(Kajian #AWAramadhan18 ke 12: Sifat Muridun bi-iradah)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Seluruh makhluk yang berkesadaran dianugerahi kemampuan untuk berkehendak. Dengan kemampuan ini, manusia dapat memilih secara bebas akan melakukan hal apapun yang dia kehendaki. Namun kehendak manusia terbatas sebab tak semua yang dikehendakinya akan menjadi nyata. Kehendak makhluk tak lain hanyalah berupa keingingan dan rencana saja sedangkan realisasinya sama sekali di luar kemampuannya. Manusia hanya bisa berusaha merealisasikan kehendaknya, bukan mewujudkan kehendaknya menjadi nyata. Kehendak manusia juga dibatasi dengan berbagai situasi yang mengharuskannya bersikap realistis.

Akan tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan, maka situasinya jauh berbeda. Tuhan pastilah punya kehendak yang bebas dan mutlak terjadi tanpa butuh proses dan tak bisa dihalangi siapapun. Kehendak yang bebas dan mutlak inilah yang disebut sebagai sifat Iradah oleh para ulama. Ini adalah salah satu sifat yang pasti (wajib) dimiliki oleh Tuhan sebab kalau Tuhan tidak punya sifat ini berarti dia bukanlah Tuhan yang sejati. Mustahil Tuhan yang sejati melakukan sesuatu di luar kehendaknya, baik karena terpaksa, karena butuh, karena merasa harus, karena didesak pihak luar atau karena alasan apapun yang membuatnya tidak independen dalam bertindak. Bila kehendak Tuhan masih bisa dipengaruhi pihak lain, maka pasti dia bukan Tuhan. Ini adalah kesimpulan rasional yang tak terbantahkan.

Dari segi dalil naqli, sifat kehendak mutlak Tuhan ini dapat kita baca dari ayat-ayat berikut:
فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ [هود: 107]
“Allah Maha melakukan apa yang dikehendakinya”

إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ [الحج: 14]
“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang dikehendakinya”

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ [الإنسان: 30]
“Kalian takkan bekerhendak kecuali Allah menghendaki”

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ [البقرة: 253]
“Kalau Allah mau, maka mereka takkan berperang. Tetapi Allah melakukan apa yang dikehendakinya”.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ [الأنبياء: 23]
“Allah tak dapat ditanya tentang apa yang Dia lekukan tetapi merekalah yang ditanya”.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [يس: 82]
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”.

Ayat-ayat di atas menginformasikan beberapa hal berikut:
1. Kehendak Allah bersifat bebas tanpa terikat apapun
2. Kehendak Allah bersifat mutlak tanpa dipengaruhi apapun
3. Kehendak Allah tak bisa ditanya atau dipersoalkan sebab seluruh kejadian merupakan hak prerogatif Allah
4. Kehendak manusia juga berada dalam kontrol kehendak Allah
5. Kehendak Allah bukanlah sebuah rencana atau usaha, melainkan sesuatu yang pasti terjadi seketika itu juga.

Berdasarkan itu semua, para ulama Ahlusssunnah menetapkan dua sifat lagi yang pasti (wajib) dimiliki Allah, yaitu:

1. Sifat Iradah (kehendak mutlak dan bebas). Ini disebut sifat makna.
2. Sifat Muridan (Yang Maha berkehendak mutlak dan bebas). Ini adalah kondisi atau status Tuhan yang selalu memakai sifat iradah itu. Ini disebut sifat maknawiyah.

Dengan ini kita tahu bahwa Tuhan itu sama sekali tidak wajib melakukan apapun, tidak bisa dipaksa melakukan apapun, tidak harus tunduk pada aturan apapun. Kesempurnaan sifatnya, keagungannya dan kekuasaannya yang tak terbatas, semuanya meniscayakan adanya kehendak yang bebas-sebebasnya. Dalam poin inilah kita tahu bahwa Allah itu tidak wajib memberi, tidak wajib mengasihi, tidak wajib mengabulkan doa, tidak wajib menolong, tidak wajib memasukkan orang ke surga, dan tidak wajib melakukan apapun. Semua itu terserah pada Allah yang memegang hak prerogatif tanpa batas. Hanya saja kita mendapat informasi dari langit bahwa Allah itu berkehendak untuk memberi dan mengabulkan doa siapapun yang Allah mau, berkehendak untuk menolong siapapun yang Allah kehendaki, berkehendak untuk memasukkan hamba yang dikehendakinya ke surga dan berkehendak untuk menjadi ar-Rahman dan ar-Rahim.

