Ada empat pendapat dalam lingkup mazhab Hanbali seputar memberikan dan menjawab tahniah ucapan “Taqabbalallāhu minnā wa minkum”, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Muflih dalam al-Furū’:

1. Boleh, sebagaimana dinukil al-Maimūniy dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata, Ada lebih dari satu riwayat (dari sahabat) dalam hal itu.

2. Dari Imam Ahmad, Memulainya adalah baik, begitu pula menjawabnya.

3. Dari Imam Ahmad (dalam riwayat lain), Aku tidak memulai lebih dulu, namun apabila ada yang mengucapkannya, maka aku jawab. Ini adalah riwayat al-Maimūniy yang dikutip oleh al-Khallāl dalam al-‘Ilal.

4. Diriwayatkan juga dari Imam Ahmad kemakruhan ucapan tahniah, sebagaimana dikutip oleh penulis al-Furū’. Menurut Ali bin Said, Aku tidak menilai beliau memakruhkan melainkan apabila menimbulkan syuhrah.

Catatan:

1. Tentang riwayat ketiga, Ibnu Taimiyyah berkata, Ungkapan Ahmad, Aku tidak memulainya, namun apabila seorang mengucapkannya kepadaku akan aku balas, maknanya adalah karena menjawab ucapan semisal salam adalah wajib.

Kemudian beliau melanjutkan, Memulai ucapan tahniah bukanlah sebuah sunah yang diperintahkan juga bukan hal terlarang. Siapa yang melakukannya, ia mempunyai teladan dan siapa yang meninggalkannya juga memiliki teladan. Allahu A’lam.

2. Penafsiran Ali bin Said untuk riwayat dari Imam Ahmad yang keempat maknanya adalah sebagaimana dijelaskan Ibnu Rajab al-Hanbaliy, Tampaknya Imam Ahmad mengisyaratkan hal itu akan menjadikan seorang yang beragama dengan baik menjadi tersohor lantas dimintai doa. Oleh karenanya dimakruhkan karena pada hal itu terdapat syuhrah (popularitas negatif).