💭سوء الظن بالعلماء
💭Su’uzh-Zhan terhadap ulama

Ketika ana SMA dulu, masa awal ikut kajian, amat bersemangat segala sesuatu ikut dalil, yang tidak ada dalilnya maka otomatis bid’ah, yang lucunya hanya paham bahwa dalil itu hanya Qur’an dan Sunnah saja padahal masih ada dalil2 lain seperti Ijmâ dan qiyas sahih yang inipun disepakati 4 mazhab dan dalil lainnya mukhtalaf fih…

Di kala itu yang penting adalah berpegang dengan hadits, tidak peduli apa kata para ulama terdahulu dan metode pemahaman mereka terhadap hadits tsb, jikalau ana berpegang dengan hadits dan ulama seolah bertentangan dengan hadits tsb maka pendapat ana lah yang benar sedangkan ulama tsb salah karena tidak berpegang dengan hadits tsb…padahal waktu itu Shahih Al-Bukhary saja belum pernah khatam 😅

Alhamdulillah Allah mudahkan ana untuk belajar lagi, dalam Ushul Fiqh ternyata para ulama memiliki perbedaan dalam metode istinbath dari suatu dalil, bahkan juga khilâf dalam mana yang merupakan hujjah mana yang tidak…

Dan dalam buah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

رَفْعُ المَلَام عَنْ أئِمَّةِ الأَعْلَام
“Mengangkat celaan dari para imam pembesar”
Beliau bahas belasan sebab yang menjadikan para ulama fiqh khilâf, dari sini semakin ana berlapang dada kepada para ulama terdahulu yang mereka banyak khilâf dalam permasalahan fiqh, yang dadanya masih sempit ketika beda dengan saudaranya alangkah baiknya baca kitab ini…

Dalam Bahasa Arab yang amat luas, ternyata adakalanya suatu lafaz merupakan lafaz musytarak yang memiliki beberapa makna, kalau mau pakai makna hakiki itupun terbagi 3, hakikat syar’iyyah, lughawiyyah dan ‘urfiyyah, tentu didahulukan syar’iyyah namun ketika tidak ada penjelasan dari syari’at apakah lughawiyyah atau’ urfiyyah maka ulama kembali khilâf…

Ketika ada larangan, apakah itu haram atau makruh masih perlu dibahas lagi dan digabungkan dengan dalil2 lain yang masih 1 bab, begitu pula perintah apakah itu wajib atau sunah masih perlu dibahas lagi, jangan2 ternyata mansukh atau diqaid (diikat) dengan dalil lain kemutlaqkannya…

Terlebih Bab perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم dan para Sahabat lebih terbuka lagi kemungkinan-kemungkinan daripada bab qawl, apakah hanya perbuatan 1 orang Sahabat atau sampai derajat Ijmâ sukûtiy atau bahkan Ijmâ sharih masih perlu pembahasan lagi…

Adakalanya seorang yang miskin ilmu alat berdalil dengan suatu dalil untuk menunjukkan kepada permasalahan fulaniyyah padahal dalil tsb tidaklah menunjukkan kepada apa yang ia pahami, justru sebaliknya di dalam dalil tsb ada bagian yang menunjukkan kebatilan pemahamannya dan kesimpulan yang ia hasilkan, demikian yang diisyaratkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

ما استدلّ مبطل بدليل على باطله إلا وفيه ما دلّ على بطلانه

“Tidaklah seorang yang membawa kebatilan berdalil dengan suatu dalil dalam melegalkan kebatilannya kecuali di dalam dalil tsb ada hal yang menunjukkan kepada kebatilannya”

Yang biasanya kesimpulan rancu itu hasil dari minusnya ilmu-ilmu alat, seperti Ushul Fiqh, Nahwu, Balaghah dll sehingga akan menghasilkan kesimpulan sendiri yang berbeda dari kesimpulan para ulama yang telah memiliki ilmu-ilmu alat tsb bahkan juga berbeda dengan kesimpulan Salafusshalih jadilah itu kesimpulan ‘selfiy’ karena atas pemahaman sendiri padahal belum memiliki perangkatnya, Imam Adz-Dzahabiy mengingatkan :

كيف يطير طائر ولم يريّش

“Bagaimana mungkin burung bisa terbang sedangkan ia belum berbulu”.

