Oleh: Guntara Nugraha Andiana

Setiap kali ada yang bertanya, jawaban saya langsung mengarahkan kepada tadabbur. Kenapa demikian?

Karena inilah metode yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khusus di bulan Ramadhan, Al Quran dimasukkan ke dalam dada sang Nabi sedikit demi sedikit, begitu seterusnya di Ramadhan-ramadhan berikutnya sampai Rasulullah wafat.

Pun dengan Rasulullah mengajarkan para sahabat sedikit demi sedikit sampai tertanam kokoh di relung sanubari mereka.

Jika mencontoh salaf, mereka tidak melanjut hafalan sebelum membaca perlahan, memahami, merengungi kemudian mengamalkan, itupun umumnya beberapa ayat saja, setelah itu baru nambah hafalannya.

Sekelas Zaid bin Harist, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud yang dikenal kuat hafalannya saja, membacanya dengan penuh tadabbur sabagaimana diajarkan langsung dari Rasulullah.

Kita tidak akan mendapati para sahabat banyak khatam dalam waktu singkat, kecuali mendapat teguran halus langsung dari Rasulullah agar membaca quran dengan banyak tadabbur, bukan sebaliknya.

Bayangkan sekelas Rasulullah, manusia terbaik yang Al Quran turun kepadanya dengan bahasa Arab untuk pelajaran bagi semesta, pernah shalat malam hanya dengan membaca 1 ayat saja, semalam suntuk diulang-ulang sampai datang waktu subuh.

Para sahabat yang menyaksikan, sang Nabi membaca ayat yang berbunyi:

إن تعذبهم فإنهم عبادك….الخ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu (Ya Allah)….dst”. (QS. Al Ma-idah: 118)

Rasulullah kemudian ruku, sujud dan bangkit, dan di rakaat setelahnya masih membaca ayat yang sama dengan diulang-ulang, begitu seterusnya “hatta asbaha”, sampai masuk waktu subuh.

Di sebagian salaf juga ada yang semalam suntuk hanya membaca 1 ayat saja,

ام حسب الذين اجتر حوا السيات ان نجعلهم كالذين امنوا وعملوا الصالحات….الخ

“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (itu sama?)……dst”. (QS. Al Jatsiyah: 21)

Sebagian lainnya hanya membaca ayat,

اذ الاغلال في اعناقهم والسلاسل يسحبون

“Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret (ke dalam air yang sangat panas” (QS. Ghafir: 71)

Lalu bagaimana dengan para imam dan ulama yang konon bisa mengkhatamkan Al Quran puluhan kali selama Ramadhan?

Pertama, mereka itu para imam yang memiliki wawasan yang luas, seseorang baru bisa dikatakan imam ketika ilmunya bak samudera, sekali baca sudah bisa terurai puluhan bahkan ratusan kaidah dan faidah.

Bagaimana dengan kita? Berapa banyak kaidah didapat?

Kedua, kebiasaan para imam lebih bersifat personal, karena jika mengikuti kebiasaan Rasulullah dan para salaf, ya sedikit demi sedikit sampai benar-benar bisa diamalkan, jadi bukan sekedar komat-kamit seperti baca mantra.

Ketiga, para imam membaca cepat tentu dengan aturan, mutqin (hafalan sangat kuat), menguasai bahasa Arab, tadabbur, tajwid dan khusu’ tentunya. Memangnya kita bisa baca cepat dengan benar tanpa mengurangi hak-hak di setiap hurufnya? Atau hafalan anda sudah mutqin?

Keempat, jika saja Rasulullah masih hidup, apakah beliau akan menegur para imam dan anda-anda yang memaksakan khatam banyak-banyak dalam waktu singkat?

Tentu saja akan ditegur, lah wong para sahabat saja dinasehati agar tidak memforsir dalam mengkhatamkan quran, dan tentunya teguran sang Nabi kepada anda dengan penuh perhatian dan sentuhan kasih sayang.

Terakhir, perintah banyak mentadaburi Al Quran senada dengan firman Allah dan isyarat kebiasaan para salaf di atas.

افلا يتدربون القران ام على قلوب اقفالها

“Maka tidakkah mereka menghayati Al Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Menurut syeikh Redho Abdul Muhsin, imam besar masjid Bilal bin Rabah Kairo, bentuk tadabbur seseorang dalam membaca Al Quran adalah dengan banyak mengulang ayatNya.

Bagaimana dengan banyak khatam dalam waktu super singkat, adakah petunjuknya?!

Semoga bermanfaat.

Al Faqir,

Depok, 1 Syawal (15 Juni 2018)

===MOHON MAAF LAHIR & BATIN KAWANS===