Oleh:Shadiq Sandimula

Orang yang melakukan Taqlid (Muqallid) bisa dikategorikan kepada beberapa tingkatan sebagai berikut:

1) Tingkatan Pertama: Taqlid al-Amiyy yaitu Taqlidnya orang awam yang tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang al-Qur’an dan al-Sunnah serta tidak memiliki ilmu yang mendalam tentang cabang-cabang ilmu tersebut. Termasuk dalam tingkatan ini mereka yang merupakan alumni Madrasah-madrasah, dan Universitas-universitas studi keislaman, dimana mereka belum memiliki kemampuan yang dengannya mereka mampu untuk melakukan perbandingan atau komparasi terhadap berbagai pendapat fiqhiyyah menurut al-Kitab dan al-Sunnah. Adapun hukum kelompok ini adalah mewajibkan diri mereka untuk mengikuti madzhab imam tertentu, dengan hanya mengambil pendapat dari imamnya. Sesungguhnya pendapat imamnya merupakan dalil baginya, tidak diperbolehkan bagi mereka untuk menghukumi pendapat imam-imam mereka bahwa hal tersebut menyelisihi al-Kitab dan al-Sunnah dengannya hanya berdasarkan pemikirannya semata ;
Jadi, yang termasuk dalam kategori ini:

a) Mereka yang benar-benar tidak memahami tentang bahasa Arab serta studi keislaman, meskipun mereka cukup terdidik dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya;

b) Mereka yang memahami bahasa Arab, serta bisa memahami literatur berbahasa Arab, akan tetapi tidak memiliki ilmu tentang Tafsir, hadith, Fiqh, dan berbagai perkara agama melalui seorang guru dengan jalan yang benar;

c) Mereka yang meskipun telah menyelesaikan studi keislaman secara formal, namun tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Tafsir, Hadith, Fiqh, serta dasar-dasarnya, tidak pula memiliki ketajaman analisis terhadapnya.

Tiga ketegori ini masuk dalam satu ketetapan hukum, mereka tidak mempunyai pilihan melainkan melakukan Taqlid, karena mereka tidak memiliki kualifikasi serta kemampuan untuk memutuskan secara langsung dari sumbernya, oleh karena itu, mereka harus mengikatkan diri kepada seorang Mujtahid dalam permasalahan hukum Syariat.

Al-Imam al-Allamah Khathib al-Baghdadi rahimahullah menulis:
اما من يسوغ له التقليد فهو العامي الذي لا يعرف طرق الأحكام الشرعية فيجوز له أن يقلد عالما و يعمل بقوله…. و لأنه ليس من أهل الإجتهاد فكان فرضه التقليد كتقليد الأعمى في القبلة فإنه لما لم يكن معه ألة الإجتهاد في القبلة كان عليه تقليد البصير فيها.
Artinya: “Adapun orang yang diperbolehkan baginya Taqlid, adalah orang awam yang tidak memahami metode-metode hukum Syariat, maka boleh baginya untuk mengikuti seorang Alim dan beramal dengan pendapat alim tersebut… Dan karena sesungguhnya ia bukan merupakan orang yang mampu berijtihad, maka kewajibannya adalah Taqlid, sebagaimana Taqlidnya orang buta dalam masalah Qiblat, tatkala ia tidak memilik alat untuk melakukan Ijtihad dalam masalah Qiblat, maka baginya Taqlid kepada orang yang dapat melihat dalam masalah itu”.

Berkata Syaikh Muhammad Hasanayn Makhluf rahimahullah dalam kitabnya Bulugh al-Sawl pada judul Istinad Aqwal al-Mujtahidin ila al-Maakhidz al-Syar’iyyah:
و قد اعتبر الأصوليون و غيرهم أقوال المجتهدين في حق المقلدين القاصرين كالأدلة الشرعية في حق المجتهدين..
Artinya: “Para ahli ushul dan lainnya menganggap pendapat-pendapat para mujtahid bagi muqallid yang tidak mampu (berijtihad) seperti dalil-dalil syariat bagi mujtahid, bukan karena sesungguhnya pendapat-pendapat mereka pada dasarnya merupakan hujjah bagi manusia yang dengannya ditetapkannya hukum-hukum Syari’at sebagaimana perkataan para Rasul alayhim al-Shalah wa al-Salam, melainkan karena sesungguhnya pendapat-pendapat mujtahid tersebut bersandarkan kepada sumber-sumber pengambilan hukum syariat, mereka mengerahkan kemampuan mereka dalam melakukan deduksi dan melakukan pengujian pada dalil-dalilnya dengan keadilan, keluasan penelaahan, kelurusan pemahaman dan perhatian mereka dengan kaidah syariat dan hafalan nash-nashnya, oleh karena itu mereka mensyaratkan dalam hasil terhadap dalil-dalil yang dikeluarkan bagi hukum-hukum syariat dari dalil-dalilnya yang terperinci (karena dalilnya zhanni maka hasilnya pun zhanni) agar orang yang memiliki keahlian khusus, kemampuan, dan kepandaian dapat mungkin dengannya menguji dalil-dalil dalam hal menjadikan perasangkanya (atas ijtihad) sesuai dengan ilmu yang qath’i demi menjaga hukum-hukum agama sesuai kadar kemampuan”.