Terkadang seseorang juga meyakini bahwa masalah fulaniyyah hukumnya adalah A dan yang menyelisihinya adalah sesat lagi menyesatkan, padahal para Salafusshalih dan ulama khilâf dalam masalah fulaniyyah tsb yang menunjukkan bahwa memang dalalah dalilnya adalah zhanniy dan bukanlah qath’iy, atau disitu ada 2 dalil bahkan lebih yang seolah bertolak-belakang, sehingga ada sebagian ulama yang menempuh jamak (menggabungkan dalil2 tsb) ada ulama yang menempuh tarjîh karena memang dirasa salah 1 dalil tidak sekuat dalil yang satunya dalam hal tsubut (kekokohan dalil tsb).

Adakalanya seseorang su’uzh-zhan kepada Imam Mâlik membolehkan amal penduduk Madinah sebagai takhshis dari dalil oleh karena itu beliau hanya membolehkan jama’ shalat maghrib dan isya padahal dalam dalil Nabi صلى الله عليه وسلم juga jama’ shalat zuhr dan ashar.

Barangkali juga ada yang su’uzh-zhan kepada Imam Asy-Syafi’i yang membolehkan takhshis dengan qiyas shahih bahkan dengan mafhum mukhalafah, lha dia nya ga paham qiyas, jenis-jenis qiyas mana yang shahih mana yang fasid, tidak paham i’tiradh ‘ala qiyas dll.

Barangkali ada yang su’uzh-zhan kepada Imam Ahmad yang memakai hadits dha’if jika dalam bab tsb tidak ada kecuali hadits dha’if, sedangkan ia baru diajari gurunya Al-Baraatul-Ashliyyah saja.

Barangkali amat banyak orang yang su’uzh-zhan kepada Imam Abu Hanifah yang lebih mendahulukan qiyas daripada hadits ahad, terlebih dalam masalah yang sering dibutuhkan oleh umat, memang adakalanya Imam yang berseberangan lebih mendekati kebenaran daripada Imam Abu Hanifah, seperti beberapa tabwib Imam Al-Bukhary dalam Shahih nya :

قال بعض الناس…

Sebagian manusia berkata… Yang beliau maksudkan adalah Imam Abu Hanifah dan ashabnya, kemudian Imam Al-Bukhary bawakan hadits yang berseberangan dengan mazhab Abu Hanifah, belum kalau ditambah Bab khusus

الرد على أبي حنيفة

Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.

Barangkali ada yang su’uzh-zhan terhadap tulisan ini : ini mengajak kembali kepada taqlid buta kepada ulama, padahal tidak demikian, hanya ingin membuat kita sadar diri bahwa kita belum lengkap memiliki ilmu-ilmu perangkat untuk memahami dalil dan mari rujuk kepada penjelasan para ulama yang sudah lengkap memilikinya, jika ingin naik tingkat dari taqlid maka pahami penjelasan para ulama beserta dalil dan wajhul istidlalnya yang tentu saja harus menguasai Ushul Fiqh dari ulama tsb yang ia membangun ijtihad di atasnya… Lho kok ribet ya, lha iya mang ente kira para ulama asal jeplak?

Intinya para ulama mujtahid terdahulu dan para Salafusshalih jika benar maka mereka mendapat 2 pahala, jika salah maka mendapat 1 pahala adapun orang belakangan yang belum lengkap memiliki alat2 ijtihad jika salah ia mendapatkan dosa dan jika benar maka hakikatnya ia masuk kepada sesuatu bukan dari pintunya.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=791939894349201&id=100005995935102