(Kajian #AWAramadhan18 ke 9: Sifat Qiyamuhu Binafsihi)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Pernah nonton film tentang dewa-dewa Yunani yang rebutan pengikut atau yang mengisahkan bahwa seorang Dewa itu butuh manusia yang menyembah Nya supaya tetap hebat dan sakti luar biasa? Kalau belum pernah, silakan nonton Wrath Of The Titans. Di lima menit pertama saja sudah ketahuan bahwa dalam konsep film itu, dewa itu butuh manusia. Atau nonton saja kartun Little Krishna yang kadang mengisahkan ada “kecemburuan sosial” antara para dewa sebab penyembahnya beralih ke sesembahan lain. Ini semua memang hanya film, tetapi ini juga menggambarkan sebuah realita yang diyakini oleh beberapa orang tentang sosok dewa yang mereka sembah.

Pertanyaan besarnya adalah apakah benar Tuhan itu membutuhkan makhluk? Kalau kita melihat konsep Ketuhanan di luar Ahlussunnah Wal Jamaah maka jawabannya bisa jadi: Ya betul. Tuhan itu butuh disembah, butuh diberi sesajen, butuh diberi pengorbanan, dan butuh banyak hal lain dari hamba-nya. Akan tetapi ketika kita mau berpikir dengan objektif dan kritis, tentu tidak ada satupun dari kita yang bisa sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan butuh semua itu.

Sosok yang masih butuh terhadap sesuatu di luar dirinya tidak layak untuk dipertuhankan sebab masih punya kekurangan dan batasan-batasan. Kalau masih butuh sesuatu dari pihak lain, maka bagaimana bisa dia menciptakan alam semesta ini tanpa pertolongan siapapun? Bagaimana bisa dia merawat dan menjaga seluruh semesta ini sendirian? Bagaimana bisa dia disebut Tuhan kalau demikian? Karena itulah, semua orang yang berakal pasti akan sampai pada kesimpulan yang sama bahwa Tuhan yang sejati itu tidak mungkin butuh apapun di luar dirinya. Kalau masih butuh bantuan pihak lain dalam bentuk apapun berarti pasti bukan Tuhan.

Para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah menyebut ketidakbutuhan Tuhan terhadap segala hal di luar dirinya ini dengan istilah “Qiyamuhu binafsihi”. Maksudnya, Tuhan itu pastilah Maha Mandiri, Maha Kaya, Maha tidak butuh apapun. Sifat ini dinyatakan dengan tegas dalam al-Qur’an sebagai berikut:
وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ [آل عمران: 97]
“Siapapun yang kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Tak Butuh seluruh alam”.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا [النساء: 131]
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji”.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ [فاطر: 15]
“Wahai manusia, kalian sangat butuh kepada Allah sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا [آل عمران: 144]
“Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun”.

Dan masih banyak ayat serupa dengan itu. Dalam sebuah hadis qudsi juga disebutkan bahwa Allah berfirman:
صحيح مسلم (4/ 1994)
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي، فَتَنْفَعُونِي، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا
“Wahai hambaku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu mencapai sebuah kemudharatan hingga kalian bisa mencelakaiku. Kalian pun takkan mampu mencapai sebuah kemanfaatan hingga kalian memberikan manfaat bagiku. Wahai hambaku seandainya orang paling awal dari kalian dan paling akhir dari kalian, manusianya dan jinnya, seluruhnya berada dalam diri satu orang yang paling baik, maka itu tidak akan mampu menambah sedikitpun dari kerajaanku. Wahai hamba-hambaku seandainya yang awal dan akhir dari kalian, manusianya, jinnya, seluruhnya berada dalam diri satu orang yang paling buruk, maka itu tak mengurangi sedikitpun dari kerajaanku”.

Ayat dan hadis tersebut seluruhnya menekankan kemandirian Tuhan dan bahwasanya Tuhan sama sekali tidak butuh apapun. Seluruh ibadah manusia tak ada gunanya bagi Tuhan, itu semua untuk manusia sendiri.

Bila kita tahqiq secara detail, kebutuhan itu sendiri ada dua macam:

1. Kebutuhan manfaat.
2. Kebutuhan prasyarat.

Yang saya bahas sejak awal hanyalah kebutuhan manfaat saja. Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa Allah tidak punya kebutuhan manfaat dari siapapun; Allah memerintahkan manusia untuk menyembahnya bukan karena butuh disembah; Allah menciptakan malaikat dengan berbagai tugasnya bukan karena butuh bantuan malaikat; Allah mengutus para nabi ke dunia bukan karena Allah butuh bantuan mereka untuk memberi Hidayah pada manusia. Semua itu dilakukan Allah karena Allah menghendakinya, bukan karena Allah butuh manfaat dari semua itu. Mustahil Allah butuh semua itu.