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata:
“Adapun menyebutkan dalil oleh mujtahid atau alim yang terpercaya kepada orang yang tidak mengetahui hukum Allah atas perkara (baru) tersebut bukan merupakan suatu keharusan, khususnya orang yang tidak memahami model pendalilan sebagaimana mayoritas orang pada umumnya atau dalil tersebut memiliki premis-premis yang diperlukan pemahaman atasnya dan pendekatan dalil dengannya merupakan perkara yang orang awam tidak memiliki ilmu yang mumpuni tentangnya”.

Berkata al-Imam al-Syathibi rahimahullah:
فتاوى المجتهدين بالنسبة إلى العوام كالأدلة الشرعية بالنسبة إلى المجتهدين، و الدليل عليه أن وجود الأدلة بالنسبة إلى المقلدين و عدمها سواء إذ كانوا لا يستفيد منها شيئاً، فليس النظر في الأدلة و الإستنباط من شأنهم و لا يجوز ذلك لهم البتة، و قد قال تعالى: (فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الّذِكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ)، و المقلد غير عالم، فلا يصح له إلا سؤال أهل الذكر، و إليهم مرجعه في أحكام الدين على الإطلاق، فهم إذاً القائمون له مقام الشارع و أقوالهم قائمة مقام الشارع”.
Artinya: “Fatwa para Mujtahid bagi orang awwam layaknya dalil-dalil syariat bagi para Mujtahid, alasannya bahwa ada atau tidaknya dalil sama saja bagi para Muqallid yang dimana mereka tidak bisa memperoleh faidah apapun darinya, meneliti dan mengeluarkan hukum dari dalil bukan kapasitas dan urusan mereka, dan hal tersebut sama sekali tidak boleh bagi mereka, Allah ta’ala berfirman: “Maka bertanyalah kepada Ahli Dzikr apabila kalian tidak mengetahui”, para Muqallid bukan alim, maka tidak sah bagi mereka melainkan hanya bertanya kepada ahli Dzikr, dan kepada merekalah marja’nya (rujukannya) dalam hukum-hukum agama secara mutlak, dengan demikian mereka (para Mujtahid bagi awwam) menempati posisi pemberi syariat dan pendapat-pendapat mereka menempati posisi pemberi syariat”.

2) Tingkatan Kedua: Taqlid Alim Mutabahhir, yaitu Taqlidnya seorang alim yang memiliki ilmu yang mendalam yang belum mencapai derajat Ijtihad secara menyeluruh, akan tetapi karena keluasan pengetahuannya tentang ilmu-ilmu al-Qur’an dan al-Sunnah dan kedalaman ilmunya tentang madzhab imamnya, serta lamanya masa pengalaman praktek dalam bidang Fiqh dan fatwa dibawah panduan para asatidz yang ahli, ia memiliki kemampuan yang kuat dalam melakukan analisis (al-Nazhar) terhadap dalil-dalil hukum Fiqhiyyah. Seorang alim ini, meskipun ia bertaqlid kepada imamnya pada kebanyakan bab Fiqhiyyah, akan tetapi apabila ia mendapati sebuah pendapat dari imamnya yang menyelisihi Nash yang Sharih, serta tidak mendapati dalil yang menyelisihi Nash tersebut dengan melakukan penelitian yang panjang (dan mendalam), maka boleh baginya untuk meninggalkan pendapat imamnya karena adanya Nash yang Sharih tersebut. Begitu pula, apabila alim ini menyadari bahwa dalam madzhab imamnya ada sebuah masalah yang terdapat kesulitan yang sangat di dalamnya, dan adanya hajat secara umum untuk menolak kesulitan tersebut dengan memilih madzhab Fiqh lainnya dari empat Madzhab, maka boleh baginya untuk berfatwa atau beramal dengan pendapat mujtahid lainnya. Akan tetapi dalam rangka untuk berhati-hati (ihtiyath) pada zaman ini dalam permasalahan yang menyebabkan terjadi musibah yang luas, hendaklah alim ini jangan berlaku sewenang-wenang (merasa benar) dengan pendapatnya pribadi, akan tetapi melakukan musyawarah dengan ulama-ulama lainnya, serta tidak mengeluarkan sebuah fatwa yang secara menyeluruh melainkan setelah adanya kesepakatan dari jama’ah ulama yang kokoh dalam ilmunya (al-Ulama al-Rasikhun).

