Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Seringkali kita mendengar dari para guru atau dari tokoh tertentu tentang suatu bacaan yang apabila dibaca dengan kaifiyah tertentu, maka berhasiat begini dan begitu. Saya pun beberapa hari lalu membagikan sebuah ijazah sebuah shalawat Syajaratun Nuqud yang saya dengar langsung dari Habib Assegaf, Parung – Bogor, yang memakai redaksi tertentu, jumlah tertentu, waktu tertentu dan disebutkan punya khasiat tertentu berupa lapangnya rizki. Silakan dibaca ijazah tersebut di lapak saya di FB ini sebab itu mujarrab. Mujarrab artinya sudah teruji berkali-kali.

Habib Assegaf sendiri yang mengijazahi wirid ini, sewaktu saya sowan ke kediamannya sekitar tahun 2008, mempunyai 12.000 santri yang setiap harinya beliau beri makan gratis tanpa sepeserpun ada iuran SPP, uang gedung atau iuran apapun dari santrinya. Menjelang wafatnya, saya dengar santri yang Beliau tanggung sudah mencapai 16 ribuan. Ketika orang hebat dan sepertinya punya tanda kewalian ini memberi ijazah demikian, saya pun percaya dan tak merasa perlu bertanya apa dalilnya. Sekitar tahun 2015 saya juga pernah mendapat ijazah ini, persis sama dari seorang kyai Surabaya yang juga kaya raya yang konon mendapatkannya dari seorang tokoh hebat dari Indonesia juga. Saya menduga tokoh yang dimaksud adalah Habib Assegaf ini. Maka makin mantaplah saya. Entah kalau anda yang mendapat ijazah dari saya ini percaya apa tidak? Sebab saya tidak kaya seperti itu. Haha….

Beberapa orang mempermasalahkan amalan semacam ini sebab dianggap tidak ada hadisnya atau tidak ada tuntunannya dari Rasulullah sehingga mereka berasumsi bahwa hal seperti ini adalah bagian dari bidah yang sesat itu. Padahal, sebenarnya fenomena semacam ini bukan hal baru, silakan simak kisah panjang Riwayat Imam Bukhari berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ، فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ، فَأَتَوْهُمْ، فَقَالُوا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ [ص: ٩٣] مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الغَنَمِ، فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ، قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوا، فَقَالَ الَّذِي رَقَى: لاَ تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا، فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ، فَقَالَ: «وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ»، ثُمَّ قَالَ: «قَدْ أَصَبْتُمْ، اقْسِمُوا، وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا» فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata; Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab penduduk setempat mereka meminta agar bersedia menerima mereka sebagai tamu peenduduk tersebut namun penduduk menolak. Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu diantara mereka ada yang berkata: “Coba kalian temui rambongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki sesuatu. Lalu mereka mendatangi rambongan dan berkata: “Wahai rambongan, sesunguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apakah ada diantara kalian yang dapat menyembuhkannya?” Maka berkata, seorang dari rambongan: “Ya, demi Allah aku akan mengobati namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian namun kalian tidak berkenan maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillah rabbil ‘alamiin (QS Al Fatihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apapun. Dia berkata: “Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: “Bagilah kambing-kambing itu!” Maka orang yang mengobati berkata: “Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada kita”. Akhirnya rombongan menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka menceritakan peristiwa tersebut. Beliau berkata: “KAMU TAHU DARI MANA KALAU AL FATIHAH ITU BISA SEBAGAI RUQYAH (obat)?” Kemudian Beliau melanjutkan: “Kalian telah melakukan PERBUATAN YANG BENAR, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yangmenerima upah tersebut”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa.”

