Oleh: Priyo Djatmiko

SUNNAH

Sahabat Nabi, Jabir ra bercerita, “ketika rombongan muhajirin yang menyeberangi lautan pulang dari ethiopia (habasyah), Nabi meminta mereka menceritakan hal-hal menakjubkan yang mereka lihat selama di sana.

Seorang dari mereka bercerita pada Nabi, “satu hari kami sedang duduk-duduk, lewat seorang wanita tua dari biarawati mereka sedang memanggul tempayan air di atas kepala. Saat wanita tua itu melewati seorang pemuda dari kaumnya sendiri, pemuda itu meletakkan salah satu tangannya di antara pundak wanita tersebut, lalu mendorongnya sampai ia jatuh tersungkur di atas kedua lututnya dan tempayan airnya pecah. Wanita itu berdiri, dia berseru pada pemuda usil itu, ‘Suatu saat kamu akan mengetahui kelak saat Allah mengumpulkan manusia, dari yang terdahulu sampai yang terakhir, tangan-tangan dan kaki-kaki akan berbicara bersaksi terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan kamu akan mengetahui bagaimana urusanku dan urusanmu di sisi-Nya kelak!'”

Jabir melanjutkan, “lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia (wanita itu) benar, dia benar, dia benar! Bagaimana Allah akan memberkati suatu bangsa yang tidak membela kelompok yang lemah dari kezaliman kelompok yang kuat!!!” (HR Ibnu Majah)

Takjub dengan tanggapan Nabi. Nabi tidak mengomentari kejahatan pemuda jahil tadi. Orang jahat barangkali sudah sunnatullah selalu ada. Yang lebih menyakitkan bukan kejahatan tapi diamnya mayoritas. Tentu apalagi, Nabi tak akan menyalahkan korban. Fokus nabi adalah perilaku pasivisme umat: “kayfa yuqaddisuLlahu ummatan, laa yu’khadzu li dha’iifihim min syadiidihim! Bagaimana Allah akan memberkati suatu bangsa yang tidak membela kelompok yang lemah dari kezaliman kelompok yang kuat!?” Bagaimana mungkin mereka menyaksikan, seorang wanita, tua, sedang bekerja, biarawati yang kedudukannya mulia, dilecehkan di muka umum tapi mereka diam saja? Mungkin begitu naluri Nabi. Naluri seorang suci yang tajam membaca realita.

Ketika membaca ini kita bisa mengkaitkannya ke negeri manapun. Ada negeri-negeri yang dikuasai despotik yang menindas sebagian rakyat yang kritis, tapi yang dibela para cendikianya adalah penindas dan yang disalahkan, didemonisasi adalah yang ditindas. Ada kaum wanita yang dilecehkan lalu yang disalahkan korbannya. Dst.

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَمَّا رَجَعَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُهَاجِرَةُ الْبَحْرِ قَالَ أَلَا تُحَدِّثُونِي بِأَعَاجِيبِ مَا رَأَيْتُمْ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ قَالَ فِتْيَةٌ مِنْهُمْ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ مَرَّتْ بِنَا عَجُوزٌ مِنْ عَجَائِزِ رَهَابِينِهِمْ تَحْمِلُ عَلَى رَأْسِهَا قُلَّةً مِنْ مَاءٍ فَمَرَّتْ بِفَتًى مِنْهُمْ فَجَعَلَ إِحْدَى يَدَيْهِ بَيْنَ كَتِفَيْهَا ثُمَّ دَفَعَهَا فَخَرَّتْ عَلَى رُكْبَتَيْهَا فَانْكَسَرَتْ قُلَّتُهَا فَلَمَّا ارْتَفَعَتْ الْتَفَتَتْ إِلَيْهِ فَقَالَتْ سَوْفَ تَعْلَمُ يَا غُدَرُ إِذَا وَضَعَ اللَّهُ الْكُرْسِيَّ وَجَمَعَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ وَتَكَلَّمَتْ الْأَيْدِي وَالْأَرْجُلُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ فَسَوْفَ تَعْلَمُ كَيْفَ أَمْرِي وَأَمْرُكَ عِنْدَهُ غَدًا قَالَ يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَتْ صَدَقَتْ كَيْفَ يُقَدِّسُ اللَّهُ أُمَّةً لَا يُؤْخَذُ لِضَعِيفِهِمْ مِنْ شَدِيدِهِمْ

http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=173&pid=112045&hid=4008

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10216609736739527&id=1342900465