Shalat hari raya hukumnya tidak wajib ‘ain (tidak wajib atas setiap individu muslim) berdasarkan ijma’ (konsensus) ulama’. Dan ijma’, merupakan hujjah dalam syari’at Islam. Hal ini dinyatakan oleh Imam An-Nawawi –rahimahullah- dalam “Al-Majmu” (5/2) :

وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ صَلَاةَ الْعِيدِ مَشْرُوعَةٌ وَعَلَى أَنَّهَا لَيْسَتْ فَرْضَ عَيْنٍ وَنَصَّ الشَّافِعِيُّ وَجُمْهُورُ الْأَصْحَابِ عَلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ

“Kaum muslimin telah sepakat sesungguhnya shalat hari raya disyari’atkan dan hal itu tidak wajib atas individu. Asy-Syafi’i dan mayoritas para sahabat(nya) menyatakan bahwa sesungguhnya hal itu sunnah.” – selesai –

Lalu ada sebagian pihak yang menukil ucapan Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah- dalam “Al-Mukhtashar” yang sekilas mewajibkan shalat hari raya. Beliau berkata :

مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْجُمُعَةِ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْعِيدَيْنِ

“Siapa yang wajib hadir shalat Jum’at, maka wajib hadir shalat hari raya”.

Untuk memahami ucapan-ucapan imam Asy-Syafi’i, kita perlu merujuk kepada para ulama’ Asy-Syafi’iyyah. Terutama murid-murid beliau dan para ulama’ besar dalam madzhab tersebut. Karena merekalah orang-orang yang paling memahminya. Terkhusus dalam ucapan-ucapan beliau yang sekilas bertentangan dengan dalil atau ijma’ muslimin. Jangan terburu-buru menyimpulkan, sampai kita merujuk kepada mereka. Salah satu contohnya dalam masalah hukum shalat hari raya.

Sekilas, memang benar bahwa ucapan beliau ini menunjukkan bahwa shalat hari raya hukumnya wajib. Akan tetapi hal ini menyelisihi ijma’ yang menyatakan shalat hari raya hukumnya tidak wajib. Oleh karena itu, ucapan beliau harus ditakwil kepada makna lain. Imam An-Nawawi memberikan tiga penafsiran yang beliau nukil dari para ulama’ Syafi’iyyah. Beliau menyatakan :

قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ مَنْ لَزِمَتْهُ الْجُمُعَةُ حَتْمًا لَزِمَهُ الْعِيدُ نَدْبًا وَاخْتِيَارًا وَقَالَ الْإِصْطَخْرِيُّ مَعْنَاهُ مَنْ لَزِمَتْهُ الْجُمُعَةُ فَرْضًا لَزِمَهُ الْعِيدُ كِفَايَةً قَالَ أَصْحَابُنَا وَمُرَادُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْعِيدَ يَتَأَكَّدُ فِي حَقِّ مَنْ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ

“(1). Abu Ishaq berkata : Barang siapa yang shalat Jum’at harus baginya, maka shalat hari raya harus baginya secara anjuran dan pilihan. (2). Al-Ishtharkhi berkata : Maknanya, Siapa yang shalat Jum’at harus baginya secara fardhu, maka shalat hari raya harus baginya secara kifayah. (3).Para sahabat kami berkata : Yang dimaksud ucapan Asy-Syafi’i, sesungguhnya shalat hari raya sangat ditekankan pada diri orang yang shalat Jum’at harus baginya.”

~ Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 5/3 ~

Dengan demikian, jelaslah bahwa Imam Asy-Syafi’i tidak mewajibkan shalat hari raya dan tidak menyelisihi ijma’. Walau tidak wajib, bukan berarti kita remehkan kemudian kita tinggalkan. Sunnah, merupakan perkara yang selayaknya kita hidupkan. Jika bukan kita umat Islam, siapa lagi. Terlebih hal ini hanya terjadi setahun sekali dan merupakan syi’ar besar umat Islam. Penjelasan dalam tulisan ini hanya ingin mendudukkan suatu hukum secara proposional sesuai dalil dan kaidah syar’i, bukan mengajak untuk meninggalkannya. Al-Hamdulillah Rabbil ‘alamin.

28 Ramadhan 1439 H
Abdullah Al-Jirani