Lagi-lagi GPK Kokohiyyun mengangkat tuduhan “Khowârij” kepada Ummat Islâm yang sedang giat menyuarakan #2019PresidenBaru sebagaimana dulu juga vonis “Khowârij” juga dilontarkan kepada yang ikut turun pada unjuk rasa damai Aksi Bela Islâm atau Aksi Bela Palestina.

Pasti kesel banget rasanya seenaknya dituduh sebagai “Khowârij” begitu, bukan?

Ya iyalah…?!!?

Kok seenak-enaknya menuduh orang berunjuk-rasa damai menuntut si Kâfir Penista Kitâbullôh diadili dengan adil dan transparan, malah divonis sebagai “Khowârij”?
Kok seenak-enaknya orang yang turun unjuk rasa damai yang diselenggarakan resmi oleh MUI dan didukung oleh Pemerintah, untuk menentang si Donal Terompah menjadikan al-Quds sebagai ibukotanya Isra-Hell malah divonis sebagai “Khowârij”?
Kok seenak-enaknya menuduh orang yang punya aspirasi #2019PresidenBaru yang dijamin oleh UUD 1945 dituduh memberontak, dus “Khowârij”?

Apa-apaan sih…???

❓ Pasti jadi bertanya-tanya: dari mana asalnya vonis liar dan ngawur “Khowârij” oleh GPK Kokohiyyun itu?

Begini…

⚠ Adalah ciri utama dari kesesatan paham Khowârij itu: mengkâfirkan para pelaku dosa besar dan menyesatkan orang yang berbeda ta‘wil atas al-Qur-ân dan al-Hadîts yang shifatnya ijtihadiyah.

⇛ Adapun memberontak (bughôt) kepada penguasa yang sah, maka itu hanyalah “efek” dari ajaran “mengkâfirkan para pelaku dosa-dosa besar” tersebut.

❗ Jadi, orang yang terkena syubhât paham Khowârij itu bughôt karena mereka menganggap bahwa penguasa telah jatuh dalam kekâfiran disebabkan melakukan dosa-dosa besar.

⇛ Intinya, bughôt karena mengkâfirkan, maka itu adalah “Khowârij”, sedangkan jika bughôt tapi tidak mengkâfirkan, maka ya bukan Khowârij.

Itulah mengapa para ‘ulamâ’ terdahulu tak pernah mengatakan bahwa Abû al-‘Abbâs ‘Abdullôh ibn Muhammad as-Safâh, sang pendiri Dinasti ‘Abbâsiyyah, sebagai berpemahaman Khowârij. Padahal ia jelas-jelas telah memberontak kepada Dinasti Ummayah, sebab Abû al-‘Abbâs as-Saffâh itu bughôt bukanlah karena ia menganggap Banî Ummayah telah kâfir, melainkan karena ia menganggap bahwa Banî Ummayah itu sudah tak pantas lagi untuk berkuasa dan memerintah. Abû al-‘Abbâs menganggap bahwa dialah yang layak memegang tampuk kekuasaan → jadi it’s all about power struggle, nothing to do with ideology, jauh banget bedanya dengan kaum Khowârij, bukan?

🚫 Tidak bisa mengatakan bahwa salah satu ciri dari kaum Khôwarij itu suka bughôt, kemudian serta merta memvonis yang melakukan bughôt itu adalah kaum Khowârij. Harus dilihat lebih dulu apa alasannya melakukan bughôt tersebut.

⇛ Kalau ia mengkâfirkan penguasa yang berhukum dengan hukum الله dan Syari‘at Islâm, sebab dianggapnya telah kâfir dikarenakan melakukan dosa-dosa besar, maka itu baru bisa divonis sebagai Khowârij.

Makanya dari para Shohâbat dan para ‘ulamâ’ terdahulu tidak ada yang pernah menuduh “Khowârij” kepada:
– Tholhah ibn Ubaidillâh dan az-Zubair ibn Awwam رضي الله عنهما, serta Bunda ‘Â-isyah رضي الله عنها karena terlibat Perang Jamal.
– Mu’awiyah ibn Abû Sufyan رضي الله عنهما karena terlibat Perang Shiffin.

Tidak pernah ada…! – padahal jelas-jelas mereka berperang melawan kholîfah yang sah, yaitu Kholîfah ‘Alî ibn Abî Thôlib رضي الله عنه.

❓ Mengapa?

