(Pembahasan sifat bag. 1)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Semua tahu apa makna “tidur” bukan?. Ya, tidur adalah aktifitas beristirahat total di mana seseorang menjadi tidak sadar. Tapi kata “tidur” akan berubah bila diberi konteks yang berbeda. Perhatikan contoh ini:

a. Budi tidur dengan bayinya
b. Budi tidur dengan istri tetangganya

Nah kata “tidur” dalam dua konteks di atas berbeda jauh bukan?. Ketika kata “bayinya” diganti dengan “istri tetangga”, maka makna tidur bukan lagi tidur betulan tapi justru “bangun”.

Sekarang kita beralih pada contoh kedua. Perhatikan kata “hati” dalam contoh-contoh berikut:

a. Saya sakit hati sebab ulahnya
b. Hati saya sakit sebab terkena virus
c. Melakukan kebaikan harus dari hati
d. Engkau selalu berada dalam hati

Semua kata “hati”di atas mempunyai makna berbeda sebab berada dalam konteks berbeda. Yang pertama bermakna tersinggung, yang kedua bermakna organ liver, yang ketiga bermakna ketulusan dan yang keempat bermakna memori.

Dari mana kita tahu perbedaan makna ini? Jawabannya: dari konteks. Bila konteksnya sedikit saja diubah, maka makna asalnya akan berubah. Misalnya contoh pertama saya beri tambahan menjadi “Saya sakit hati, perut, tangan, kepala dan kaki sebab ulahnya”, maka makna tersinggung sudah hilang dan berganti sakit secara fisik di bagian-bagian tersebut. Demikian pula bila contoh kedua di atas saya tambah satu kata di akhirnya menjadi “Hati saya sakit sebab terkena virus cinta”, maka maknanya tentu bukan organ liver lagi tapi jiwa yang jatuh cinta.

Sudah paham bukan? Sekarang ke topik inti. Dalam bahasan akidah, pemberian konteks ini juga bisa membuat makna asal sebuah teks sifat menjadi berubah 180 derajat. Bila ini disengaja agar maknanya berubah dan pembaca salah paham, maka pelakunya sudah melakukan kesalahan besar atas nama Tuhan. Inilah yang saya sebut tahrif konteks atau penyelewengan konteks. Sebuah kata mempunyai suatu arti tertentu di konteks awal lalu berubah jauh sekali ketika konteksnya diubah.

Pehatikan kata “mata” dalam ayat berikut:

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا – 52:48
“Bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam mata Kami”.

Apa yang anda pahami dari kata “mata” dalam ayat di atas? Apakah organ tubuh yang disebut bola mata? Tentu bukan. Konteks ayat itu membicarakan tentang pengawasan dan perlindungan, bukan organ. Namun akan jauh berbeda ketika konteks ayat seperti di atas diterangkan sebagai berikut:

أَنَّنَا إِذَا قُلْنَا بِأَنَّهَا الرُّؤْيَةُ، وَأَثْبَتَ اللهُ لِنَفْسِهِ عَيْناً، فَلاَزِمُ ذَلِكَ أَنَّهُ يَرَى بِتِلْكَ الْعَيْنِ، وَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ فِي اْلآيَةِ دَلِيْلٌ عَلىَ أَنَّهَا عَيْنٌ حَقِيْقِيَّةٌ
“kalau kita mengatakan bahwa itu adalah penglihatan dan Allah menetapkan mata bagi diri-Nya sendiri, maka itu berarti Dia melihat dengan mata itu. Karena itu, dalam ayat tersebut adalah dalil bahwa mata itu adalah mata yang sebenarnya”.

Penjelasan di atas membuang sepenuhnya konteks ayat yang asli lalu diganti dengan rangkaian kata berisi fungsi penglihatan dari sebuah mata dan adanya sebuah “mata sebenarnya” yang tak lain adalah organ mata. Siapakah kira-kira yang melakukan tahrif konteks di atas yang saya kutip ini? Dia adalah Syaikh Utsaimin dalam kitabnya yang berjudul Syarh al-Aqidah al-Washithiyah.

Tahrif konteks ini bisa terjadi dengan mengubah konteks sebagaimana di atas, bisa juga dengan menjejerkan beberapa kata lain sehingga muncul nuansa makna baru. Seperti contoh “Saya sakit hati” yang bermakna tersinggung tadi akan berubah menjadi sakit komplikasi ketika ditambah menjadi: “Saya sakit hati, jantung dan ginjal”.