Simak pertanyaan Rasulullah kepada sahabat itu “Kamu tahu dari mana kalau al-Fatihah bisa sebagai ruqyah?”. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah belum pernah mengajari fungsi al-Fatihah sebagai ruqyah tetapi sahabat tadi berinisiatif sendiri atau dalam kata lain menentukan khasiat sendiri tanpa ada tuntunan wahyu atau hadis. Hal ini diperjelas dengan riwayat lain dari Imam Daraquthni sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Hajar berikut:

فتح الباري لابن حجر (4/ 457)
وللدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَيْءٌ أُلْقِيَ فِي رُوعِي وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عِلْمٌ مُتَقَدِّمٌ بِمَشْرُوعِيَّةِ الرُّقَى بِالْفَاتِحَةِ
“Daraquthni dari sisi ini mempunya riwayat ‘Maka aku berkata: Wahai Rasul, itu adalah sesuatu yang disampaikan ke dalam hatiku’. Hal ini jelas sekali bahwa sahabat itu tidak punya pengetahuan sebelumnya tentang disyariatkannya ruqyah dengan Fatihah”.

Penjelasan dari redaksi tambahan Imam Daraquthni ini menunjukkan bahwa sahabat itu mendapat semacam ilham dalam hatinya bahwa al-Fatihah bisa digunakan sebagai ruqyah. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa khasiat suatu ayat atau bacaan dzikir yang disepakati sebagai kebaikan bisa diketahui dengan jalan ilham. Rasul sama sekali tidak berkata “Kamu melakukan bid’ah” atau bertanya “Mana dalilnya bahwa al-Fatihah bisa sebagai ruqyah?”, melainkan menyetujui itu dan bahkan meminta bagian dari upah ruqyah itu sebagai tanda dukungan beliau atas inisiatif cerdas sahabat tersebut.

Jadi soal penentuan khasiat tanpa tuntunan ayat atau hadis itu diperbolehkan berdasarkan hadis sahih di atas. Kita tak bisa berkata bahwa ini khusus surat Fatihah saja dan khusus khasiat sebagai ruqyah saja sebab yang begini namanya تخصيص بغير مخصص, mengkhususkan cakupan suatu hadis tanpa adanya dalil hadis lain yang menyatakan kekhususan itu. Pengkhususan semacam ini sama saja dengan menambah syariat sendiri.

Adapun soal penentuan bilangan dan lafadznya, maka sebenarnya sama saja bisa ditentukan melalui ilham yang didapat hamba Allah yang shalih seperti halnya khasiatnya tadi. Ini bisa terjadi secara akal dan tidak berlawanan dengan syariat. Dan, kenyataannya hal semacam ini memang terjadi bahkan di masa sahabat. Simak riwayat berikut yang diceritakan dan dibuat dalil oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya yang berjudul Jila’ al-Afham:

جلاء الأفهام (ص: 87)
عَن زيد بن وهب قَالَ لي ابْن مَسْعُود رَضِي الله عَنهُ يَا زيد بن وهب لَا تدع إِذا كَانَ يَوْم الْجُمُعَة أَن تصلي على النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ألف مرّة تَقول اللَّهُمَّ صل على مُحَمَّد النَّبِي الْأُمِّي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم
“Dari Zain bin Wahb, Sahabat Ibnu Mas’ud berkata padaku: Wahai Zaid, bila hari jumat jangan engkau tinggalkan MEMBACA SHALAWAT ATAS NABI 1000 KALI, katakan ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMAD AN-NABIYYI AL-UMMIYYI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM”.

Amaliyah wirid yang dianjurkan sahabat Ibnu Mas’ud itu sama sekali tidak ada hadisnya, tidak redaksinya dan tidak pula jumlahnya. Yang bisa kita dapati hanya hadis dloif yang memerintahkan membaca shalawat 1000 kali tanpa pengkhususan hari tertentu dan hadis dloif lain yang memerintahkan agar banyak-banyak membaca shalawat di hari jumat. Bila kedua hadis dloif ini digabung, maka hasilnya adalah sunnah memperbanyak shalawat di hari jumat, tanpa ada pembatasan jumlah harus seribu dan tak ada penentuan redaksi shalawat. Bila memakai teori bid’ahnya sebagian kelompok yang berlebihan dalam memahami bid’ah, maka tindakan Sahabat Ibnu Mas’ud ini adalah bid’ah dan tindakan Ibnu Qayyim yang menukil dan berhujjah dengan itu juga bid’ah, demikian juga tindakan saya yang menuliskan ini juga bid’ah. Pokoknya bid’ah semua. Namun teori mereka ini salah dan gegabah.

