Disebutkan oleh Imam Abu Dawud As-Sijistani –rahimahullah- dalam “Masail Imam Ahmad” Bab : Shalat tanpa menghadap sutrah dan garis :

سَمِعْتُ أَحْمَدَ، : سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ صَلَّى فِي فَضَاءٍ، لَيْسَ بَيْنَ يَدَيْهِ سُتْرَةٌ وَلَا خَطٌّ؟ فَقَالَ: صَلَاتُهُ جَائِزَةٌ . قُلْتُ لِأَحْمَدَ : الْخَطُّ بِالطُّولِ إِذَا لَمْ يَجِدْ عَصًا؟ فَقَالَ: هَكَذَا.

Aku (Abu Dawud As-Sijistani) pernah mendengar Ahmad (bin Hanbal) ditanya tentang seorang yang shalat di padang luas tanpa ada sutrah atau garis di depannya ? Beliau menjawab : “Shalatnya (seperti itu) boleh.” Aku berkata kepada Ahmad (bin Hanbal) : “(Menggunakan) garis dengan panjangnya (untuk sutrah) jika tidak mendapatkan tongkat ?”. Beliau menjawab : “(Ya) demikian itu.” –selesai penukilan-

~ Masail Al-Imam Ahmad – riwayat Abu Dawud As-Sijistani : 66 ~

Faidah :

1). Shalat tanpa menghadap sutrah, entah berupa tongkat atau garis hukumnya boleh. Bahkan nabi -shallallahu alaihi wa sallam- pernah shalat tanpa sutrah.
2). Sutrah dengan garis hukumnya boleh, apalagi jika tidak didapatkan sutrah berupa tongkat atau tiang. Termasuk di dalam hal ini, bersutrah dengan sajadah sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia.
3). Shalat menghadap sutrah hukumnya bersifat anjuran, tidak sampai derajat wajib.

Kami memiliki dua artikel dalam masalah ini : 1). Tentang hukum sutrah, 2). Tentang hukum sutrah dengan garis (bisa dicari di blog resmi kami atau di postingan FB kami ini).

Kesimpulan keduanya sama dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- di atas. Dan pendapat ini (yang membolehkan sutrah dengan garis) merupakan pendapat jumhur ulama’ (mayoritas ulama’).

2 Syawwal 1439 H
Abdullah Al-Jirani
———
*Sutrah adalah : Pembatas shalat berupa tongkat, atau yang semisalnya yang diletakkan di hadapan orang shalat. Fungsinya, agar orang tidak lewat di hadapan orang yang shalat di dalam batas tersebut.