Silakan dibaca baik-baik. Semoga bermanfaat

Ada beberapa potret pelaksanaan shalat Qiyām Ramadhān di kalangan Salaf sebagaimana disebutkan Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim murid Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithiy (semoga Allah merahmati keduanya):

1. Apa yang dilakukan Umar bin al-Khaththab yaitu mengumpulkan seluruh jamaah untuk bermakmum pada seorang imam.

2. Dari Syu’bah dari Asy’ats bin Sulaim: Aku mendapati sebagian jamaah mesjid kami diimami oleh seorang imam di bulan Ramadan sementara ada sebagian lainnya shalat di sejumlah penjuru mesjid sendiri-sendiri.

Aku melihat mereka melakukan itu di masa Abdullah bin az-Zubair di mesjid Madinah.

3. Apa yang dilakukan Ubay bin Ka’ab di masa Rasulullah dan setelahnya; mengimami kerabat-kerabatnya yang perempuan di zaman Nabi, kemudian mengimami seluruh jamaah di era Umar.

Ibnu Hurmuz seorang dari kalangan para pembaca Alquran (al-Qurrā’) mengimami keluarganya di rumah.

4. Amalan para al-Qurrā’. Syu’bah dari Ishaq bin Suwaid: Shaf para qurrā’ di mesjid Bani ‘Adiy di bulan Ramadan; seorang imam mengimami para jamaah sementara mereka shalat sendiri-sendiri. Kemungkinannya hal itu dilakukan untuk membaguskan hapalan mereka.

Begitu pula Said bin Jubair melakukan, beliau shalat sendirian di mesjid.

5. Mereka yang sesekali shalat di mesjid dan sesekali di rumah. Malik berkata: Umar bin Husain seorang mulia lagi ahli fikih dan ahli ibadah. Seorang mengabarkan kepadaku bahwa ia mendengar Umar bin Husain memulai bacaan Alquran di Ramadan setiap malam. Dikatakan kepadanya, Apakah ia mengkhatamkan Alquran setiap malam? Ya, begitulah. Beliau juga biasanya di bulan Ramadan apabila selesai shalat Isya langsung pulang ke rumah. Dan hanya di malam ke 23 ia keluar untuk mengimami manusia.

Dikatakan kepada Malik, Wahai Abu Abdillah, seorang mengkhatamkan Alquran setiap malam? Sungguh baiknya hal itu. Alquran adalah induk segala kebaikan, jawab Malik.

6. Qabishah berkata, Sufyan shalat di belakangku (bermakmum) satu tarwīhah lantas menyingkir dan shalat sendirian dengan bacaan keras hingga hampir membuat bacaanku keliru. Kemudian beliau kembali bermakmum kepadaku satu tarwīhah lagi. Setelah usai beliau mengambil kedua pasang sendalnya dan langsung pergi tanpa menunggu witir bersamaku.

Yahya bin Ayyub berkata: Aku melihat Yahya bin Said shalat bersama imam di bulan Ramadan kemudian pulang. Aku bertanya sebabnya. Aku shalat bersama imam kemudian selanjutnya tak aku lakukan lagi. Seandainya aku sanggup shalat sendirian, hal itu lebih aku sukai, jawabnya.

7. Meninggalkan shalat Tarawih berjamaah demi kenyamanan hati. Shalih al-Murriy bertanya kepada al-Hasan, Wahai Abu Said, Bulan Ramadan telah tiba dan saya telah menghapal seluruh Alquran. Di mana Anda menyarankan saya untuk shalat; apakah sendirian atau bersama jamaah kaum muslimin?

Kamu adalah seorang hamba Allah yang memimpin diri sendiri. Pilihlah tempat manapun yang lebih membuat hatimu khusyuk dan konsentrasimu lebih baik, jawab al-Hasan.

Abu Dawud dan Ahmad.

Berkata Abu Dawud kepada Ahmad, Imam shalat mengimami di mesjid sedangkan para jamaah shalat sendiri-sendiri? Lebih baik bagiku jika mereka shalat bermakmum kepada Imam.

Abu Dawud juga menanyakan, Seorang membaca Alquran mengimami manusia sebanyak dua kali dalam semalam di bulan Ramadan?

Bagi saya, itu tergantung pada kesanggupan para makmum. Merekalah yang memiliki pilihan. Dan Nabi (dalam hadisnya) mengatakan kepada Muadz, Afattānun Anta (apakah kamu adalah seorang yang hendak menjauhkan orang lain dari agama dan menghalangi mereka darinya)?!