(Kajian #AWAramadhan18 ke 7: Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Tuhan yang menciptakan segala sesuatu pastilah berbeda dari makhluknya. Kalau masih sama, maka untuk apa disembah dan dipertuhankan? Pemikiran bahwa Tuhan pasti berbeda ini merupakan ide dasar dalam seluruh keyakinan tentang Tuhan di seantero planet ini. Tak peduli objek apapun yang dianggap Tuhan, pasti orang yang menuhankannya akan meyakini bahwa sesembahannya berbeda dengan dirinya. Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadi alasan seseorang menyembah Tuhannya masing-masing. Perbedaan antara Tuhan dan manusia adalah konsep yang diterima oleh semua golongan sehingga tak perlu saya bahas panjang lebar lagi untuk menetapkannya.

Namun seberapa berbeda Tuhan itu? Dalam sisi apa perbedaannya? Dalam poin inilah para manusia berbeda pendapat dan berdebat tak ada habisnya.

Ada yang meyakini bahwa perbedaannya hanya dalam jenis dan kekuatan saja; Zeus misalnya, diyakini bukan dari jenis manusia tetapi sosoknya seperti manusia pada umumnya yang makan, minum, berjenis kelamin lelaki, melakukan hubungan badan dengan perempuan dan punya anak. Perbedaannya, Zeus diyakini orang-orang Yunani kuno sebagai sosok yang sakti luar biasa sehingga dia disembah. Selain kesaktiannya yang melebihi tukang sulap, tukang sihir, superman atau wonder woman, tak ada yang spesial dari sosok itu. Andai tipe Tuhan seperti ini muncul di era ini, pasti dilamar untuk dijadikan bintang film bersama Avengers. Toh ada sosok Thor, sang dewa petir dalam grup itu yang sama-sama bukan manusia.

Ada yang meyakini bahwa perbedaannya hanya dalam segi manfaatnya saja; Matahari disembah sebagian orang sebab manfaatnya nyata dirasakan manusia. Gunung, pepohonan, api dan benda-benda alam juga punya manfaat yang besar bagi keberlangsungan kehidupan sehingga ada yang menyembahnya di masa lalu dan takut akan “kemarahannya”. Selain kemanfaatan yang ajeg setiap harinya, tak ada yang spesial dari itu semua.

Ada yang meyakini perbedaan Tuhan dan manusia adalah soal kasat mata atau tidaknya; Manusia dan makhluk lainnya yang kasat mata dianggap biasa. Sedangkan roh, jin, malaikat dan kekuatan-kekuatan ghaib lainnya, apapun namanya, tidak kasat mata sehingga dianggap misterius dan hebat. Akhirnya yang tak kelihatan itu disembah-sembah dan dimintai sesuatu. Padahal banyak juga makhluk tak terlihat yang diusir-usir dan ditangkal dengan berbagai cara. Aneh memang mereka ini, yang sejenis dengan Tuhannya bisa diusir dan ditangkal. Kebanyakan kelompok ini meyakini kekuatan tak kasat mata yang mereka sembah itu berada di balik sosok tertentu yang kasat mata seperti arca, gambar, pohon tua, kuburan dan apapun itu yang mereka yakini merepresentasikan sosok Tuhan yang ghaib yang punya kekuatan di atas manusia.

Ada yang sedikit lebih “cerdas” dari tipe sebelumnya di atas. Mereka tak mau menyembah semua yang masih ada di bumi meskipun tak kasat mata sebab bagi mereka itu tak berbeda. Mereka meyakini perbedaannya adalah Tuhan berada di tempat yang tinggi di atas sana dan mengamati dari jauh, bukan di sekitar kita. Akhirnya disembahlah bintang-bintang dan planet yang bersinar terang (dulu diyakini semua yang bersinar di langit adalah bintang). Mereka yakin bahwa benda-benda angkasa itu dapat menentukan nasib manusia. Kini, benda-benda angkasa yang pernah disembah manusia itu tak lebih dari sekedar objek penelitian dan observasi yang tak ada satupun manusia berakal sehat yang mau menyembahnya.