⇛ Karena itu tadi, tidak ada pengkâfiran, bahkan motivenya pun sama sekali bukanlah perebutan kekuasaan.

Adapun kalau penguasanya tersebut tidak berhukum dengan hukum الله dan Syari‘at yang dibawa oleh Nabî Muhammad صلى الله عليه وسلم, ya lain lagi cerita dan pembahasannya – but not now, ya? Another time, insyâ’Allôh.

Masih bingung juga…?

Kalau masih, mari pakai analogi sederhana ini: salah satu ciri dari monyet adalah suka makan pisang. Namun tentunya tak bisa dikatakan bahwa setiap yang suka makan pisang itu adalah adalah monyet, bukan?

Ya iyalah pasti tak bisa! Nanti teman anda yang suka makan pisang anda tuduh monyet pula gara-gara pakai qiyâs bâthil model begitu.

Suka makan pisang itu memang adalah ciri-ciri monyet. Tetapi ada banyak ciri lainnya yang harus digabungkan untuk menentukan (memvonis) bahwa yang memakan pisang itu adalah monyet.

Jadi untuk menghukumi bahwa yang makan pisang itu adalah memang seekor monyet, harus dilihat ciri-ciri lainnya, seperti misalnya: berbulu di sekujur tubuh, berekor, tangan lebih panjang dari kaki, dan suaranya “au-au-au-au”. Kemudian setelah digabung semua ciri yang tampak tersebut, yaitu ciri-ciri kemonyetan, maka baru bisa dihukumi bahwa yang suka makan pisang itu adalah monyet.

Jadi, adalah sangat-sangat ngawur orang yang mengatakan bahwa semua orang yang memberontak itu adalah pasti adalah Khowârij. Apalagi memvonis Khowârij karena melakukan demonstrasi menentang kezhôliman, padahal demonstrasinya pun adalah unjuk rasa yang damai yang bahkan sampai rumput pun dijaga!

Jahatnya lagi GPK Kokohiyyun itu, karena Ummat Islâm sudah divonisnya sebagai Khowârij, dengan semena-mena orang dihalâlkan darahnya untuk ditumpahkan seperti fatwa ngawurnya si sesengustad itu – allôhul musta‘ân…!!!

Padahal, unjuk rasa itu jelas-jelas dijamin oleh UU yang berlaku di negeri ini. Sama sekali tidak ada urusannya dengan bughôt.

Menyamakan unjuk rasa damai dengan bughôt, lalu memvonis pelakunya adalah Khowârij, kemudian menghalâlkan darahnya, maka itu adalah kengawuran berat akibat kesalahan berpikir yang sangat-sangat parah…!!!

Bahkan ia adalah kedunguan akut yang diduga keras berakar dari kerusakan otak akibat mempelajari ‘aqidah sesat mutant hybrid abominasi: “murji-ah ma‘al hukkâm, khowârij ma‘ad du‘ât”…!

Iya…! – Ajaran rusak yang diajarkan oleh guru-guru yang ber‘ilmu cetek, berwawasan cupet, dan berkarakter buruk, sekalipun punya gelar Lc atau bahkan duktuur dari Timur Tengah, khususnya itu yang sanadnya tak jelas tapi hanya diaku-aku sebagai “murid besar” dari seorang syaikh.

Hanya dari guru-guru dungu yang model begitu bisa lahir fatwa super ngawur semacam ini:
🔥 Pemberontak kalau menang dan berkuasa, maka ia adalah Ulil Amri yang tak boleh dicela. Sedangkan ia kalau kalah maka ia adalah Khowârij, kilâbunnâr.
🔥 Mengikuti jumhur ‘ulama’ artinya penganut paham demokrasi.
🔥 Harôm marah kepada Yahûdi Isra-Hell karena kekejaman mereka, sebab hal itu sudah diberitakan dalam al-Qur-ân, jadi kalau marah maka artinya tak paham al-Qur-ân.
🔥 Ummat Islâm yang berkumpul menuntut proses peradilan yang adil dan transparan terhadap si Kâfir Penista Kitâbullôh adalah “persatuan kebun bintang”.

Maka pertanyaannya adalah…

❓ Apakah masih mau belajar masalah agama kepada GPK Kokohiyyun itu?

▪ IQ itu given, stupid itu pilihan.

نَسْأَلُ اللهَ الْسَلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=171261966879309&id=145550472783792