(Kajian #AWAramadhan18 ke 8: Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Pada kajian sebelumnya telah kita bahas bahwa semua orang yang bertuhan sepakat bahwa Tuhan itu pasti berbeda, namun mereka berselisih tentang seberapa berbeda Tuhan itu dengan makhluk. Kali ini kita akan membahas sebenarnya apa dan bagaimana perbedaan antara kita, para makhluk, dan Tuhan sebagai Khaliq.

Sebagai titik permulaan, kita tak dapat membahas topik ini dengan rasio semata bila tak ingin berlarut-larut sehingga kita perlu petunjuk Allah yang kita yakini sebagai satu-satunya Tuhan yang sifatnya kita bahas ini. Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [الشورى: 11]

Ayat tersebut menjadi poin kesepakatan seluruh kaum muslimin. Tak ada satu pun yang mengingkarinya, bahkan non-muslim juga percaya bahwa Tuhan itu berbeda dengan yang bukan Tuhan. Agak sulit menerjemah ayat itu secara literal namun biasanya diterjemah sebagai: “Tak ada sesuatupun yang seperti Allah “.

Dalam kitab suci agama lain ternyata juga dapat kita temui kalimat seperti itu. Dalam Svetasvatara Upanishad umat Hindu misalnya, kita temui ayat berikut:

“Na tasya pratimā asti ” (4:19)
“Tidak ada yang sama dengan-Nya”.

Karena Tuhan itu tidak mungkin sama, maka ada pertanyaan dari Allah untuk kita semua berikut:

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا [مريم: 65]
“Apakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?”.

Itu adalah pertanyaan sekaligus perintah untuk melihat dengan jelas dan membuktikan bahwa memang tak ada yang sama dengan Allah.

Nah sekarang bagaimana harusnya kita memahami ayat itu? Berbedanya dalam hal apa? Untuk menjawabnya, mari kita pikirkan perbedaan diri kita sendiri dahulu dengan selain kita.

Bila kita lihat diri kita sendiri secara jeli, ternyata tak ada yang betul-betul sama dengan kita secara fisik. Semirip apapun orang lain dengan kita, pasti masih punya perbedaan bila kita jeli melihatnya; Sidik jarinya tak mungkin sama, bentuk kornea matanya tak mungkin sama, DNA-nya tak mungkin sama dan seterusnya yang tak mungkin sama persis.

Dengan semua fakta perbedaan ini, kita bisa berkata ليس كمثلي شيء, tak ada satupun yang sama dengan saya! Ini fakta sebab masing-masing kita tercipta unik tak ada yang kembarannya satu pun di seluruh alam semesta ini. Yang sama hanyalah jenisnya saja namun detailnya berbeda. Dengan manusia lain dan bahkan hewan, kita sama punya mata tapi beda detail; sama punya jari tapi beda detail, sama punya kekuasaan tapi beda level, sama punya harta tapi beda jumlah, dan seterusnya.

Ketika kita amati semua hal di sekeliling kita, ternyata semua juga sama uniknya dan tak ada kembarannya di alam semesta. Batu kerikil di halaman anda tak ada satu pun yang sama dengannya di level detailnya. Bahkan pena di meja kita juga unik dan tak ada kembarannya bila kita melihatnya di level partikel dengan mikroskop, meskipun dibanding dengan pena bermerek sama.

Dengan demikian, bila kita melihat ketidaksamaan ini dari segi bentuk fisik, maka seluruh hal di alam semesta ini, mulai dari yang sekecil inti atom hingga yang sebesar cluster galaxy tak ada satu pun yang sama. Lalu apa uniknya Allah bila demikian? Apa gunanya Allah bersabda bahwa Dia berbeda dengan selain-Nya kalau ternyata selain dirinya juga seluruhnya tak ada yang sama satu-sama lain? Kesimpulannya, tak ada spesialnya Allah bila demikian. Dengan cara pandang sempit ini, pertanyaan Allah di atas bisa kita jawab “Benar, saya tahu banyak yang sama dengan Tuhan sebab yang berbeda hanya detail fisiknya saja ternyata”.

Dari sini kita tahu bahwa mengukur ketidak samaan hanya dari segi fisik sangatlah salah karena hanya akan berujung pada ketidak-unikan Allah sebagai Tuhan. Semua perbedaan antara Tuhan dan makhluk yang kita bahas pada kajian sebelumnya berujung pada tinjauan fisik semata. Ada yang melihat fisik dari segi kelihatan apa tidak, besar apa tidak, hebat apa tidak, bentuknya aneh apa tidak, seperti manusia apa tidak dan seterusnya. Semua seputar fisik.

Demikian pula yang diyakini para Mujassimah-Musyabbihah tentang Allah, ketidak samaannya hanya dilihat dari segi fisik semata. Perbedaan fisik inilah yang membuat mereka berkata “kaifiyahnya majhulah”, kaifiyah sifat Tuhan tidak diketahui. Mereka meyakini Allah punya tangan, mata, wajah, jari, dan seterusnya dalam makna sebenarnya (sebagai organ tubuh) tapi mengaku tak tahu bentuk detailnya. Mereka meyakini Allah punya ukuran tapi mengaku tak tahu berapa ukurannya dan bagaimana bentuknya. Mereka meyakini Allah turun setiap malam dari Arasy ke langit dunia dengan makna turun yang sebenarnya (berpindah dari jisim yang di atas ke jisim yang di bawah), tapi tak tahu caranya bagaimana. Mereka meyakini Allah istawa (dalam arti duduk dan menetap) di atas Arasy tapi tak tahu cara duduk atau menetapnya bagaimana. Inilah maksud kaifiyah dalam benak mereka yang biasanya enggan mereka tampakkan dengan bahasa vulgar. Mereka tak tahu kaifiyahnya sebab bentuk fisiknya memang tidak mereka ketahui. Intinya, semua seputar bentuk fisik dan karenanya semua pemahaman tersebut salah sebab menjadikan tak ada yang spesial dari Allah.

