Saat tiba pada hadits ini, Syaikh Hamid Akram Al-Bukhari memberikan tanbih, bahwa dalam hadits ini ada salah seorang perawi bernama Aban bin Taghlib dan Al-Imam Muslim memasukkannya dalam Shahihnya.

Siapa Aban bin Taghlib? Ia adalah seorang yang terpengaruh bid’ah dengan kebid’ahan yang disepakati Ulama. Yakni bid’ah Syi’ah. Lalu, mengapa Al-Imam Muslim tetap mengambil darinya? Jawabannya, karena ia memenuhi kriteria sebagai perawi yang layak diambil riwayatnya, ia merupakan orang yang jujur lagi tsiqah, sehingga riwayatnya Shahih.

Selain itu, para Ulama membagi bid’ah menjadi dua jenis:
1. Bid’ah kubra (besar), yakni seperti bid’ahnya Jahmiyah, Rafidhah, dll.

2. Bid’ah shughra (kecil), seperti tasyayyu’ (terpengaruh Syiah: baik mengutamakan Ali atas Utsman atau mengutamakan Ali atas Abu Bakr dan Umar tanpa mencela keduanya). Juga sebagian persoalan dalam Qadar, terpengaruh Khawarij, atau terpengaruh Irja’.

Maka, selama memenuhi kriteria keadilan perawi, dan tidak menyeru pada bid’ahnya, mereka yang terjatuh pada bid’ah shughra riwayatnya tetap diterima, keilmuannya tetap diperhitungkan, dan keadilan terhadapnya mesti tetap ditegakkan.

Aban bin Taghlib merupakan seorang yang terpengaruh Syiah. Dan perawi semisal Aban banyak sekali diambil riwayatnya, bahkan oleh Al-Imam Al-Bukhari. Bila kita bertekad meninggalkan perawi seperti ini, dengan alasan telah terjatuh kepada kebid’ahan, niscaya sebagian dari Sunnah akan lenyap.

Khusus, untuk Aban bin Taghlib, maka ia telah dipercaya oleh setidaknya masing-masing Imam yang mewakili mutasyaddidun (orang yang keras terhadap masalah jarh wa ta’dil), yakni Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal yang mewakili mutawasithun (orang yang pertengahan dalam jarh wa ta’dil).

Sebagian pemuda zaman sekarang, yang sedang semangat-semangatnya, seringkali terlalu ceroboh untuk meninggalkan seorang Alim disebabkan vonis yang diberikan oleh Ustadz atau Syaikh favoritnya. Padahal ia terjatuh pada sebuah amalan yang bahkan masih diperselisihkan status kebid’ahannya oleh para Ulama Ahlus Sunnah. Dan tentu menentukan apakah seseorang telah terjatuh kepada kebid’ahan tidak cukup hanya berdasarkan pendapat dari satu atau dua orang Ustadz yang berasal dari sebuah kelompok.

Bila seorang yang terjatuh pada sesuatu yang jelas-jelas disepakati kebid’ahannya saja masih bisa diterima riwayatnya dan diakui keilmuannya, maka apalagi bila seseorang terjatuh pada hal-hal yang memiliki rujukan dari kalangan Imam Mujtahidin Ahlus Sunnah..?! Pun, kalau ia benar-benar terjatuh pada kebid’ahan, bila bid’ahnya tidak berat, maka sangat mungkin kekeliruannya telah diampuni oleh Allaah disebabkan kebaikannya bisa jadi jauh lebih banyak dan telah menghapus kekeliruannya.

Kecuali bila telah jelas bukti nyata kebid’ahannya merupakan bid’ah kubra, bahkan Mukaffirah, seperti Ahmadiyah, Rafidhah, Jahmiyah, ghullat Khawarij, ghullat Murjiah, dan semisalnya. Maka, para Ulama telah sepakat untuk meninggalkannya.

Jangan sampai kita malah bermudah-mudah dalam mengeluarkan seseorang dari lingkaran Sunnah. Hanya karena Ustadz atau Syaikh favorit kita memberikan pernyataan yang menegaskan ia telah keluar dari Sunnah. Bahkan kemudian kita memperlakukannya sebagai Ahlul Bid’ah yang tidak layak diambil darinya sedikitpun. Lebih-lebih kita memperlakukannya seperti orang kafir yang hak-hak seorang muslim tidak berlaku padanya.

