, ia pun dengan legowo akan menerima pandangan orang lain yang ia lihat lebih kuat.

tapi seandainya ia mengikuti pendapat orang alim tersebut dengan menutup diri dan menganggap bahwa semua kebenaran sudah tercakup dalam madzhab gurunya itu, maka pada saat itulah telah terjadi fanatisme dan taklid buta. pada saat orang awam ini nantinya naik tingkat, ia akan menjadi mutafaqqih fanatis seperti yang digambarkan oleh Izzuddin bin Abdis Salam. segala pendapat gurunya akan ia bela habis meskipun jelas-jelas lemah. nah, taklid buta inilah yang dilarang oleh para masyayikh.

dengan cara membandingkan. membandingkan lebih mudah daripada mencari. artinya ia membandingkan apakah pendapat gurunya itu dalilnya telah terbantahkan secara meyakinkan oleh dalil dari pendapat yang kedua ataukah tidak.

ini berlaku bagi seorang thalib, sebab ialah yang berkapasitas untuk mempelajari dalil-dalil dari suatu pendapat. kualitas pembandingan juga ditentukan oleh kualitas sang thalib. akan tetapi, atas rahmat-Nya Allah SWT memang tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya. dan memang tidak ada jalan lain selain itu.

adapun bagi orang yang betul-betul awam, maka ia tidak punya pilihan lain selain mengambil yang paling ahwath (paling aman), mengambil dari orang alim yang ia rasa paling wara’ (hati-hati), atau merujuk pada keyakinan hati (istafti qalbak!). wallahu a’lam.

Roy Anwar: ketika seorang thalib belajar pada gurunya, ia memang diharuskan untuk juga mengetahui apa dalil-dalil dari pendapat gurunya itu.. sebab fiqih itu definisinya “mengetahui hukum dengan dalilnya”. pada saat bertemu dengan pendapat yang berbeda, ia pun harus mempelajari apa saja dalil-dalil dari pendapat yang berbeda itu. sehingga ketika itu ia sudah mengetahui kedua pendapat lengkap dengan dalil-dalilnya. di situlah pembandingkan akan bisa dilakukan.

sudah tentu ada kemungkinan akan adanya dalil-dalil yang belum ditangkap oleh si murid. tapi ini berimbang. jika mungkin ada dalil2 dari pendapat A yang belum ia ketahui, maka mungkin pula ada dalil2 dari pendapat B yang belum ia ketahui. makanya setiap orang hanya tertuntut untuk menjatuhkan pilihan sesuai dengan data dan bahan2 yang telah ia terima.. sambil terus tak berhenti mempelajari lebih lanjut.

Mugi Paring Kertapati: Ibu Rajab RH menjelaskan:

وهذا إنَّما يكون إذا كان صاحبُه ممَّن شرح صدره بالإيمان، وكان المفتي يُفتي له بمجرَّد ظن أو ميلٍ إلى هوى من غير دليلٍ شرعيٍّ، فأمَّا ما كان مع المفتي به دليلٌ شرعيٌّ، فالواجب على المستفتي الرُّجوعُ إليه، وإنْ لم ينشرح له صدرُه، وهذا كالرخص الشرعية، مثل الفطر في السفر، والمرض، وقصر الصَّلاة في السَّفر، ونحو ذلك ممَّا لا ينشرحُ به صدور كثيرٍ مِنَ الجُهَّال، فهذا لا عبرةَ به.

وفي الجملة، فما ورد النصُّ به، فليس للمؤمن إلا طاعةُ الله ورسوله

وأما ما ليس فيه نصٌّ من الله ورسوله ولا عمَّن يقتدى بقوله من الصحابة وسلف الأمة، فإذا وقع في نفس المؤمن المطمئنِّ قلبه بالإيمان، المنشرح صدره بنور المعرفة واليقين منه شيءٌ، وحكَّ في صدره لشبهة موجودة، ولم يجد مَنْ يُفتي فيه بالرُّخصة إلاَّ من يخبر عن رأيه، وهو ممن لا يُوثَقُ بعلمه وبدينه، بل هو معروفٌ باتباع الهوى، فهنا يرجعُ المؤمن إلى ما حكَّ في صدره، وإنْ أفتاه هؤلاء المفتون

Muchammad Yanuary: //nah dasar pembandingan itu apa, dibandingkan berdasarkan apa dan kualitas sang thalib itu dinilai berdasarkan apa ??//

Dasar pembandingan adalah argumen/dalil; dibandingkan berdasarkan kekuatannya; dan kualitas thalib itu ukurannya sudah saya sebutkan, yaitu “yang berkapasitas untuk mempelajari dalil-dalil dari suatu pendapat”. Kalau belum punya kemampuan untuk mempelajari dalil maka tentu tidak bisa membandingkan.

