Beredar sebuah poster yang katanya tanggapan dari seseustad terhadap kata-kata yang dipakai oleh Ustâdz Hanan Attaki, Lc حفظه الله (UHA) di dalam da‘wahnya kepada anak-anak muda sebagaimana gambar di bawah.

Kritik itu kelihatannya ‘ilmiyyah, namun pertanyaannya adalah benarkah kata-kata UHA itu bisa dianggap sebagai pelecehan terhadap asma’ wa shifat dari الله Subhânahu wa Ta‘âlâ?

Mari kita analisa satu-per-satu…
.
.
⚫ “Sweet”

Kalau dilihat di dictionary –English Dictionary ya, bukan Kamus Inggris-Indonesia– maka padanan dari kata “sweet” itu antara lain adalah: pleasing, delightful, amiable, kind, gracious, dear, beloved, precious.

Tak ada padanan kata “sweet” itu yang maksudnya “perendahan”, apalagi sebagai “penghinaan”, dalam Bahasa Inggris asli.

Jadi jangan bayangkan seperti cewe-cewe abege Zaman Now yang kalau dikasih hadiah sama cowonya langsung bilang: “cooo cuiiiiiit” ya…?

Karena insyâ’Allôh UHA tak begitu lah ya…!?!?

Sweet di situ bisa berarti ar-Rohmân, karena bukankah الله itu adalah Maha Baik?

Coba saja, kepada orang kâfir dan mempersekutukan-Nya saja الله tetap baik. Orang kâfir itu tetap الله beri rezeki, kesehatan, bahkan kekuatan untuk menindas orang Muslim.

Kurang “sweet” apa coba الله kepada orang kuffâr itu?

📌 Kata Baginda Nabî صلى الله عليه وسلم:

مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

(arti) _“Tiada seseorang pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya daripada Allôh. Manusia mendakwa bahwa Allôh memiliki anak. Namun Allôh mema’afkan dan masih memberi rezeki kepada mereka.”_ [HR al-Bukhôrî no 7378; Muslim no 2804; Ahmad no 18767].

Jadi, memang الله itu Maha Pengasih (ar-Rohmân), atau “sweet” kalau dalam Bahasa Inggris.

Tak ada bentuk penghinaan di situ, sehingga patut dipertanyakan di mana mengambil kesimpulan telah menghinanya?

Cobalah kalau mau menilai Bahasa Inggris, ya pahami dulu dengan benar kosa kata Bahasa Inggris, sehingga tidak mengartikannya secara sangat dangkal dan out of context.

UHA itu mencoba berbicara dengan bahasanya anak Zaman Now agar anak-anak muda itu tertarik kembali kepada Islâm dan Sunnah. Bukankah berbicara kepada manusia itu hendaknya dengan bahasa yang mereka pahami? Bahasa yang sesuai dengan kadar ke‘ilmuannya?

📍 Kata Shohâbat ‘Abdullôh ibn Mas‘ûd رضي الله عنه:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

(arti) “Tidaklah kamu berbicara kepada suatu kaum dengan suatu dengan pembicaraan yang (tidak) dipahami akal, melainkan akan terjadi fitnah pada sebagian mereka.” [Atsar Riwayat Muslim, Muqoddimah].

Jadi jangan pakai prasangka buruk, apalagi hasad dulu yang dikedepankan, karena UHA itu bukanlah a Hog. UHA adalah da‘i yang mengajak anak-anak muda kembali kepada الله dan Rosûl-Nya. Tak pantas vonis menghinakan asma’ wa shifat itu dijatuhkan kepada UHA.

Pun kalau masih menganggap tak pantas kata-kata “sweet” tersebut, maka bukankah sebaiknya ditabayyunkan langsung ke UHA? Tanyakan secara langsung maksudnya apa? Sehingga kalau ternyata memang keliru, ya nasihati langsung secara “empat mata”. Bukankah katanya menasihati itu harus empat mata? Jangan malah melontarkan tuduhan yang tidak-tidak kemudian menjatuhkan vonis bahwa UHA telah merendahkan asma’ wa shifat الله Subhânahu wa Ta‘âlâ.
.
.
⚫ “Japri aja ke Allôh” dan “do’a kita pasti diread sama Allôh”

Apakah itu juga bentuk penghinaan?