Soal pembatasan jumlah bacaan, ada dua jenis bacaan yang berbeda perlakuannya:

Jenis pertama adalah bacaan yang jumlahnya ditentukan secara khusus (muqayyad) oleh Rasulullah dalam bilangan tertentu tanpa ada satu pun hadis lain yang menunjukkan kemutlakan jumlahnya. Bacaan tipe ini tak boleh kita modifikasi jumlahnya, jangan dikurangi atau ditambahi bila ingin mendapat fadhilah sunnah. Contohnya adalah bacaan tasbih, tahmid dan takbir sehabis shalat yang berjumlah masing-masing 33 kali.

Jenis kedua adalah bacaan yang jumlahnya dimutlakkan tanpa ada batasan khusus dari Rasul atau ada batasan namun longgar. Jenis ini kita bebas membacanya berapa kali sesuka dan sekuat kita setiap harinya. Dalil dari kebolehan ini dapat dilihat dari hadis berikut:

صحيح مسلم (4/ 2071)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ قَالَ: حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
“Dari Abi Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: Siapapun yang membaca ketika pagi dan sore ‘Subhanallah wa bihamdihi’ seratus kali, maka takka datang seorang pun di hari kiamat yang membawa amal melebihinya kecuali seseorang yang membaca semisal itu ATAU LEBIH DARI ITU”.

صحيح مسلم (4/ 2071)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ، يَوْمَهُ ذَلِكَ، حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: Siapapun yang membaca ‘la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu wahua ‘ala kulli syai’in qadir’ dalam sehari seratus kali, maka pahalanya menyamai memeerdekakan 10 budak dan dicatat 100 kebaikan dan dihapus darinya seratus kesalahan dan dijaga dari setan di hari itu sampai sore. Dan tidak ada seorang pun yang datang [di hari kiamat] dengan amal yang lebih utama darinya kecuali orang yang MEMBACA LEBIH BANYAK DARI ITU”.

Dari kedua hadis di atas kita bisa tahu bahwa jumlah seratus kali setiap hari yang diajarkan Rasulullah ternyata bukanlah batasan tetapi hanya pilihan. Bila ada orang yang setiap hari malah membaca 200, 300, atau semakin banyak, maka pahalanya juga semakin banyak sesuai jumlahnya. Karena jumlahnya tidak ditentukan, maka tidak dibenarkan adanya orang yang menuduh bahwa jumlah tertentu setiap hari adalah bid’ah. Kemutlakan itu artinya bebas sebebas bebasnya mau di baca dengan jumlah berapapun setiap waktunya, mau bilangannya selalu sama atau tidak. Mau tiap hari dibaca 5x, 10x 1000x, 2000x atau barapapun terserah. Mau dibaca kadang 100x, kadang 50x, kadang 20x juga terserah. Menyatakan bahwa konsisten akan jumlah tertentu setiap harinya adalah tindakan bid’ah atau membuat-buat syariat justru adalah bid’ah itu sendiri sebab dia telah menyempitkan makna kemutlakan yang diberikan Rasulullah.

Sebab itulah, para ulama sering sekali memberikan nasehat untuk membaca bacaan tertentu dengan jumlah sekian yang nanti khasiatnya akan demikian. Penentuan redaksi, khasiat, waktu dan jumlah ini biasanya berdasarkan ilham yang sudah diuji coba berulang kali, bukan berdasarkan hadis.