Kategori ini yang disebut sebagian ulama sebagai Muttabi’, yaitu orang yang melakukan Ittiba’, maksudnya sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Allamah Syaikh Wahbah al-Zuhayli rahimahullah:
…أما الإتّباع فهو سلوك التابع طريق المتبوع، و أخذ الحكم من الدليل بالطريق التى أخذ بها المتبوع…
Artinya: “Adapun Ittiba’ adalah Ikutnya (seseorang) jalan orang yang diikuti, dan mengambil hukum dari dalilnya dengan jalan yang sama diambil oleh orang yang diikutinya”.

Oleh karena itu menurut al-Imam al-Syahid al-Buthi rahimahullah bahwa seseorang itu apabila dia orang yang mengetahui tentang dalil-dalil dan paham/ahli tentang cara penggalian hukum darinya, maka dia adalah seorang Mujtahid, dan orang yang tidak mengetahui dalil-dalil atau tidak cakap tentang cara penggalian hukum, maka dia adalah seorang yang bertaqlid kepada Mujtahid, banyaknya ungkapan atau istilah sama sekali tidak merubah realitanya.
Kesimpulannya, meskipun ia dapat memahami jalan pendalilan Mujtahid, namun dia belum mampu melakukan ijitihadnya sendiri, dengan demikian, alim seperti ini tetap masuk kategori Muqallid.

3) Tingkatan Ketiga: Taqlid Mujtahid fi al-Madzhab, yaitu Taqlidnya seorang Mujtahid madzhab, meskipun ia melakukan Taqlid kepada imamnya pada permasalahan Ushul al-Madzhab, akan tetapi dia dapat melakukan ijtihad pada aspek furu’ atau dalam perkara yang baru terjadi, termasuk di dalamnya para Ashhab al-Takhrij wa al-Tarjih, dan para Mujtahid dalam masail.

4) Tingkatan Keempat: Taqlid Mujtahid Muthlaq, yaitu Taqlidnya seorang Mujtahid Mutlak, meskipun ia dapat melakukan istinbath hukum Syara’ dari al-Qur’an dan al-Sunnah secara mandiri, akan tetapi ia tetap melakukan sebuah Taqlid, yaitu dia melihat pada pendapat para ulama Salaf dari kalangan Shahabat ridhwanullah ta’ala alayhim maupun Tabi’in rahmatullah ta’ala alayhim, kemudian berpegang pada pendapat mereka dalam melakukan Syarh terhadap hukum-hukum dari al-Qur’an dan al-Sunnah, maka kadang-kadang tidak didapati Nash yang sharih dari al-Qur’an dan al-Sunnah, akan tetapi didapati perkataan para Shahabat dan Tabi’in, kemudian ia mendahulukan pendapat mereka daripada pendapat pribadinya sendiri. Hal tersebut sebagaimana al-Imam al-A’zham Abu Hanifah radhiyallahu anhu banyak mengambil pendapatnya al-Imam al-Allamah Ibrahim al-Nakha’i radhiyallahu anhu, al-Imam Nashir al-Sunnah Muhammad bin Idris al-Syafi’i radhiyallahu anhu mengambil pendapat al-Imam Ibnu Jurayj radhiyallahu anhu, serta al-Imam Dar al-Hijrah Malik bin Anas radhiyallahu anhu mengambil pendapat para Fuqaha’ yang tujuh ridhwanullah ta’ala alayhim di kota Madinah Munawwarah.

Berkata al-Imam al-Allamah Ibnu al-Qayyim rahimahullah tentang Mujtahid Mutlak:
لا ينافي اجتهاده تقليدَ لغيره أحياناً, فلا تجد أحداً من الأئمة إلاّ و هو مقلِّد من هو أعلم منه في بعض الأحكام, فقد قال الشافعي رحمه الله و رضى عنه في موضعٍ من الحجّ: قلته تقليداً لعطاء.
Artinya: “Kadang-kadang Ijtihadnya para Mujtahid Mutlak tidak membuatnya menentang/menolak Taqlid kepada orang lain, engkau akan mendapati bahwa para Imam melakukan Taqlid kepada orang yang lebih berilmu darinya dalam beberapa permasalahan hukum, telah berkata al-Imam al-Syafi’i rahimahullah wa radhiya anhu pada suatu permasalahan tentang Haji: “Saya berpendapat hal tersebut Taqlid kepada Atha’”.

Namun pendapat berbeda dikemukakan Syaikh Dr. Muhammad Hasan Hitu hafizhahullah bahwa hal tersebut bukan bentuk Taqlid melainkan bentuk kesepakatan atau persetujuan atas pendapat tersebut (beliau menyatakan hal ini pada pembahasan mengenai Mujtahid (Muthlaq) Muntasib, tentu bagi Mujtahid Muthlaq Mustaqill lebih layak demikian ). Selanjutnya beliau menyatakan bahwa Mujtahid Muthlaq selamanya tidak berintisab kepada siapapun dan tidak melakukan Taqlid kepada siapapun juga.

Allahu a’lam..