Dahulu sebelum negara api menyerang, hati kita lapang untuk bersaudara dengan siapapun. Kini ada istilah yang membuat hati makin sempit dan makin menjauh atau menjaga jarak dari kaum muslimin. Yaitu MANHAJ. Manhaj yang berkembang di negeri ini rasanya tak se-indah praktiknya ketika di lapangan.

Ada suami dengan istri yang pisah hanya karena tak semanhaj. Ada murid dan guru tak lagi harmonis karena alasan tak semanhaj. Ada orang tua dan anak selalu bersitegang hanya karena alasan tak semanhaj. Bahkan ada kawan akrab tak lagi harmonis hanya karena manhaj. Saya pernah merasakan masa-masa itu. Masa-masa penuh kesempitan dalam memandang kaum muslimin. Seolah-olah mereka tak memiliki kebaikan. Seolah-olah orang tua kita, guru kita, kawan kita, dan siapapun yang tak se-manhaj kita pandang sebelah mata dan ‘beda’.

Mungkin Anda tidak merasakan hal itu. Atau mungkin Anda pura-pura tidak tahu. Sayangnya, sudah banyak orang yang merasakannya dan tahu akan hal itu. Bahkan sebagian mereka sudah sadar dan tak sesempit cara berpikir dulu lagi. Ya, dulu ketika masa-masa puber MANHAJ itu melanda dirinya. Saya doakan Anda yang masih mengalami masa puber itu, segera sadar dan usai. Lebih membuka diri dan pikiran.