Semua kebaikan yang kita terima dari Tuhan merupakan anugerah dan kemurahan, bukan suatu kewajiban yang harus Tuhan lakukan. Sebab itulah disyariatkan untuk selalu bersyukur. Bila berbuat yang enak-enak kepada makhluk merupakan tugas Tuhan yang harus Dia lakukan, maka seharusnya makhluk tak perlu lagi bersyukur padanya sebab itu sudah kewajibannya. Ketika itu kejadiannya, maka Tuhan hanya akan jadi pelayan bagi makhluknya. Ini mustahil dan menodai kesempurnaan Tuhan.

Segala kejadian tidak enak yang terjadi merupakan bagian dari kehendak Tuhan yang tak bisa digugat atau dipertanyakan. Sebab itulah disyariatkan untuk sabar dan tawakkal. Bila Tuhan dilarang berbuat yang tidak enak, maka seharusnya makhluk tak perlu disuruh bersabar tetapi berhak untuk menggugat dan menyalahkan. Ketika itu kejadiannya, maka Tuhan hanya akan jadi pelayan bagi makhluknya. Ini mustahil dan menodai kesempurnaan Tuhan.

Dalam poin inilah para Muktazilah gagal paham dengan menyangka bahwa Allah harus melakukan yang paling baik bagi manusia. Dalam teori mereka, manusia harus dibalas persis sesuai apa yang telah diusahakannya. Bila manusia berbuat sedikit maka dibalas sedikit, bila berbuat banyak dibalas banyak, bila berbuat salah dibalas dosa, bila berbuat benar dibalas pahala. Bagi mereka, Allah wajib mematuhi aturan ini.

Akhirnya, Imam Abu Hasan al-Asy’ari meruntuhkan konsepsi mereka ini dengan mengajukan pertanyaan kepada Imam besar Muktazilah bernama al-Jubba’i yang menjadi gurunya. Berikut dialognya:

“Bagaimana pendapatmu tentang nasib tiga orang yang meninggal dunia, yang satu muslim, satunya orang kafir dan satunya lagi anak kecil?” Tanya al-Asy’ari.

“Orang Mukmin akan memperoleh derajat yang tinggi, orang kafir akan celaka, dan anak kecil akan selamat”, jawab Al-Jubba’i.

“Mungkinkah anak kecil itu meminta derajat yang tinggi kepada Allah?”

“Oh tidak mungkin, karena Allah akan berkata kepada anak itu, “Orang mukmin itu memperoleh derajat tinggi karena amalnya, sedangkan kamu belum sempat beramal. jadi kamu belum bisa memperoleh derajat itu”

“Bagaimana kalau anak kecil itu menggugat kepada Allah dan berkata, “Tuhan, demikian itu bukan salahku, andaikan Engkau berikan aku umur yang panjang, aku pasti akan beramal seperti orang mukmin itu”

“Oh tidak bisa, Allah akan menjawab, “Oh, bukan begitu, justru aku telah mengetahui, bahwa apabila kamu diberikan umur panjang maka kamu akan durhaka, sehingga nantinya kamu disiksa, oleh sebab itu, untuk menjaga keselamatanmu, Aku matikan kamu sewaktu masih kecil, sebelum kamu mencapai usia mukallaf”

“Bagaimana seandainya orang kafir menggugat kepada Allah dengan berkata, “Tuhan, engkau telah mengetahui masa depan anak kecil itu dan juga pasti dengan masa depanku. Tetapi kenapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku, dengan mematikan aku sewaktu masih kecil dulu, sehingga aku bisa tergolong selamat seperti anak kecil itu, dan kenapa Engkau berikan aku umur panjang sampai dewasa dan tertaklif sehingga aku menjadi orang kafir dan akhirnya aku disiksa seperti sekarang ini?”

