Jika hati kita ingin lapang dan terang, maka salah satu caranya dengan meninggalkan dua golongan manusia, yaitu : (1) sufaha’ (orang-orang dungu) dan (2) orang alim yang tidak punya sifat inshaf (obyektif dalam menilai) dan tidak punya adab. Karena dua golongan ini hanya akan menutup dan membuat gelap hati kita.

Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يفتح اللَّهُ قَلْبَهُ أَوْ يُنَوِّرَهُ فَعَلَيْهِ بِتَرْكِ الْكَلَامِ فيما لا يعنيه وا جتناب الْمَعَاصِي وَيَكُونُ لَهُ خَبِيئَةٌ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَمَلٍ: وَفِي رِوَايَةٍ فَعَلَيْهِ بِالْخَلْوَةِ وَقِلَّةِ الْأَكْلِ وَتَرْكِ مُخَالَطَةِ السُّفَهَاءِ وَبُغْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ الَّذِينَ لَيْسَ مَعَهُمْ إنْصَافٌ وَلَا أَدَبٌ

“Barang siapa yang ingin agar Allah membukakan dan menerangi hatinya, maka wajib baginya untuk meninggalkan perkataan yang tidak berguna, menjauhi berbagai kemaksiatan, dan hendaknya dia memiliki suatu amalan yang dia sembuyikan antara dia dengan Allah. Dalam suatu riwayat : “Maka hendaknya dia bersendiri, mengurangi makan, meninggalkan untuk bergaul dengan orang-orang dungu dan benci kepada sebagian orang berilmu yang tidak punya sifat inshaf (obyektif dalam menilai ) dan tidak punya adab.” –selesai penukilan-

Tambahan :

Kata inshaf, merupakan mashdar (asal kata) : anshafa – yunshifu – yang salah satu maknanya adalah separuhnya sesuatu. Adapun secara istilah adalah :

أن تعطي غيرك من الحقّ مثل الّذي تحبّ أن تأخذه منه لو كنت مكانه ويكون ذلك بالأقوال والأفعال، في الرّضا والغضب، مع من نحبّ ومع من نكره

“Engkau memberi suatu hak kepada selainmu, semisal yang engkau inginkan untuk engkau ambil darinya seandainya engkau berada di posisinya. Dan hal itu terwujud dengan ucapan dan perbuatan, dalam keridhaan dan kemarahan bersama seorang yang kita senangi dan orang yang kita benci”. [ Nadhrah : 3/577 ].

20 Ramadhan 1439 H
Abdullah Al-Jirani