Ulama yang biasanya paling ketat dalam hal bid’ah ini, Ibnu Taymiah, ternyata malah juga punya amalan mujarrab tak berdasar ayat atau hadis ini. Silakan baca testimoni Ibnu Qayyim, murid Ibnu Taymiyah, berikut ini:

مدارج السالكين بين منازل إياك نعبد وإياك نستعين (1/ 446)
وَمِنْ تَجْرِيبَاتِ السَّالِكِينَ الَّتِي جَرَّبُوهَا فَأَلْفَوْهَا صَحِيحَةً أَنَّ مَنْ أَدْمَنَ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْرَثَهُ ذَلِكَ حَيَاةَ الْقَلْبِ وَالْعَقْلِ. وَكَانَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ شَدِيدَ اللَّهْجِ بِهَا جِدًّا، وَقَالَ لِي يَوْمًا: لِهَذَيْنِ الِاسْمَيْنِ وَهُمَا الْحَيُّ الْقَيُّومُ تَأْثِيرٌ عَظِيمٌ فِي حَيَاةِ الْقَلْبِ، وَكَانَ يُشِيرُ إِلَى أَنَّهُمَا الِاسْمُ الْأَعْظَمُ، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: مَنْ وَاظَبَ عَلَى أَرْبَعِينَ مَرَّةً كُلَّ يَوْمٍ بَيْنَ سُنَّةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ حَصَلَتْ لَهُ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَلَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ.
“Sebagian percobaan para ahli ibadah yang telah mereka uji coba lalu menemukannya sebagai hal yang benar terjadi (mujarrab) adalah bahwa siapapun yang terus menerus membaca ‘ya Hayyu ya Qayyum lailaha illa Anta’ , maka hal itu akan menimbulkan hidupnya hati dan akal (lapang dada dan cerdas). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah menyucikan ruhnya, saya gemar sekali dengan hal ini. Ia berkata padaku pada suatu hari: Dua nama ini, yaitu Al Hayyu Al Qayyum, punya pengaruh yang besar dalam hidupnya hati.Dan, beliau mengisyaratkan bahwa keduanya adalah Ismul A’dham dan aku mendengarnya berkata: Siapa yang terus-menerus membaca sebanyak 40 kali setiap hari di antara salat sunnah subuh dan salat subuh bacaan “ya Hayyu ya Qayyum lailaha illa Anta birahmatika astaghitsu”, maka akan dia dapati hatinya hidup dan tak mati”.

Amalan wirid yang sangat disukai dan disarankan Ibnu Taymiyah itu dengan jumlah, waktu, dan khasiat seperti itu tak disebutkan dalam satu pun hadis. Ibnu Qayyim pun tak bertanya mana dalilnya atau berlagak hebat dengan berkata bahwa guru kita Ibnu Taymiyah tidak maksum sehingga dalam hal ini tidak perlu diikuti sebab ini semua bid’ah, tapi beliau malah mengajarkannya di kitab Madarijus Salikin yang dijadikan kitab standar para pendaku salafi itu. Di kitabnya yang lain, Ibnu Qayyim menjelaskan:

مفتاح دار السعادة ومنشور ولاية العلم والإرادة (1/ 298)
رب اغْفِر لي ولوالدي وللمسلمين وَالْمُسلمَات وَلِلْمُؤْمنِينَ وَالْمُؤْمِنَات وَقد كَانَ بعض السّلف يسْتَحبّ لكل احد ان يداوم على هَذَا الدُّعَاء كل يَوْم سبعين مرّة فَيجْعَل لَهُ مِنْهُ وردا لَا يخل بِهِ وَسمعت شَيخنَا يذكرهُ وَذكر فِيهِ فضلا عَظِيما لَا احفظه وَرُبمَا كَانَ من جملَة اوراده الَّتِي لَا يخل بهَا وسمعته يَقُول ان جعله بَين السَّجْدَتَيْنِ جَائِز
“Rabbighfirli waliwalidayya walil muslimina wal muslimat wal mu’minina wal mu’minat, disunnahkan bagi setiap orang untuk terus menerus membaca doa ini setiap hari 70 kali dan dijadikan wirid yang tak pernah ditinggal. Saya mendengar guru kita (Ibnu Taymiyah) menyebutkannya dan beliau menjelaskan bahwa di dalamnya ada keutamaan besar yang saya tidak ingat. Seringkali ini jadi sebagian wirid yang tak pernah beliau tinggal. Saya mendengar Beliau berkata: membacanya di antara dua sujud diperbolehkan”.

