MENCARI-CARI KESALAHAN

Alhamdulillah.

Mencari-cari kesalahan adalah kegiatan yang penting, berharga, dan sarat akan potensi kebaikan, walaupun pelaksanaannya sangat berat, sulit, dan menuntut kerja keras.

Mencari-cari kesalahan adalah budaya orang beriman. Sebab, orang beriman selalu mendambakan kebenaran dan mengejarnya di mana saja ia berada, serta juga menyebarkannya ke mana-mana. Ini berarti bahwa orang beriman senantiasa ingin mengubah kesalahan menjadi kebenaran, dan itu menuntutnya untuk mengenal dan mengetahui di mana letak-letak kesalahan. Sering kali, kesalahan itu samar atau tersembunyi, sehingga perlu dicari-cari terlebih dahulu supaya bisa ketemu dan dikoreksi.

Mencari-cari kesalahan perlu dilakukan pada berbagai sasaran. Sasaran paling utama tentu saja diri sendiri. Setiap kita ini perlu, dan harus, untuk mencari-cari dan menelusuri apa saja dan di mana saja kesalahan kita, baik dalam perasaan, pemikiran, perkataan, maupun perbuatan. Tanpa mencari-carinya, orang akan cenderung lupa atau lalai dengan kesalahannya, sehingga tidak punya gairah kuat untuk mengoreksi dan memperbaikinya.

Mencari-cari kesalahan juga perlu dilakukan untuk orang lain, dan lebih perlu lagi ketika orang lain itu semakin berharga atau semakin punya pengaruh, yaitu semisal para ulama besar, para penulis prolifik, para dai terkenal, dan tokoh-tokoh rujukan masyarakat.

Misalnya, kitab Shahih Al-Bukhari, kitab tersahih dalam rujukan Agama setelah Al-Quran. Kitab ini begitu berharga dan penulisnya begitu berpengaruh sampai-sampai Imam Ad-Daraquthni bersusah payah untuk mencari-cari kesalahan di dalam kitab ini. Ada dua jenis kesalahan yang dicari-cari oleh Ad-Daraquthni di dalamnya: kesalahan dalam mengesahkan riwayat yang berpenyakit, dan kesalahan (kekurangan) dalam meninggalkan rawi-rawi yang mestinya dihadirkan hadits-haditsnya. Untuk kerja pertama lahirlah kitab “At-Tatabbu'” (“Mencari-cari”), dan untuk kerja kedua lahirlah kitab “Al-Ilzamat” (“Pengharusan-pengharusan”).

Mencari-cari kesalahan adalah pekerjaan luhur para pakar peneliti Hadits. Semakin seorang rawi atau penulis itu tinggi tingkat ketsiqahannya dan cukup penting riwayat atau karyanya, maka semakin penting pula untuk dicari-cari kesalahannya. Dua pioner besar, Abu Hatim dan Abu Zur’ah, mencari-cari kesalahan kitab Tarikhnya Imam Al-Bukhari. Al-Azdi mencari-cari kesalahan naskah Muqaddimah Al-Hakim. Ibnul Qaththan mencari-cari kesalahan Al-Isybili, kemudian Ibnudz Dzahabi mencari-cari kesalahan Ibnul Qaththan dalam pencariannya itu.

Mencari-cari kesalahan juga dilakukan oleh para ulama dalam disiplin lainnya. Misal, Al-Isnawi yang mencari-cari kesalahan buku Kifayah dalam Fiqih Syafii, karya Ibnur Rif’ah yang merupakan tokoh ketiga di kalangan Mutaakhkhirin setelah Ar-Rafi’i dan An-Nawawi. Hanya saja, dalam Ilmu Hadits kegiatan ini lebih kentara dan formatnya pun lebih spefisik.

Ini belum lagi kegiatan mencari-cari kesalahan yang dilakukan oleh ulama yang dinilai lurus untuk menghantam aliran yang dinilainya menyimpang.

Tentu saja, ketika seseorang mencari-cari kesalahan dan kemudian merasa menemukannya lalu mengoreksinya, bisa jadi justru koreksi yang ia berikan itu yang keliru. Atau keduanya sama-sama keliru. Sehingga, keduanya perlu untuk dibandingkan dan diteliti kembali. Dan, meskipun merupakan hasil kerja keras, bisa jadi suatu pencairan kesalahan itu masih kurang, sehingga perlu dilengkapi. Misal, Al-Hariri mencari-cari kesalahan para pakar bahasa Arab dan membukukannya dalam Durratul Ghawwash, lalu Ibnul Hanbali pun melengkapi pencarian kesalahan itu dalam Sahmul Alhazh. Semoga Allah merahmati dan membalas jasa para ulama kita.

Dus, mencari-cari kesalahan adalah kegiatan ilmiah yang amat penting untuk dibudayakan, selama diarahkan tujuan dan pelaksanaannya secara secara tepat dan bermanfaat. Lakukanlah kegiatan ini untuk diri kita sendiri, kemudian untuk publikasi dari orang-orang yang kita sayangi serta referensi dan tayangan yang kita hargai. Tujuannya tidak lain adalah supaya kesalahan itu dapat diperbaiki, bila ternyata memang terbukti salah. Tujuan dan sasarannya tidak boleh dalam kerangka negatif, semisal tajassus (mengorek keburukan yang tertutup), atau menjatuhkan kehormatan sesama muslim tanpa hak. Agama ini intinya adalah nashihah (loyalitas), dan salah satu wujud kongkretnya adalah saling mewasiatkan kebenaran.

Juga, jangan pernah alergi ketika seseorang mencari-cari kesalahan kita. Itu justru bonus budi yang bisa jadi tak mampu kita balas secara maksimal. Hadiah “koreksi” adalah salah satu hadiah terindah di sisi orang yang beriman, walaupun itu berasal dari para pembenci. Tanpa dikoreksi, seseorang cenderung kurang waspada akan kesalahannya, dan itu tentu amat berbahaya. Sebaliknya, dengan dikoreksi ia akan semakin mudah untuk memperbaiki diri. Setelah dikoreksi, dan bahkan dihukum, Adam AS menjadi jauh lebih baik ketimbang sebelum bersalah, dan malah kemudian diangkat sebagai nabi pilihan. Demikian juga dengan Nabi Dawud AS, dan mestinya juga kita semua yang semoga sama-sama berharap menjadi orang beriman yang disayang Ar-Rahman.

Tulisan ini sendiri juga amat perlu dicari-cari kesalahannya, agar dapat dikoreksi dan ditambal kekurangannya. Hadiahkanlah semua hasilnya kepada saya, bila Anda melakukannya. Saya akan sangat berterima kasih, tetapi tidak janji untuk mampu membalasnya.