Lalu bagaimana dengan kebutuhan prasyarat? yang dimaksud dengan kebutuhan prasyarat adalah kebutuhan terhadap keberadaan sesuatu yang menjadi prasyarat bagi adanya sesuatu yang lain. Misalnya demikian:

1. Untuk melakukan panggilan telepon maka seseorang butuh adanya telepon. Keberadaan telepon ini adalah prasyarat mutlak yang harus ada sebelum melakukan panggilan telepon.

2. Untuk membuat status di Facebook, maka facebook itu sendiri harus ada terlebih dahulu. Keberadaan facebook adalah prasyarat mutlak untuk membuat status.

3. Untuk melakukan pernikahan, maka harus ada pasangannya terlebih dahulu. Keberadaan pasangan adalah prasyarat mutlak untuk menikah.

4. Manusia untuk bisa melihat, maka keberadaan mata yang sehat adalah prasyarat mutlak.

Demikian seterusnya bisa dikiaskan sendiri. Apakah keberadaan prasyarat seperti itu juga berlaku bagi keberadaan sifat-sifat Dzat Allah? Bagi sekte di luar Ahlussunnah, jawabannya adalah: Ya, sifat Allah juga butuh prasyarat! Berikut ini di antara pendapat mereka:

1. Untuk bisa mengetahui, maka Allah butuh kejadiannya terjadi dahulu sebagai prasyarat sifat ilmu Allah. Bila kejadiannya belum terjadi, maka Allah belum tahu. Ini pendapat Muktazilah.

2. Untuk bisa ada, maka Allah butuh tempat dan arah sebagai prasyaratnya. Yang tak berada dalam tempat dan arah berarti tidak wujud sebab keduanya adalah prasyarat mutlak. Ini pendapat Mujassimah, Musyabbihah, Hasyawiyah dan Jihawiyah. Muhammad bin Karram, tokoh Mujassimah, dan para pengikutnya memakai argumen ini untuk menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah dan sekaligus memvonis siapapun yang tak setuju dengan tuduhan telah meniadakan Allah.

3. Untuk bisa bersifat Maha Tinggi (Uluw), maka Allah butuh berada di tempat yang paling tinggi dan ada makhluk yang ada di bawah-Nya. Keberadaan makhluk di bawah Allah menjadi prasyarat bagi ketinggian-Nya sebab sifat Tinggi dimaknai secara hissy (fisikal). Ini juga pendapat Mujassimah, Musyabbihah, Hasyawiyah dan Jihawiyah.

4. Sebagian Mujassimah menetapkan adanya lisan/lidah bagi Allah sebab baginya untuk bersifat kalam (berfirman) dan bercakap-cakap dengan Nabi Musa maka Allah butuh lisan. Ini pendapat Utsman bin Said ad-Darimy yang juga didukung oleh Ibnu Taymiyah, bahkan Ibnu Taymiyah juga menetapkan adanya qalbun (hati) bagi Allah sebab Allah itu punya sifat ridha (kerelaan) dan ghadab (marah). Jangan tanya adakah ayat atau hadis yang menyebut lisan dan qalbun ini! Sudah jelas tak ada. Keduanya ditetapkan berdasarkan konsep kebutuhan akan prasyarat ini.

Pendapat-pendapat seperti di atas salah dan tak layak bagi sifat ketuhanan sebab mengharuskan ketergantungan sifat Allah pada makhluk. Andai tak ada makhluk yang bertindak, maka Ilmu Allah tak ada dalam teori Muktazilah itu. Andai tak ada tempat dan arah, maka Allah juga tak ada menurut teori Mujassimah dan kawan-kawannya itu. Andai tak ada Arasy dan makhluk yang ada di bawah-Nya, maka kemahatinggian Allah juga tak mungkin ada menurut teori mereka itu.

Pendapat seperti itu sama saja dengan mengatakan bahwa Allah butuh hal-hal muhdats. Ini bertentangan dengan ke-Maha Mandirian dan Ke-Maha Kayaan Allah yang dinyatakan secara gamblang dalam al-Qur’an di atas. Kalau ada yang masih butuh hal muhdats, berarti dia muhdats juga dan karena itu pastilah bukan Tuhan. Inilah Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang seluruhnya sepakat menyatakan bahwa Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi, Dzatnya sama sekali tak butuh prasyarat atau manfaat apapun dari hal-hal muhdats.

Semoga bermanfaat.