Oleh: Acad Syahrial

Saya juga anti bid‘ah, namun saya sangat menyadari bahwa karena keterbatasan ‘ilmu yang saya miliki, bisa jadi apa yang saya pikir bid‘ah itu ternyata adalah perkara khilafiyah.

Bahkan kalaupun itu memang bid‘ah, maka bisa jadi itu hukumnya makruh, belum tentu ia harôm apalagi mukaffiroh.

Sedangkan pelaku kebid‘ahan tidak bisa serta merta disebut sebagai “Ahlul Bid‘ah”.

Lucunya, ada bocah-bocah “sabuk putih” yang langsung saja main vonis dengan membuat poster yang mendakwa bahwa yang mengatakan adanya bid‘ah hasanah itu berarti telah menuduh Baginda Nabî صلى الله عليه وسلم tidak becus dalam menyampaikan risalah kenabîan.

Maka kita tanyakan…

Bagaimana dengan Kholîfah ‘Umar ibn al-Khoththôb رضي الله عنه yang mengatakan:

نعم البدعة هذه

(arti) “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Yaitu ketika Beliau menjadikan Sholât Terawih berjamâ‘ah secara rutin di Masjid bersama seorang imâm dengan 20 roka‘at.

Atau bagaimana dengan al-Imâm Muhammad ibn Idrîs asy-Syâfi‘î رحمه الله yang pernah mengatakan:

البدعة بدعتان : بدعة محمودة ، وبدعة مذمومة ، فما وافق السنة ، فهو محمود ، وما خالف السنة ، فهو مذموم

(arti) “Bid‘ah itu ada 2 macam, yaitu: bid‘ah mahmudah (yang terpuji) dan bid‘ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu ‘amalan bersesuaian dengan tuntunan Rosûl, itu termasuk ‘amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk ‘amalan tercela.”

Apakah berani mendakwa Kholîfah ‘Umar dan Imâm asy-Syâfi‘î sebagaimana di posternya itu?

Kalau iya, maka: LANCANG…!!!

Wahai الله, lindungilah Ummat Islâm dari makhluk-makhluk kasar tak ber‘ilmu, para pemabuk manhaj sejenis dengan pembuat poster ini.

نسأل الله السلامة والعافية

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=171461110192728&id=145550472783792