Simak pernyataan di atas yang sepertinya takkan anda temukan dalam satu hadispun. Ibnu Taymiyah menentukan batasan bacaan 70 kali setiap hari dan bahkan memperbolehkan wirid ini untuk dibaca dalam duduk di antara dua sujud ketika shalat. Adakah pendaku salafi yang mau mengatakan ini bid’ah? Atau malah berkelit mengatakan bahwa ini maslahah mursalah sebab yang berkata adalah Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim?

Wirid-wirid semacam ini tidak termasuk dalam cakupan makna bid’ah sebab sejak awal memang tidak dianggap sebagai syariat baru atau diyakini berasal dari anjuran Rasulullah akan tetapi hanya kalam hikmah saja. Sama seperti nasehat seseorang “Sebelum tidur bacalah Qur’an satu maqra’, nanti kamu akan enak hidupnya”. Nasehat semacam ini sama sekali bukan bid’ah meskipun melibatkan ibadah sebab ibadahnya adalah yang berkategori mutlak dan tidak diniati sebagai syariat. Kalam hikmah semacam ini urusannya hanya dengan manjur atau tidak/mujarrab atau tidak, bukan dengan sesat atau tidak. Sesat bagaimana lah wong memang jenisnya adalah bacaan baik.

Sebagai penutup, saya nukilkan suatu wirid yang sangat banyak khasiatnya dan sudah diamalkan oleh sekian banyak ulama dari lintas generasi, khususnya di kalangan Syafi’iyah. Wirid ini panjang sekali (biasanya wirid panjang disebut dengan istilah hizb), saya nukil bagian awalnya saja sebagai berikut:

بسم الله ، اللّه أكبر ، اللّه أكبر ، اللّه أكبر ، أقول على نفسي ، وعلى دِيني ، وعلى أهلي ، وعلى مالي ، وعلى أصحابي ، وعلى أديانهم ، وعلى أموالهم ؛ ألف ألف ألف لا حول ولا قوة إلاّ باللّه العلي العظيم . بسم الله ، وبالله ، ومن الله ، وإلى الله ، وعلى الله ، وفي الله ، ولا حول ولا قوة إلاّ بالله العلي العظيم .بسم الله على دِيني وعلى نفسي ، بسم الله على مالي وعلى أهلي وعلى أولادي وعلى أصحابي ، بسم الله على كلِّ شيءٍ أعطانيه ربي ، بسم الله ربِّ السموات السبع ، ورب الأرضين السبع ، ورب العرش العظيم بسم الله الذي لا يضرُّ مع اسمه شيءٌ في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم (3 مرات)….

Wirid di atas sangat masyhur dibaca orang-orang hebat yang insya Allah para Waliyullah. Pengarangnya adalah seorang Imam Mujtahid dalam mazhab Syafi’i yang ilmunya terlalu luas dan terlalu hebat untuk diabaikan, bahkan oleh para pendaku salafi sekalipun. Beberapa ulama menyebut beliau sebagai Wali Quthub, gelar kewalian tertinggi yang hanya dimiliki satu orang di setiap masa, sama seperti gelarnya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Beliau adalah Yahya bin Syaraf an-Nawawi yang biasa kita kenal sebagai Imam Nawawi.

Silakan siapapun berkata bahwa nama-nama di atas bukan orang maksum yang bisa saja salah sehingga ucapannya bisa ditolak, tapi dengan begitu saya akan dengan tegas menolak ucapan orang itu dan memilih keterangan para tokoh besar di atas. Sebab yang menggugat itu juga sama-sama tidak maksumnya tapi level keilmuannya beda jauh.

Semoga bermanfaat.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204547200036184&id=1718970307