//karena jika misalkan ada 2 pendapat dari dalil hadits kita bandingkan, ada ulama A yang mengatakan ini shahih, ulama B ini hasan, malah ada ulama C mengatakan ini dhaif…
nah ulama dg cara menilai hadits yg mana yg harus diikuti ?? alasannya apa ? parameternya apa ??//

Kalau pembandingannya itu antara pendapat yang mensahihkan dengan yang mendhaifkan ya dilihat apa dalil dari masing2 pendapat ini dan mana yang nampak lebih kuat. Pendapat yang ada dalilnya adalah lebih kuat daripada yang tidak ada dalilnya; Pendapat yang dalilnya qath’i adalah lebih kuat daripada yang dalilnya zhanni; Pendapat yang dalilnya istiqra’ adalah lebih kuat daripada yang dalilnya parsial; Pendapt yang dalilnya empiris adalah lebih kuat daripada yang dalilnya informatif; dan seterusnya sebagaimana dimaklumi dalam kaidah-kaidah tarjih.

//apalagi dalam masalah furu’, jelas banyak yang seperti ini, maka jika kita mengikuti salah satu penilaian mereka, berarti kita juga ber”taklid” pada penilaian mereka dlm hal hadits
dan jika kita mengikuti “sang thalib”, bukankah berarti juga “taklid” pada penilainnya//

“Taklid” itu kan “ikut tanpa dalil”. Kalau “ikut karena dalil” itu bukan “taklid”. Dengan kata lain, taklid itu mengikuti suatu pendapat hanya karena pendapat itu dikatakan oleh Imam A. Adapun kalau pendapat itu kita ikuti karena kita sudah merasa mantap dengan kebenarannya, maka itu bukan taklid.

Saya beri contoh biar jelas: Dalam kasus hadits Anas RA ttg Nabi qunut Shubuh sampai wafat, ada 2 pendapat antara yang mensahihkan dengan yang mendhaifkan. Misalnya yang mensahihkan berdalil bahwa ini riwayat Rabi’ bin Anas dari Abul ‘Aliyah dari Anas RA dan Rabi’ serta Abul ‘Aliyah adalah rawi tsiqah. Yang mendhaifkan berdalil bahwa yang meriwayatkannya dari Rabi’ adalah Abu Ja’far Ar-Razi dan beliau ini rawi dhaif.

Dari data ini seorang thalib bisa membandingkan, bahwa kedua pendapat sepakat soal ketsiqahan Rabi’ dan Abul ‘Aliyah sehingga untuk poin ini tidak perlu dibandingkan. Yang perlu dibandingkan adalah status Abu Ja’far. Dari data di atas, pendapat kedua mendhaifkan dengan argumen Abu Ja’far itu lemah sementara pendapat pertama tidak punya penjelasan untuk menjawab argumen ini.. maka sampai di sini yang kuat adalah pendapat yang kedua.

Kemudian ada data baru, bahwa menurut pendapat yang kedua Abu Ja’far juga rawi tsiqah, dengan pijakan ta’dil dari beberapa ulama. Tetapi ada data pula dari pendapat pertama, bahwa ta’dil tersebut masih bersifat umum atau baru menyentuh aspek ‘adalah, sementara tajrih yang ada menunjukkan bahwa Abu Ja’far ini lemah secara kedhabitan (hafalan).

Nah, dari data kedua ini kedua pendapat nampak sepakat bahwa Abu Ja’far itu rawi yang adil sehingga poin ini tidak perlu dibandingkan. Tetapi pendapat kedua berargumen bahwa secara hafalan Abu Ja’far lemah dan rawi yang adil masihlah belum tsiqah selama ia tidak dhabit. Di sisi lain, pendapat kedua tidak punya dalil (atau tidak punya penjelasan) untuk menjawab argumen ini. Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa ternyata pendapat yang pertama masih lebih kuat karena memang rawi barulah tsiqah ketika ia adil sekaligus dhabit. Kemudian bila ada benturan antara ta’dil dengan tajrih, maka kaidahnya ta’dil yang muthlaq (umum) itu kalah dibandingkan tajrih yang mufassar (terperinci) khususnya bila penilai tajrih tersebut jumlahnya lebih banyak.

Demikian seterusnya.. Ini sekadar contoh saja.

Muchammad Yanuary:// juga ust @babanya : “adapun bagi orang yang betul-betul awam, maka ia tidak punya pilihan lain selain mengambil yang paling ahwath (paling aman), mengambil dari orang alim yang ia rasa paling wara’ (hati-hati), atau merujuk pada keyakinan hati (istafti qalbak!)”

bagaimana kita menilai itu paling aman ?? dan kewara’an orang alim ?? padahal ia org awam…//

Paling aman = muraa’aatul khilaaf. Atau istilah populernya: Al-Khuruj minal khilaf. Kaidahnya:

– Jika antara haram dengan sunnah, maka pilih meninggalkan. Kalau ternyata ia sunnah, toh tidak dosa ditinggalkan.

– Jika antara wajib dengan makruh, maka pilih melakukan. Kalau ternyata ia makruh, toh tidak dosa dilakuikan.