Mendengar pertanyaan itu, Al-Jubba’i tidak mampu menjawabanya. Dia hanya berkata bahwa al-Asy’ari tak berniat bertanya melainkan hanya menggugatnya. Sejak itulah, Abu Hasan al-Asy’ari mengalami kebimbangan yang luar biasa terhadap akidah muktazilah yang sejak kecil diyakininya. Akhirnya beliau bermimpi bertemu Rasulullah yang memerintahkan beliau untuk berpikir ulang dan membela ajaran Rasulullah dengan ilmu kalam yang dia miliki.

Setelah itu, beliau mendeklarasikan taubatnya dari ajaran Muktazilah di depan khalayak ramai dan meruntuhkan seluruh sendi-sendi ajaran Muktazilah yang berpaham Jahmiyah itu dengan argumen rasional dan tekstual yang kokoh. Para ulama pun kemudian berbondong-bondong mengikuti metode beliau sehingga belakangan dikenal sebagai mazhab Asy’ariyah. Sejatinya, tak ada mazhab yang bernama Asy’ariyah itu. Yang ada hanyalah metode memahami al-Qur’an dan as-Sunnah secara objektif sesuai dengan ajaran Rasulullah dan ulama salaf melalui dalil-dalil rasional dan tekstual yang sistematis dan berimbang sebagaimana dipelopori oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari. Atau dengan kata lain, mazhab Asy’ariyah hanyalah cara untuk menghidupkan ajaran lama dengan hujjah-hujjah baru yang relevan dengan tantangan zaman.

Dari paparan panjang lebar ini, kita tahu betapa rapuhnya argumen pamungkas para Ateis yang mereka sebut sebagai Trilemma Epicurus. Trilemma Epicurus ini adalah tiga gugatan yang membuat serba salah yang ujungnya mempertanyakan keberadaan Tuhan, yaitu:

– Apakah Tuhan mau, tapi tidak mam­pu me­lenyap­kan ke­ja­hatan (evil)? Kalau Ya, berarti Dia tidak Ma­ha Kuasa.

– Apakah Tuhan mam­pu, tapi tidak mau me­lenyap­kan ke­ja­hatan? Kalau Ya, berarti Dia tidak Ma­ha Pen­gasih.

– Ji­ka Tuhan mam­pu dan mau me­lenyap­kan ke­ja­hatan, men­ga­pa masih ada ke­ja­hatan sam­pai sekarang? Dan, ji­ka Tuhan tidak mam­pu dan tidak mau me­lenyap­kan ke­ja­hatan, ke­na­pa masih dise­but Tuhan?

Itulah tiga dilemma yang menjadi hujjah para ateis untuk menyerang orang yang beragama. Mereka tak paham sifat kesempurnaan Tuhan. Bila kita paham sifat Qudrah dan Iradah Allah, maka pertanyaan mereka itu mudah sekali dijawab sebagai berikut:

– Apakah Tuhan mau, tapi tidak mam­pu me­lenyap­kan ke­ja­hatan (evil)? Sangat mampu sebab kemampuannya tak terbatas.

– Kalau mampu tapi tak mau melenyapkannya berarti Tuhan tidak Maha Pengasih? Tuhan punya kehendak mutlak yang tak terbatas. Kehendak Tuhan tak bisa diatur-atur manusia. Terserah Dia mau mengasihi siapa dan mau mencelakakan siapa. Sifar asih bukanlah sifat yang wajib bagi Tuhan. Tuhan mengasihi siapa yang dikehendaki dan menghukum siapa yang dikehendaki. Meski demikian, Dia tetaplah Tuhan.

– Ji­ka Tuhan mam­pu dan mau me­lenyap­kan ke­ja­hatan, men­ga­pa masih ada ke­ja­hatan sam­pai sekarang? Pertanyaan ini tidak relevan sebab mau tidaknya Tuhan melakukan itu adalah hak prerogatifnya sebagai Tuhan. Manusia tak bisa mengatur Tuhan harus melenyapkan kejahatan. Terserah Tuhan mau menciptakan Iblis, kejahatan, penyakit, kematian atau kecelakaan sebagai ujian bagi para hambanya. Keberadaan semua yang jahat dan tidak enak itu bukan karena Tuhan tak mampu menghilangkannya tetapi karena Dia menggunakan hak prerogatifnya untuk berbuat apapun. Pada akhirnya, yang sabar dan lulus ujian tetap akan mendapat balasan yang terbaik di Surga. Kasih sayang Tuhan tak hanya bisa diukur di dunia tetapi juga nanti di akhirat.

