Oleh: Abdullah Al Jirani

Seorang yang memiliki hutang puasa dan belum mengqadha’nya sampai masuk bulan Ramadhan berikutnya dikarenakan tafrith (kelalaian/mengampangkan), maka dia puasa Ramadhan di bulan itu bersama kaum muslimin, setelah Ramadhan berakhir, dia tetap mengqadha’ (membayar) puasa yang dia tinggalkan di bulan Ramadhan yang sebelumnya, dengan ditambah kaffarah (tebusan) memberi makan fakir miskin sesuai hari yang dia tinggalkan tersebut.

Ini merupakan pendapat Jumhur ulama’ yaitu Malik bin Anas, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Adapun menurut Abu Hanifah, Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakha’i serta Dawud Adz-Dzahiri : tetap mengadha’ hutang puasa tahun lalu, tapi tanpa tambahan kaffarah (tebusan). Namun pendapat yang benar, pendapat Jumhur. Berdasarkan perkataan Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata :

يَصُومُ هَذَا مَعَ النَّاسِ، وَيَصُومُ الَّذِي فَرَّطَ فِيهِ وَيُطْعِمُ لِكُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Dia melaksanakan puasa (bulan) ini bersama manusia, dan (mengqadha’) puasa yang dia lalaikan di dalamnya, serta memberi makan kepada orang miskin sesuai dengan hari yang dia tinggalkan”.

Riwayat ini dikeluarkan oleh Ad-Daruquthni dan sanadnya beliau shahihkan. Riwayat ini walaupun mauquf kepada ucapan Abu Hurairah, tapi memiliki hukum marfu’ (dari ucapan nabi).

Ini khusus bagi yang melalaikan untuk mengqadha’nya. Adapun yang tidak melalaikan, akan tetapi karena ada halangan yang dibenarkan oleh syari’at, seperti sakit, atau yang semisalnya, maka tidak terkena tebusan dan cukup mengqadha’ saja.

[ Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an karya Imam Al-Qurthubi : juz : 3 halaman : 138-139, cetakan pertama terbitan Muassasah Ar-Risalah tahun 1427 H tahqiq : Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki ]

Demikian faidah kali ini. Semoga bermanfaat bagi kita sekalian. Barakallahu fiikum jami’an wahai saudaraku seiman dan seagama.

6 Ramadhan 1439 H
Abdullah Al-Jirani Al-Jawi
————-
Teks Arab :

فَإِنْ أَخَّرَ قَضَاءَهُ عَنْ شَعْبَانَ الَّذِي هُوَ غَايَةُ الزَّمَانِ الَّذِي يُقْضَى فِيهِ رَمَضَانُ فَهَلْ يَلْزَمُهُ لِذَلِكَ كَفَّارَةٌ أَوْ لَا، فَقَالَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ: نَعَمْ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالْحَسَنُ وَالنَّخَعِيُّ وَدَاوُدُ: لَا. قُلْتُ: وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ الْبُخَارِيُّ لِقَوْلِهِ، وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مُرْسَلًا وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُطْعِمُ، وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ الْإِطْعَامَ، إِنَّمَا قَالَ:” فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ”. قُلْتُ: قَدْ جَاءَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مُسْنَدًا فِيمَنْ فَرَّطَ فِي قَضَاءِ رَمَضَانَ حَتَّى أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ آخَرُ قَالَ: يَصُومُ هَذَا مَعَ النَّاسِ، وَيَصُومُ الَّذِي فَرَّطَ فِيهِ وَيُطْعِمُ لِكُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا. خَرَّجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَقَالَ: إِسْنَادٌ صَحِيحٌ.