– Jika antara bid’ah dengan sunnah, maka pilih meninggalkan. Kalau ternyata ia sunnah, toh sunnah itu bisa ditinggalkan.

– Jika antara mubah dengan yang lain (wajib/sunnah/makruh/haram), maka pilih konsekwensi dari yang lain itu.. karena jika ternyata ia mubah, maka ditinggalkan atau dikerjakan sama-sama tidak berdosa dan tidak apa-apa.

Untuk kewara’an orang alim, orang awam bisa menilainya berdasarkan interaksi langsung.. atau berdasarkan persaksian dari orang2 alim lainnya tanpa pengkritik.

Ini semua persolan istilah. Jadi tergantung apa definisi kita untuk istilah “ijtihad/mujtahid” dan “taklid/muqallid” itu.

Kalau yang kita maksudkan dengan istilah “mujtahid” itu adalah “pembelajar” maka thalib ya dalam definisi ini merupakan mujtahid. Tapi kalau yang kita maksudkan dengan istilah “mujtahid” adalah “mufti” maka thalib dalam hal ini tidak sampai mujtahid karena posisinya adalah mempelajari untuk mendapatkan ilmu bagi dirinya, bukan untuk menfatwakan hasilnya.

Ikut karena dalil (ingat: “karena dalil” bukan sekadar “dengan ada dalil”) bukan taklid karena memang istilah taklid di situ saya gunakan dlm definisi populernya yaitu “ikut tanpa dalil”. Kalau kita mendefinisikannya secara lebih luas, maka klasifikasinya pun akan berubah.. Dan kalau taklid didefinisikan sebagai “memilih pendapat yg dianut orang sebelumnya” maka semua tokoh yg disebut “mujtahid” pun semuanya juga muqallid.

لا مشاحاة في الاصطلاح

Yang sangat populer dalam hal ini adalah pembagian Imam Syathibi dalam I’tisham:

فإذاً المكلف بأحكامها لا يخلو من أحد أمور ثلاثة :
أحدها : أن يكون مجتهداً فيها ، فحكمه ما أداه إليه اجتهاده فيها…….
والثاني : أن يكون مقلداً صرفاً ، خلياً من العلم الحاكم جملة . فلا بد له من قائد يقوده . وحاكم يحكم عليه ، وعالم يقتدي به . ومعلومٌ أنه لا يقتدى به إلا من حيث هو عالم بالعلم الحاكم ، والدليلُ على ذلك أنه لو علم أو غلب على ظنه أنه ليس من أهل ذلك العلم لم يحل له اتباعه ولا الانقياد لحكمه ، بل لا يصح أن يخطر بخاطر العامي ولا غيره تقليد الغير في أمر مع علمه بأنه ليس من أهل ذلك الأمر ….
والثالث : أن يكون غير بالغ مبلغ المجتهدين ، لكنه يفهم الدليل وموقعه ، ويصلح فهمه للترجيح بالمرجحات المعتبرة فيه كتحقيق المناط ونحوه . فلا يخلو إما أن يعتبر ترجيحه أو نظره أو لا ، فإن اعتبرناه صار مثل المجتهد في ذلك الوجه ، والمجتهد إنما هو تابع للعلم الحاكم ، ناظر نحوه . متوجه شطره : فالذي يشبهه كذلك وإن لم نعتبره فلا بد من رجوعه إلى درجة العامي ، والعامي إنما اتبع المجتهد من جهة توجهه إلى صوب العلم الحاكم . فكذلك من نزل منزلته

dan pembagian Syaikh Zarruq Al-Maliki dalam Qawa’idnya:

التقليد: أخذ القول من غير استناد لعلامة في القائل، ولا وجه في المنقول، فهو مذموم مطلقاً، لاستهزاء صاحبه بدينه.
والاقتداء: الاستناد في أخذ القول لديانة صاحبه وعلمه، وهذه رتبة أصحاب المذاهب مع أئمتها. فإطلاق التقليد عليها مجاز.
والتبصر: أخذ القول بدليله الخاص به من غير استبداد بالنظر، ولا إهمال للقول. وهي رتبة مشايخ المذاهب وأجاويد طلبة العلم.
والاجتهاد: اقتراح الأحكام من أدلتها، دون مبالاة بقائل. ثم إن لم يعتبر أصل متقدم فمطلق، وإلا فمقيد

Dalam klasifikasi Asy-Syathibi, thalibul ilmi masuk kategori ketiga (semi-mujtahid dan semi-awam). Dalam klasifikasi Zarruq, thalibul ilmi juga masuk kategori ketiga (ahlu-t tabashshur).

Dari klasifikasi2 ini (menjadi dua, menjadi tiga, menjadi empat, dsb), intinya seseorang dalam sebuah masalah agama itu hanya 3 jenis:

1. ikut hawa nafsu (baik sendirian maupun bersama orang)
2. ikut orang lain (baik sesuai dalil maupun tidak)
3. ikut dalil (baik dg bantuan guru maupun langsung)

{ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ} [فاطر: 32]