Coba perhatikan dengan seksama ayat suci berikut ini…

📌 Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

(arti) _“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan dari orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku.”_ [QS al-Baqoroh (2) ayat 186].

Perhatikan kalimat “wa idzâ sa-alaka ‘ibâdî ‘annî fâ-innî qorîb” → di mana الله Subhânahu wa Ta‘âlâ jelas-jelas menyatakan bahwasanya الله itu sangat dekat dengan hamba-Nya.

Jadi apa yang salah jikalau seseorang yang dekat dengan الله itu berdo’a – yang kalau pakai bahasa anak Zaman Now: “menjapri”…?

Bukankah do’a itu memang shifatnya adalah “jalur pribadi” antara seorang hamba dengan Robb-Nya?

Bahkan tak boleh ada perantara satu pun perantara di dalam do’a seorang hamba dengan الله Subhânahu wa Ta‘âlâ…!!!

Adapun mengatakan “pasti diread sama Allôh”, maka perhatikan lanjutan ayat suci tersebut di mana الله Subhânahu wa Ta‘âlâ mengatakan: “ujîbuda‘wataddâ-idzâ‘i idzâ da‘âni” → di sini الله Subhânahu wa Ta‘âlâ jelas-jelas menyatakan bahwa الله itu mengabulkan permohonan do’a dari hamba yang berdo’a kepada-Nya.

Jadi lagi-lagi tak ada yang salah dengan kata “japri” apabila itu maksudnya adalah “do’a”, dan juga tak ada yang salah dengan “pasti diread sama Allôh”, karena الله Subhânahu wa Ta‘âlâ itu mempunyai shifat as-Samî‘ (السميع = Maha Mendengar), dan الله itu mempunyai shifat al-Mujîb (المجيب = Maha Mengabulkan Permohonan).

Jadi insyâ’Allôh kalimat yang dikritikkan tersebut sama sekali tidaklah bertentangan dengan ‘aqidah ataupun telah melecehkan asma’ wa shifat الله Subhânahu wa Ta‘âlâ.
.
.
⚫ Hashtag “PemudaSALAHHijrah”

Ini benar-benar keterlaluan dan sangat sinis, bahkan sangat jahat!

Bagaimana tidak…?!

Apa standarnya sehingga bisa mengatakan orang pasti telah salah, sedangkan dirinya yang pasti benar?

☠ Ini benar-benar perilaku “anâ khoyrun-minhu” yang salafnya adalah Iblîs la‘natullôh…!

Bukankah…

☠ Seorang Muslim itu dilarang mentazkiyah dirinya sendiri sudah pasti suci?

📌 Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

(arti) _“Maka janganlah kamu mentazkiyah (menganggap) dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”_ [QS an-Najm (53) ayat 32].

Last but never the less…

☠ Berprasangka buruk kepada du‘ât ilallôh dengan menuduhnya telah menistakan asma’ wa shifat, bahkan telah salah dalam membimbing anak-anak muda berhijroh, itu adalah tuduhan yang jahat lagi keji.

Ingatlah bahwa prasangka buruk itu adalah dosa…!

📌 Kata Baginda Nabî صلى الله عليه و سلم:

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

(arti) _“Berhati-hatilah kalian dari berprasangka buruk, karena prasangka buruk itu adalah sedusta-dustanya ucapan.”_ [HR al-Bukhôrî no 6064, 6066, 6724; Muslim no 2563; Abû Dâwud no 4917; at-Tirmidzî no 1988; Ahmad no 6064, 7520, 7770, 8148, 9620, 9698, 9681, 9979, 10149, 10283, 10527; Mâlik no 1730].

نَسْأَلُ اللهَ الْسَلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