Oleh:-Laili Al-Fadhli-

Semoga Allaah mengampuninya dan mengampuni keluarganya. Aamiin.

Saat melalui atsar dari Ibnu ‘Abbas ini, Syaikh Hamid Akram Al-Bukhari kembali mengingatkan pentingnya bertahap dalam menuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu harus sadar kapasitas dirinya, sebagaimana seorang guru haru paham kapasitas muridnya. Sesungguhnya, makanan bagi orang (yang sudah) besar merupakan racun bagi anak kecil.

Terkhusus dalam fiqih, beliau kembali memberikan nasihat untuk memulai pembelajaran dari kitab-kitab ringkas yang mu’tamad dalam madzhab. Di Saudi, para Ulama mengajarkan madzhab Hanbali dari yang paling ringkas, bertahap sampai kepada fiqih muqaaran (perbandingan madzhab). Tidaklah seseorang mengkaji fiqih muqaaran kecuali ia telah melalui perjalanan dalam mengkaji kitab-kitab yang lebih sederhana sebelumnya.

Di negeri ini, mayoritas penduduknya bermadzhab Syafii, maka mulailah pendidikan fiqih dari kitab-kitab dasar madzhab Syafii, apakah itu Safinatun Naja, Matn Abi Syuja, Muqaddimah Hadhramiyah, atau yang semisalnya. Setelah itu bisa naik ke Minhaj, kemudian ke syarh-syarhnya, kemudian ke Raudhah, sampai akhirnya ke Al-Majmu’.

Hendaknya para penuntut ilmu melalui fase demi fase ini tanpa tergesa-gesa. Melaluinya dengan penuh kesabaran tahap demi tahap.

Sebagian orang mengira ia bisa menjadi faqih hanya dengan membaca satu atau dua kitab perbandingan madzhab atau kitab-kitab syarh hadits yang menampilkan satu, dua, tiga, bahkan pendapat yang lebih dari itu. Saat keluar dari majlis, ia merasa kapasitasnya sudah sama dengan para Imam Mujtahidin. Ia laki-laki dan mereka (para Imam) juga laki-laki. Padahal, jauh sekali jarak yang terbentang antara keduanya.

Kami (pen.) kemudian juga teringat saat Syaikh Al-Ushaimi (salah seorang anggota Lajnah Daaimah) ditanya, apakah belajar fiqih itu mengikuti alur madzhab atau langsung mempelajari fiqih tarjih (mencari pendapat mana yang lebih unggul). Maka, Syaikh menjawab, “Tarjih itu tarjih versi siapa?” Karena tarjih tidak bersifat mutlak. Ia subjektif dan tergantung siapa yang merajihkannya. Rajih (pendapat yang unggul) menurut salah seorang Syaikh atau Ustadz sangat mungkin marjuh (pendapat yang lemah) menurut Syaikh atau Ustadz yang lain. Tidak heran bila kemudian muncul kitab yang berjudul sama, misalnya “Sifat Shalat Nabi”, yang ditulis oleh orang yang berbeda, ternyata dalam sebagian tata caranya terdapat perbedaan. Karena masih-masing di antara mereka memiliki cara pandang tersendiri dalam berinteraksi dengan dalil.

Kami pernah mengalami satu masa dimana seseorang tidak dikatakan shalatnya sesuai sunnah, kecuali bila mengikuti buku yang ditulis oleh Ulama favoritnya. Buku-buku selainnya dianggap marjuh. Bahkan, fatwa-fatwa para Imam Mujtahidin sekalipun mesti ditinggalkan bila bertentangan dengan pendapat dalam buku tersebut.

Akhirnya, ia hanya bertaklid pada Ulama kontemporer dan meninggalkan pendapat para Imam Mujtahidin yang merupakan para Ulama Salaf dan termasuk generasi terbaik umat ini, yang pemahaman kita atas Al-Quran dan As-Sunnah mesti tegak di atas manhaj mereka. Ia lebih memilih pendapat ulama kontemporer dan menanggalkan pendapat salaf. Uniknya, pada saat bersamaan ia menganggap dirinyalah yang paling mengikuti salaf. Adapun selainnya tidak. Ia menganggap taklid kepada Ulama favoritnya mengikuti dalil karena dianggap rajih, sedangkan mengikuti pendapat Imam Mujtahidin dari kalangan Salaf dianggap taklid buta dan menentang dalil. Ya Salaam.

Inilah pentingnya bertahap dalam menuntut ilmu. Terkhusus fiqih, para Ulama telah berabad-abad mempelajari fiqih dasar dari satu madzhab sebelum beranjak ke fiqih muqaaran, maka mengapa kita ingin mengubah manhaj yang telah dijalani oleh para Ulama dari Salaf hingga khalaf ini? Siapa kita dibandingkan mereka dari sisi ilmu, iman, dan amal?

Wallaahu a’lam.