(Saya ga ikut-ikutan berdebat, ini status iseng aja)
Ustadz Ridho Muhtadi حفظه اللّه تعالى
—————————————————————–

Kesalahan perdebatan “Ambil baiknya dan buang buruknya” yang beredar di sosmed di antaranya adalah menyempitkan pada “ilmu agama”.
Ini fatal sekali.

Padahal ini adalah prinsip yang universal
Contoh:
Jika saya mempelajari ilmu teknik informatika sama dosen yang sangat jenius misalkan tapi tidak pernah sholat jumat maka
1. Ilmu teknik informatika saya ambil
2. Sikap tak pernah sholat jumatnya saya buang

Saya tetap akan mengukur kapasitas “ilmu duniawi” pada setiap orang, yang tentunya kapasitas “ilmu agama” tidak saya lupakan. Saya ga mau jadi orang sekuler bro…

Jika kita menakwilkan hanya pada “ilmu agama manhaj salaf” saja, maka itu adalah sebuah kezhaliman yang muncul di penuntut ilmu agama yg bicaranya hanya ilmu agama saja. Ini penyakit facebook: Bodo amat background Anda tapi soal agama akan saya cap ini itu dan akan selektif.

Untuk itu, “ambil baiknya dan buang buruknya” dibagi 3:
1. Ilmu dunia dan yang universal (termasuk aksiomatis dalam belajar ilmu agama)
Ini dimenangkan oleh ustadz Adni Kurniawan
Yaitu “Ambil baiknya dan buang buruknya” sebagai prinsip yang aksiomatik.
2. Menuntut ilmu agama secara khusus
Ini dimenangkan oleh ustadz Babanya Shofia
Yaitu “Ambil baiknya dan buang buruknya” pada persoalan agama yaitu metode ahli hadits yang bukan seperti cap-cap manhaj kayak sekarang.
3. Tentang ijtihad manhaj salaf dan di luar itu, utk diambil baiknya dan dibuang buruknya
Ini dimenangkan oleh ustadz Alfitri

Satu status tak bisa 3 share, maka akan saya kutip:

ADNI KURNIAWAN
Prinsip “ambil baiknya, buang buruknya” itu benar dan bahkan aksiomatis, sekaligus juga merupakan keniscayaan yang berlaku secara universal, dalam hal apapun dan bagi siapapun, baik untuk seafiliasi, beda afiliasi, beda agama, bahkan setan sekalipun. (Ingat kisah setan yang menyampaikan kegunaan Ayat Kursi, dalam hadis riwayat al-Bukhary.)

“Hikmah adalah barang yang hilang dari seorang mukmin, di mana pun ia temukan maka ia lebih berhak atasnya.”

Di atas prinsip inilah manusia membangun peradaban, termasuk juga ketika zaman keemasan kaum muslim memegang supremasi peradaban.

Begitulah… kecuali sekiranya memang ada orang yang meyakini bahwa guru-guru afiliasinya itu maksum. Selalu benar. Sehingga apapun yang keluar dari gurunya, ia telan seutuhnya. Taken for granted. Sebaliknya, apapun yang keluar dari guru selainnya maka dipastikan salah dan harus ditolak seluruhnya. Saya kira tidak ada muslim dengan tipe demikian dalam list pertemanan saya. Semoga.

Selanjutnya, prinsip di atas juga bukan berarti menegasikan urgensi selektivitas dalam memilih guru, panutan, role model, teman, dan seterusnya. Itu soal lain. Janganlah menjadi orang gagal paham yang tidak mampu membedakan dua hal di atas.

BABANYA SHOFIA
Kalau kita bisa berguru secara cerdas, sebetulnya tidak perlu ada dilema ataupun polemik soal “ambil baiknya buang buruknya”.

Ketika seorang thalib sudah memutuskan untuk berguru pada seseorang, tentu saja ada banyak atau beberapa faidah yang ia harapkan darinya, walaupun ada pula hal-hal yang mungkin tidak ia cocoki dari gurunya tersebut.

Permasalahan menjadi muncul manakala sang thalib ini memposisikan gurunya selayak nabi. Apa yang dikatakan gurunya langsung diyakini sebagai kebenaran.

Padahal rumusannya cerdasnya simpel: Apa yang dikatakan guru, yakinilah itu sebagai perkataan guru. Simpel.

Jadi ketika guru kita menyatakan “Hukum ini itu A”, maka yakinilah bahwa “Menurut guru saya, hukum ini itu A”. Jangan langsung diyakini bahwa “Menurut kebenaran, hukum ini itu A”.

Lantas ketika kita kemudian berguru dengan orang lain yang menyatakan “Hukum ini itu B”, maka tidak akan bingung. Tinggal diyakini bahwa “Menurut guru saya yang satunya lagi, hukum ini itu B”.