Ada juga yang meyakini perbedaannya adalah dari segi ukuran dan bentuk saja, selain kesaktian tentunya. Semua golongan ini sepakat bahwa ukuran dan bentuk Tuhan pasti lebih besar dari manusia. Namun seberapa besar? Mereka berselisih soal ini:

– Ada yang mengatakan ukurannya sekitar 60 dira’ (sekitar 30 meter) seperti ukuran Nabi Adam dan dalam bentuk manusia.
– Ada yang meyakini ukurannya besar sekali dalam bentuk tidak seperti manusia meskipun juga punya organ seperti halnya manusia juga punya organ. Menurut mereka, ukuran Tuhan dibatasi enam arah, maksudnya dia bisa dilihat dari keenam arah: atas, bawah, depan, belakang, kanan, kiri.
– Ada juga yang meyakini bahwa ukurannya hanya dibatasi arah bawah, maksudnya kita hanya bisa melihatnya dari bawah dan selalu menunjuknya ada di atas. Adapun dari sisi lainnya tidak mungkin sebab terlalu besar.
– Ada juga yang meyakini ukurannya sebesar Arasy sehingga memenuhi seluruh Arasy tanpa sejengkal pun tersisa.
– Ada juga yang meyakini ukurannya sedikit lebih kecil dari Arasy sehingga ada beberapa jengkal yang bisa ditempati Nabi Muhammad nanti sebagai tempat paling mulia bagi beliau.
– Ada juga yang mengingkari adanya batasan tertentu, pokoknya Tuhan itu besar sekali (‘Adzim, Akbar).

Soal bentuk Tuhan, golongan ini juga berbeda-beda keyakinannya. Ada yang mengatakan bentuk Tuhan sama seperti bentuk Adam, yakni berbentuk manusia meskipun semua sepakat bahwa Tuhan bukanlah dari jenis manusia. Ada yang mengatakan bahwa bentuknya tidak jelas betul, punya beberapa organ tubuh seperti wajah (wajhun), mata (‘ain), dua tangan (yadani), sisi badan (janbun), betis (saq), kaki (qadam) dan beberapa hal lain tetapi tak punya pencernaan sebab tak makan dan tak punya kelamin sebab tak beranak. Ada juga dari mereka yang mengindikasikan bahwa Tuhan punya semua anggota tubuh yang dipunyai manusia kecuali jenggot dan aurat (kelamin).

Ada juga yang meyakini bentuk Tuhan sama sekali berbeda dari manusia; dalam golongan ini, ada yang meyakini Tuhan berbentuk gajah, sapi, ular, atau sosok yang tak lumrah yang sangat beragam.

Mereka semua di atas hanya melihat perbedaan antara Tuhan dan manusia semata dari dua segi saja, yaitu: derajat kehebatan dan derajat ukuran semata. Andai kita nilai kehebatan dan ukuran Tuhan sebagai 100%, maka mereka berselisih tentang prosentase nilai manusia dari yang seratus persen itu, apakah 1%, 2% atau lebih dari itu atau malah nol koma nol sekian persennya. Tetapi intinya antara Tuhan dan manusia tak betul-betul berbeda secara mutlak sehingga tak relevan lagi dibandingkan. Dalam konsep ini, baik ukuran dan kehebatan Tuhan selalu bisa dibandingkan dengan manusia sebab Tuhan punya batasan-batasan juga.

Perbedaan jenis Tuhan dan manusia dalam benak semua orang di atas adalah sama dengan berbedanya jenis manusia dengan jin, dengan malaikat, dengan benda-benda atau dengan hewan-hewan. Yang berbeda adalah unsur pembentuknya saja, partikel penyusunnya, DNA-nya, berat jenisnya, dan seterusnya. Akan tetapi semuanya menempat dalam ruang dan waktu, semuanya mengalami peubahan.

Semua yang disebut di atas adalah sesat dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka adalah seluruh aliran atau agama dari berbagai belahan dunia, mulai dari animisme, dinamisme, penyembah berhala, shabi’in, agama-agama selain Islam, para mujassimah dengan seluruh ragamnya dan para musyabbihah dengan seluruh perbedaan pendapatnya. Detail-detail tentang mereka bisa dilacak di berbagai literatur yang terlalu panjang bila kita bahas di sini. Tapi perlu dicatat bahwa mereka semua di atas yakin seyakin yakinnya bahwa sesembahan mereka benar dan akidah mereka tepat. Bila masing-masing kelompok di atas bertemu, maka takkan bisa ketemu mana yang betul-betul benar sebab seluruhnya hanya berdasarkan klaim dan dogma saja, bukan nalar yang sehat.

Lalu bagaimana yang betul-betul benar? Dalam segi apakah perbedaan Tuhan itu seharusnya? Dan kenapa semua perbedaan di atas tak layak diyakini sebagai pembeda antara Tuhan dan manusia? Insya Allah akan kita akan bahas pada kajian sifat Mukhalafatu lil hawaditsi berikutnya sesuai tuntunan al-Qur’an dan pemahaman yang baik atasnya.

Meskipun belum selesai, tapi semoga kadar ini bermanfaat sebagai pembuka wawasan.