Imam al-Ghazali dalam risalah kecilnya yang berjudul Iljamu al-‘Awam ‘An Ilmi al-Kalam, memperingatkan bahaya penyebutan sifat-sifat itu berjejeran sehingga maknanya sangat mengarah pada tajsim. Padahal faktanya Rasulullah mengucapkan kata-kata itu secara terpisah di waktu yang jauh terpisah pula sehingga sama sekali tidak ada indikasi tajsim, tapi lain ceritanya kalau diucapkan berjejeran sekaligus di waktu yang bersamaan. Ini sudah tahrif konteks namanya.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali berkata:
لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ مُتَفَرِّقٍ، وَلَقَدْ بَعُدَ عَنِ التَّوْفِيْقِ مَنْ صَفَّ كِتَابًا فِي جَمْعِ اْلأَخْبَارِ خَاصَّةً وَرَسَّمَ فِي كُلِّ بَابٍ عُضْوًا فَقَالَ: بَابٌ فِي إِثْبَاتِ الرَّأْسِ, وَبَابٌ فِي الْيَدِ اِلىَ غَيْرِ ذَلِكَ, وَسَمَّاهُ كِتَابَ الصِّفَاتِ. فَإِنَّ هَذِهِ كَلِمَاتٌ صَدَرَتْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ فِي أَوْقاَتٍ مُتَفَرِّقَةٍ مُتَبَاعَدَةٍ اِعْتِمَادًا عَلَى قَرَائِنَ مُخْتَلِفَةٍ تُفْهِمُ السَّامِعِيْنَ مَعَانِيَ صَحِيْحَةً, فَإِذَا ذُكِرَتْ مَجْمُوْعَةً عَلَى خَلْقِ اْلاِنْسَانِ صَارَ جَمْعُ تِلْكَ الْمُتَفَرِّقَاتِ فِي السَّمْعِ دَفْعَةً وَاحِدَةً عَظِيْمَةً فِي تَأْكِيْدِ الظَّاهِرِ وَإِيْهَامِ التَّشْبِيْهِ.
“Jangan mengumpulkan nash yang terpisah. Sungguh jauh dari hidayah orang yang menyusun sebuah kitab yang secara khusus mengumpulkan hadis-hadis dan menuliskan sebuah organ di masing-masing bab. Dia berkata: Bab dalam penetapan kepala, Bab dalam tangan dan seterusnya lalu menyebutnya sebagai kitab sifat. Sesungguhnya kata-kata itu timbul dari Rasulullah di waktu-waktu yang terpisah berjauhan sesuai dengan petunjuk yang berbeda-beda yang dapat membuat pendengar memahami makna yang benar. Kalau ini disebutkan secara terkumpul atas [konteks] penciptaan seseorang, maka kumpulan nash yang [semula] terpisah tersebut sekaligus dapat terdengar sangat hebat untuk mendukung makna lahiriah dan mengesankan penyerupaan”.

Senada dengan Hujjatul Islam tersebut, Imam Ibnu al-Jauzi al-Hanbali juga berkata dalam kitabnya yang berjudul Daf’u Syubah al-Tasybīh bi Akaffi al-Tanzih sebagai berikut:

ثُمَّ لَمْ يَذْكُرِ الرَّسُوْلُ الْاَحَادِيْثَ جُمْلَةً وَإِنَّمَا كَانَ يَذْكُرُ الْكَلِمَةَ فِي الْأَحْيَانِ فَقَدْ غَلَطَ مَنْ أَلَّفَهَا أَبْوَابًا عَلىَ تَرْتِيْبِ صُوْرَةٍ غَلَطًا قَبِيْحًا.
“Kemudian Rasulullah tidak menyebutkan hadis-hadis itu secara sekaligus, sesungguhnya beliau menyebutkan kata tersebut di waktu-waktu [yang berbeda]. Sungguh salah orang yang menyusun hadis-hadis tersebut menjadi bab-bab sesuai dengan urutan bentuk [fisik] dengan kesalahan yang parah”.