– Ji­ka Tuhan tidak mam­pu dan tidak mau me­lenyap­kan ke­ja­hatan, ke­na­pa masih dise­but Tuhan? Pertanyaan ini gugur dengan sendirinya.

Setelah kita membahas miskonsepsi para ateis, tinggal satu hal lagi yang mengganjal di hati banyak kaum muslimin. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya merupakan pertanyaan iseng namun menjadi perdebatan yang sangat panjang, yaitu: Kalau kehendak Allah begitu mutlaknya, maka apakah manusia masih bebas berkehendak ataukah manusia tak punya daya apa-apa lagi seperti bulu yang tertiup angin?

Kaum muslimin terbagi menjadi tiga golongan dalam menjawab pertanyaan itu, yaitu:

1. Manusia sama sekali tak punya kehendak bebas. Semua atas kehendak Allah semata. Manusia tak lebih seperti boneka yang digerakkan Tuhan atau bulu yang tergantung yang terserah mau diarahkan ke mana oleh angin tanpa bisa menolak. Ini adalah paham bid’ah Jabariyah. Paham ini tidak sesuai dengan realita dan tidak sesuai dengan keberadaan aturan Syariat yang menyuruh ini dan itu dan melarang ini dan itu. Bila manusia tak punya kontrol terhadap dirinya, tentu seluruh aturan syariat menjadi tidak relevan.

2. Manusia punya kehendak bebas yang terlepas dari kehendak Tuhan. Allah memberikan kemampuan dan kemandirian kepada manusia yang dari situlah nanti akan dinilai dia berhak mendapat pahala atau dosa. Ini adalah paham bid’ah Muktazilah. Paham ini membatasi kehendak dan kontrol Tuhan yang maha sempurna.

3. Manusia punya kehendak dan bisa berusaha melakukan kehendaknya itu, tetapi kehendak dan perbuatannya hanya mungkin terealisasi dengan kehendak dan perbuatan Tuhan. Dengan kata lain, manusia adalah pelaku (muktasib) dari perbuatannya (kasabnya) sedangkan Allah adalah pencipta perbuatan itu sendiri. Manusia diberi pahala atau dosa sebab kasabnya itu tadi. Ini adalah paham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kalau anda masih bingung tentang konsep ini, maka tak usah dipikir terlalu mendalam. Cukuplah diingat ketika tadi anda lapar anda mencari makanan dan lalu makan lalu kenyang. Ketika melakukan itu semua anda tidak merasa terpaksa atau dipengaruhi siapapun bukan? Itu semua menjadi bukti anda bisa punya kehendak dan bisa berusaha. Tapi anda juga harus ingat bahwa ada juga orang yang lapar tetapi tak menemukan makanan, kalau pun menemukan makanan tak semua orang bisa menelannya, kalau pun bisa menelannya tak semua orang bisa kenyang sebab ada yang langsung muntah. Itu semua jadi bukti bahwa kehendak dan usaha manusia tak bisa mewujudkan apapun tanpa adanya kehendak Tuhan.

Semua pengetahuan tentang Iradah Tuhan ini cukup menjadi akidah yang kita yakini benar, tak perlu dibawa ke alam nyata hingga jadi alasan dan pembenaran terhadap kemalasan, kejahatan atau keburukan yang manusia lakukan. Bila ada yang berdalih bahwa keburukan yang dia lakukan sudah menjadi takdir atau kehendak Tuhan sehingga dia tak terima bila disalahkan, maka tamparlah dia. Kalau dia mengeluh, maka katakan bahwa tamparan itu juga takdir dan kehendak Tuhan yang tak boleh dia keluhkan. Namun bila ada yang secara berlebihan menyalahkan makhluk atas keburukan yang terlanjur terjadi, maka dia perlu diingatkan bahwa semuanya terjadi atas kehendak Tuhan sehingga orang itu bisa sadar dan bersabar.

Cukuplah bagi kita dengan resep sederhana dari Rasulullah ketika membahas tentang takdir, اعملوا فكل ميسر “Lakukanlah, maka semuanya akan dipermudah”. Tak perlu dipikir ruwet.

Semoga bermanfaat.