Oleh: Muhammad Abduh Negara

Daripada mengajak orang untuk menjauhi da’i dan muballigh tertentu karena persoalan-persoalan agama yang samar, dan faktanya banyak diperselisihkan ulama sejak dulu, saya lebih memilih mengajak menjauhi da’i dan muballigh yang berkata tanpa ilmu. Berkata tanpa ilmu, haram hukumnya, tanpa ada yang menyelisihinya.

Bagaimana cara melihat da’i atau muballigh yang berkata tanpa ilmu?

1. Anak kuliahan otomatis akan paham, siapa yang wawasannya masih level SD dan siapa yang wawasannya sudah level universitas. Jadi bagi yang awam sekali, tinggal tanya ke beberapa orang yang sudah masyhur keilmuannya, apakah konsep yang dikemukakan oleh muballigh tertentu itu memang ada pijakannya atau tidak.

2. Latar belakang pendidikan dan keilmuan, formal maupun non-formal. Tapi bagian ini harus diberi penegasan, jangan hanya melihat jalur formal. Karena belajar agama dengan serius tak hanya melalui jalur pendidikan formal.

3. Standar saya “berkata dengan ilmu”, bukan sekadar adanya kutipan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Karena, kalau sekadar mengutip, semua orang juga bisa. Tapi ia juga harus menunjukkan siapa ulama mu’tabar dan masyhur (semisal Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dll) yang berdalil dengan itu untuk perkara tersebut, dan bagaimana cara pendalilannya.

Ini penting, karena rujukan keilmuan kita yang sebenarnya adalah ulama mujtahidin, bukan muballigh-muballigh tersebut. Tugas mereka adalah menyampaikan hasil ijtihad ulama mujtahidin, bukan memberikan kesimpulan sendiri yang menyelisihi penjelasan para ulama.

Yang punya kewenangan untuk menyimpulkan hukum langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah para imam mujtahidin, karena alat mereka untuk melakukannya sudah lengkap.