Kalau pemahaman seperti di atas tetap dipaksakan, maka ada benarnya juga orang-orang Mesir yang menyembah Fir’aun itu sebab antara mereka dan Fir’aun memang jauh berbeda kekuasaannya. Ada benarnya juga penyembah matahari itu sebab antara manusia dan matahari memang jauh berbeda kehebatan, ukuran, umur dan kemanfaatannya. Ada benarnya juga semua tuhan-tuhan dan dewa-dewa selain Allah itu disembah sebab antara yang menyembah dan yang disembah memang berbeda level. Tapi kita tahu bahwa ini semua tak benar.

Mustahil sekali Tuhan hanya punya perbedaan yang tidak esensial, sedangkan secara esensial masih sama. Kemustahilan kesamaan ini diungkapkan para ulama dengan istilah “mumatsalah lil hawaditsi”, sama dengan hal-hal yang muhdats. Inilah salah satu sifat yang mustahil dimiliki Allah.

Lalu bagaimana kita harus memahaminya? Kita baca dulu penjelasan Imam Ar-Raghib al-Asfahani, ulama besar sekaligus pakar bahasa terkemuka, berikut ini tentang makna kata مثل yang dinafikan oleh Allah dalam firman-Nya di atas:

المفردات في غريب القرآن (ص: 759)
والمَثَلُ عبارة عن قول في شيء يشبه قولا في شيء آخر بينهما مشابهة ….. والمَثَلُ يقال على وجهين: أحدهما: بمعنى المثل. … . والثاني: عبارة عن المشابهة لغيره في معنى من المعاني أيّ معنى كان، وهو أعمّ الألفاظ الموضوعة للمشابهة، وذلك أنّ النّدّ يقال فيما يشارك في الجوهر فقط، والشّبه يقال فيما يشارك في الكيفيّة فقط، والمساوي يقال فيما يشارك في الكمّيّة فقط، والشّكل يقال فيما يشاركه في القدر والمساحة فقط، والمِثْلَ عامّ في جميع ذلك، ولهذا لمّا أراد الله تعالى نفي التّشبيه من كلّ وجه خصّه بالذّكر فقال: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [الشورى/ 11]

“Matsal adalah sebuah ungkapan untuk mengatakan bahwa sesuatu serupa dengan sesuatu lainnya yang punya kemiripan antara keduanya. … Matsal disebutkan dalam dua arti: Pertama, dalam makna kesamaan/kemiripan. …. Kedua, sebagai ungkapan dari keserupaan dengan hal lainnya dalam salah satu segi yang ada, segi apapun itu. Kata ini adalah KATA PALING LUAS CAKUPANNYA yang digunakan untuk penyerupaan. Hal ini sebab kata “niddun” digunakan dalam hal yang serupa dari segi fisik semata, kata “syibh” digunakan dalam hal yang serupa dari segi tata cara/mekanisme saja, kata “al-Musawi” digunakan untuk keserupaan jumlah saja, kata “syakl” digunakan untuk keserupaan ukuran dan jarak saja. Sedangkan “matsal” umum dalam semua itu. KARENA ITULAH, KETIKA ALLAH TA’ALA MENAFIKAN KESERUPAAN DARI SEMUA SEGINYA, MAKA ALLAH MEMILIH SECARA KHUSUS KATA “MATSAL” ITU lalu berfirman: Tiada sesuatu pun yang sepertinya (matsalnya)”.

Jadi, ketidak serupaan di sini hanya bisa dipahami sebagai ketidak serupaan secara mutlak dalam hal apapun hingga level hakikat. Bukan hanya dalam level fisik seperti di atas:

1. Ketika kita lihat semua hal mengalami perubahan, maka kita yakin bahwa Allah pastilah tak mengalami perubahan apapun.

2. Ketika kita lihat semua hal tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil, maka kita yakin bahwa Allah tak tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil.

3. Ketika kita lihat semua hal punya awal mula, maka kita yakin bahwa Allah tak punya awal mula.

4. Ketika kita lihat semua hal mempunyai volume atau ukuran, maka kita yakin bahwa Allah tak punya volume atau ukuran.

5. Ketika kita lihat semua hal bertempat dalam ruang, maka kita yakin bahwa Allah tak bertempat dalam ruang.

6. Ketika kita lihat semua hal berada dalam waktu, maka kita yakin bahwa Allah tak berada atau dipengaruhi oleh waktu.

7. Ketika kita lihat semua hal punya batasan, maka kita yakin bahwa Allah sama sekali tak punya batasan. Kekuasaan-Nya, Kehendak-Nya, Ilmu-Nya dan segala tentang-Nya adalah mutlak tanpa ada batasan apapun.

Dengan demikian kita tahu bahwa Allah memang sangat berbeda dengan apapaun selain-Nya. Hanya Allah saja satu-satunya yang punya perbedaan seperti itu. Karenanya, sama sekali tidak relavan membandingkan antara Allah dan selain-Nya. Dengan sifat yang maha berbeda ini, hanya Dzat Allah saja yang berhak disembah dan dipertuhankan.

Semoga bermanfaat.