Salam tidak dijawab, sakit tidak dijenguk, wafat tidak dishalatkan. Padahal persoalannya hanya persoalan yang para Ulama Salaf sekalipun tidak mengeluarkan seseorang dari lingkaran Sunnah karena hal tersebut.

Seperti cerita yang disampaikan oleh Syaikh Hamid, bahwa suatu saat beliau pernah masuk lift, kemudian memberikan salam kepada seseorang -yang satu-satunya- berada di dalam lift tersebut. Orang itu tidak menjawabnya. Syaikh mengulanginya sampai tiga kali, dan orang itu tetap tidak menjawab salam. Sampai Syaikh kemudian bertanya, “Mengapa engkau tidak menjawab salamku?” Ia berkata, “Karena engkau Ahlul Bid’ah..!”

Ternyata apa yang diklaim sebagai bid’ahnya hanya sebatas persoalan perbedaan pendapat dalam menentukan mana yang lebih dulu turun saat sujud, tangan atau lutut..!!?

Kejadian semisal ini, juga mungkin terjadi di tengah-tengah kita. Sebagian orang yang baru mengenal Islam dan dalam kondisi “on fire”, yang hanya baru mengenal Islam dari satu arah saja, seakan-akan menganggap orang yang berbeda pandangan dengan Ustadznya bukan termasuk Ahlus Sunnah. Wajib ditinggalkan dan wajib memberikan peringatan (tahdzir) atasnya. Padahal, ia sendiri tidak benar-benar memahami apa standar ke-Ahlus Sunnah-an seseorang.

Para Ulama Salaf senantiasa mengedepankan sikap adil dan inshaf. Bahkan, pada orang yang telah jelas disepakati kebid’ahannya, namun mereka tidak dengan serta merta mengeluarkannya dalam lingkaran Sunnah, tetap menerima riwayatnya dan mengambil ilmunya, selama ia memang mutqin dalam keilmuannya. Inilah jalan dan manhajnya para Ulama Salaf. Maka, siapa saja yang tidak mengikuti sikap ini, ia sesungguhnya telah keluar dari jalannya para Ulama Salaf, walaupun ia mengklaim sedang meniti manhaj Salaf dan merasa kokoh di atasnya.

Oleh karena itu, bila kita ingin belajar bahasa Arab, misalnya. Carilah orang yang mahir dan bisa mengajarkan kepada kita. Tidak perlu bertanya apakah ia Ustadz sunnah atau bukan. Berasal dari lembaga sunnah atau bukan. Apalagi bila standar kesunnahannya pun begitu bias dan bukan standar yang ditetapkan oleh para Ulama dan Imam Mujtahidin. Standar itu hanyalah standar-standar yang ditetapkan oleh segelintir orang untuk menjauhkan dari narasumber yang tidak berasal dari kelompoknya semata.

Begitupula bila kita ingin belajar Tajwid, Qiraat, Fiqih, Ushul Fiqih, dan selainnya. Lihat saja sisi keilmuannya, apakah ia mutqin dan bisa menyampaikan ilmunya atau tidak. Apalagi bila “sekadar” mengambil riwayat, maka carilah orang-orang yang tsiqah dan tinggi sanadnya. Itu sudah mencukupi.

Belajarlah dari banyak orang, seperti lebah yang menyerap madu dari banyak bunga yang berbeda. Hingga ia akhirnya bisa menghasilkan madu yang bermanfaat bagi manusia. Demikianlah ilmu. Ambillah dari siapapun yang mahir lagi mutqin, selama tidak terjatuh pada bid’ah kubra, sabarlah dalam mengikuti pembelajaran sampai kita mencapai satu titik dimana kita bisa memilah dan memilih dengan timbangan ilmu, bukan dengan timbangan kejahilan atau fanatisme buta.

Semoga Allaah memudahkan kita sekalian. Aamiin.

Wallaahu a’lam.

-Laili Al-Fadhli-
Semoga Allaah mengampuninya dan juga keluarganya. Aamiin.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1527634957365006&id=100003555485295