Orang yang disindir oleh kedua tokoh besar di atas adalah Ibnu Khuzaimah (311 H.) yang telah mengarang kitab bernama Kitab at-Tauhid dengan judul bab “menetapkan wajah, menetapkan mata, menetapkan kedua tangan dan seterusnya sehingga perspektif pembaca tak bisa tidak pasti mengarah kepada tajsim. Padahal andai konteks ayat dan hadis itu dibaca terpisah, maka konotasinya akan jauh berbeda. Ingat, ayat dan hadis itu muncul sedikit demi sedikit selama 23 tahun! Inilah konteks aslinya. Penyebutan secara berjejer jelas merupakan tahrif konteks! Untuk menghindari kesalahpahaman, akhirnya para ulama setelah Ibnu Khuzaimah juga menulis kitab dengan urutan yang mirip, menetapkan sifat “tangan”, “wajah” dan seterusnya akan tetapi masing-masing dijelaskan secara terperinci bahwa maksudnya bukanlah dalam makna organ tubuh, misalnya bisa dibaca dalam kitab-kitabnya Imam al-Baihaqy al-Asy’ary, al-Qurthuby al-Asy’ari, an-Nawawi al-Asy’ary, Ibnu Hajar al-Asqalany al-Asy’ary, as-Suyuthi al-Asy’ary, as-Subky al-Asy’ary dan lain-lain.

Para ulama salaf menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut ketika disandarkan pada Allah harus dipahami bahwa Yad (tangan) bukanlah jarihah (anggota badan), ‘ain (mata) bukanlah muqlah (bola mata), nafs (diri) bukanlah jisim (susunan materi), nuzul (turun) bukanlah naqlah (perpindahan fisik) dan seterusnya. Yang seperti ini bukan takwil apalagi ta’thil (pengingkaran sifat Tuhan), sama sekali bukan. Semua makna yang dinafikan itu adalah makna yang memang tak ada dalam konteks asal tetapi melekat setelah konteknya diselewengkan. Yang masih rancu menganggap penjelasan seperti ini sebagai ta’thil adalah orang yang salah paham atau memang tak mau dibuat paham.

Untuk menghindari tahrif konteks ini, para ulama salaf (yang sejati) memberikan arahan agar ketika bertemu ayat-ayat yang berisi shifat khabariyah kita cukup IMRAR saja. Imrar maksudnya membaca ulang apa adanya tanpa memberi konteks baru atau menambah kata baru. Jadi redaksi asli sebagaimana ayat atau hadis itulah yang dijaga keasliannya. Imam al-Baihaqy al-Asy’ary dalam kitab al-I’tiqad-nya menuliskan pernyataan para Imam salaf seperti berikut:
سئل الأوزاعي ومالك وسفيان الثوري والليث بن سعد عن هذه الأحاديث فقالوا :أمروها كما جاءت بلا كيفية
“Al-Auza’i, Malik, Sufyan as-Tsauri, Laits bin Sa’ad ditanya tentang hadis-hadis itu, lalu mereka berkata: “Baca ulang saja sebagaimana hadis itu datang dengan tanpa kaifiyah (mekanisme atau gambaran tertentu)”.

Bisa dibayangkan bagaimana kira-kira reaksi para Imam Salaf itu kalau membaca pernyataan Ibnu Taymiyah yang berbicara tentang rangkaian organ tubuh berikut:
وَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ وَنَحْوُ ذَلِكَ هِيَ أَعْضَاءُ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، فاَلْغَنِيُّ الْمُنَزَّهُ عَنِ ذَلِكَ مُنَزَّهٌ عَنْ آلاَتِ ذَلِكَ، بِخِلاَفِ الْيَدِ فَإِنَّهَا لِعَمَلٍ وَالْفِعْلِ (التدمرية)
“Hati dan limpa dan semisalnya adalah organ makan dan minum. Tuhan Yang Maha Kaya (Maha Tak Butuh Apapun) disucikan dari makan minum dan alat-alatnya, beda dengan tangan. Sesungguhnya tangan adalah untuk bekerja dan bertindak”. (at-Tadmuriyah).

Konteks ayat dan hadis manakah yang menyebut rangkaian organ seperti itu ketika membahas Allah? Benar bahwa kata yang menjadi sifat Allah itu sama dengan yang ada di al-Qur’an dan hadis, tapi konteksnya sudah dirombak hingga jauh berbeda. Lalu setelah itu semua kemudian mereka pura-pura polos mengatakan: “Kami menyifati Allah sesuai dengan apa yang Ia sifati sendiri”. Menyebalkan!

Subhana rabbika rabbil Izzati ‘amma yashifun, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Bagian 2

bagian 3

Bagian 4

Semoga bermanfaat.