Membaca Al-Qur’an Di Kuburan Untuk Meringankan Adzab Si Mayyit, Berdasarkan Nukilan Para Pensyarah Umdatul Ahkam.

Haditsnya:
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ مِنْ كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ : بَلَى أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ : ثُمَّ أَخَذَ عُودًا رَطْبًا فَكَسَرَهُ بِاثْنَتَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ ثُمَّ قَالَ : لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا ” رواه البخاري 1378 ومسلم (292)

Terjemah hadits:
Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah (mengadu domba).
Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah. Beliau membelahnya menjadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
Semoga keduanya diringankan siksaannya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 216 dan Muslim, no. 292)

1) Al-Imam ‘Ala Ad-Din Bin Dawud Bin Al-Aththor Asy-Syafi’i mengatakan:
“Berdasarkan hadits tersebut para ulama mensunnahkan membacakan Al-Quran pada kuburan. Mereka mengatakan: karena apabila dengan ditancapkannya pelepah yang basah tadi mayit mendapatkan manfaat, dikarenakan ia bertasbih selagi masih basah atau saat kering maka bacaan Al-Qur’an dari manusia tentu lebih bermanfaat lagi”
(Kitab Al-‘Uddah, hal 143-144)

2) Al-Imam Al-Faqih Al-Mujtahid Ibnu Daqiq Al-‘Id mengatakan:
“Yang keenam: berdasarkan hal tersebut sebagian ulama berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an pada kuburan mayit bisa memberi manfaat kepadanya, ditinjau dari segi bahwa substansi dari peringanan adzab yang kami sebutkan tadi adalah tasbihnya pelepah tadi saat masih basah. Tentu saja bacaan Al-Qur’an dari manusia lebih bermanfaat lagi, wallahu A’lam bis showab”
(Kitab Ihkam Al-Ahkam, hal. 106-107)

3) Al-Imam Muhammad Bin ‘Ismai’il Al-Amir Ash-Shon’ani mengatakan:
“Dan perkataan beliau(Ibnu Daqiq Al-Id) “..dengan membacakan Al-Qur’an pada kuburannya..”
Saya berkomentar(Ash-Shon’any)” meskipun si pembaca tidak meniatkan pahala bacaannya untuk si mayyit,bahkan dengan sekedar bersambungnya bacaan pada kuburan maka hal tersebut dapat bermanfaat bagi mayit. Dan ini tidak khusus hanya hanya pada bacaan Al-Qur’an, namun juga dzikir-dzikir yang lain’..”
(Kitab Al-‘Uddah Hasyiah ‘Ala Ihkam Al-Ahkam, hal. 274)

4) Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad As-Safaroiny An-Nabulisi Al-Hambali mengatakan:
“(Beliau menukil perkataan Imam Al-Khottobi,pnrjmh)
Beliau mengatakan: apabila adzab si mayit diringankan karena pelepah yang nabi tancapkan terus berdzikir, maka lebih utama lagi segala bentuk ibadah dengan sebab-sebab yang berbeda-beda. Dan ibadah yang paling agung adalah membaca kalam Allah SWT yang dibawa oleh Jibril kepada hati rosul yang paling mulia.”
Kemudian beliau berkata
“Dan sahabat Buraidah pun pernah berwasiat agar ditancapkan pelepah pada kuburannya, sebagaiamana disebutkan olah Al-Bukhori.”
Kemudian beliau menukil perkataan Imam An-Nawawy:
“Dan Al-imam An-Nawawi mengatakan dalam Syarah Shohih Muslim “disebutkan bahwa para ulama mensunnahkan membaca Al-quran pada kubur berdasarkan Hadits Jaridah, dikarenakan apabila tasbih pelepah tadi bisa meringankan adzabnya maka terlebih lagi bacaan Al-Qur’an”
(Kitab Kasy-Al-Litsam, hal. 224)

5) Al-Imam Tajuddin Al-Fakihani Al-Maliki mengatakan:
“Dan para ulama mensunnahkan untuk membaca Al-Quran pada kuburan berdasarkan hadits tadi. Karena bila dengan tasbihnya batang tadi diharapkan meringankan adzab maka bacaan al-Qur’an lebih utama lagi”
(Kitab Riyadh Al-Afham,hal. 232)

Dinukil oleh: Kang Yaumal An-Nawy.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1996441323761225&id=100001861290721