Oleh: Muhamad Kholil

Membeda-bedakan dalam menimbang kebaikan dan keburukan yg dimiliki seorang Ulama’ terdahulu dan Ulama’ kontemporer adalah inkonsisten dalam bersikap!

Beberapa tahun yg silam ada komunitas yg mengajak untuk membakar buku-buku Ibnu Hajar al ‘Asqalānī dan An Nawawī -rahimahumallāh rahmatan wāsi’ah- dengan alasan keduanya ahli bid’ah. Sebagaimana pula mereka juga mentahdzīr dan mentabdī’ Ulama’ kontemporer dan membakar buku-bukunya karena dianggap sebagai ahli bid’ah. Menurut mereka ini adalah bentuk konsistensi dalam bersikap keras terhadap ahli bid’ah tanpa membedakan antara Ulama’ dulu atau Ulama’ sekarang.
Walau komunitas ini sudah ditelan masa, namun komunitas ini memiliki adik tiri yg bersikap inkonsisten menurut kakaknya. Komunitas baru ini lebih bisa memberi sikap toleransi terhadap Ulama’ terdahulu walau dianggap ahli bid’ah, namun untuk Ulama’ kontemporer maka tidak ada toleransi dalam bersikap kepadanya, bahkan seorang Ulama’ yg mereka sanjung sebelumnya dengan sanjungan yg tinggi, bisa mereka sebut dengan dajjāl setelah ditemukan satu atau dua kesalahan menurut mereka.

Cukuplah seorang itu mulia apabila kesalahannya dapat dihitung dan dirangkum. Mari bersikap adil kepada Ulama’ dan orang-orang yg berilmu walau kita memiliki perbedaan pandangan dengan mereka.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1778100388881885&id=100000458233753