Jadi, dalam tahap ini baru ada ambil-mengambil pandangan, belum ambil-mengambil kesimpulan final. Kesimpulan final tidak bisa dipatenkan hanya karena itu kata guru, apalagi satu orang guru. Keputusan final hanyalah dapat dihasilkan oleh dalil dan analisis yang final, yang biasanya terlebih dahulu memerlukan tahapan komparasi antar pandangan dan argumentasinya.

ALFITRI
Dalam dunia dakwah di berbagai bidang, konsep dan aplikasi dakwah yang diusung oleh sebuah komunitas atau lembaga dakwah itu tentunya bersifat ‘ijtihadi’. Karenanya, komunitas dakwah dalam organisasi HTI, NU, Muhammadiyah, Jama’ah Tabligh (JT), dan Ikhwan Muslimin (IM), itu berpijak pada hasil ijtihad pendiri dan para pejuangnya.

Demikian juga dengan komunitas dakwah Wahabi, atau dikenal juga dengan Salafi. Bahkan, konsep dan aplikasi dakwah yang diusung oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab juga berdasarkan kepada ijtihadnya, lalu dilanjutkan oleh para penerusnya.

Ketika gerakan dakwah yang diusung itu berpijak pada hasil ijtihad pendiri atau para penerusnya, maka bukanlah sebuah keanehan bila ditemukan kekurangan dan kesalahan dalam konsep atau pengaplikasiannya. Sebaliknya, adalah sebuah kemustahilan bila tidak memiliki kesalahan dan kekurangan. Karenanya, tidaklah salah bila dikatakan seperti ini:

فلان داعية وليس نبيًّا

“Si Fulan itu hanyalah seorang da`i, bukan Nabi”.

Nah, terkait dengan gerakan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab, yang dikenal dengan istilah Wahhabi, Salafi atau Dakwah Tauhid, mustahil tidak ada kesalahan atau kekurangan dalam konsep dan pengaplikasiannya.

Kesalahan dan kekurangan dalam gerakan dakwah ini, bisa terjadi pada konsep yang dipahami dan disampaikan oleh pendiri dan penerusnya, atau bisa juga terjadi pada para pengikutnya.

Lebih spesifik lagi, dakwah Salafi di negeri ini mustahil tidak memiliki kesalahan atau kekurangan. Dan kesalahan itu bisa tercipta lewat pemahaman para pengusung dakwah (Asatidz), lalu disampaikan dan diterima begitu saja oleh para pengikutnya. Atau, pemahaman pengusung dakwahnya benar, lalu disampaikan pada pengikut, tapi dipahami dan diaplikasikan secara salah oleh para pengikut, sehingga muncullah apa yang disebut dengan istilah oknum.

Disamping itu, karena para pengusung dakwah Wahhabi/Salafi dan pengikutnya itu belum tentu seragam dalam memahami konsep dakwah yang diusung, atau berbeda dalam pengaplikasiannya, lalu ketika ada sebagian dari mereka misalkan melakukan kesalahan, maka terkadang kritikan dari luar dakwah atas kesalahan ‘sebagian’ itu dianggap sebagai tuduhan tidak ilmiah oleh sebagian dari mereka yang tidak melakukan kesalahan yang sama. Semestinya, kesalahan ‘sebagian’ itu tetap diterima sebagai sebuah kesalahan, walaupun sifatnya perbuatan oknum pengusung atau pengikut dakwah.

Sekedar contoh saja, ketika ada oknum Salafi salah dalam menyikapi dan menerapkan konsep Tawassul misalkan, seperti ‘mensyirikkan’ jenis Tawassul yang diperdebatkan ulama, atau memahami ‘Tabarrukan’ dengan orang saleh yang hidup itu sebuah kesyirikan, maka ketika kesalahan seperti ini menuai kritikan dari pihak luar dakwah mereka, maka semestinya kritikan ini diterima secara objektif dan disikapi secara proporsional, bukan malah menuduh atau menyerang pengkritik dengan memberikan label ‘musuh Tauhid’ atau ‘Pembenci Dakwah Tauhid’.

Sekali lagi saya katakan, ini hanya sebagai contoh saja, bukan klaim bahwa kasus seperti ini adalah fakta di lapangan. Kalau kasus seperti ini tidak terjadi, bisa jadi kasus-kasus semisal ini yang terjadi.

Sebaliknya, pihak luar dakwah ini juga harus bisa proporsional dalam menyikapi gerakan Dakwah ini. Harus dibedakan antara kesalahan yang ada pada konsep dakwah itu sendiri, dengan kesalahan yang muncul dalam pengaplikasiannya. Begitu juga, harus dibedakan pula antara kesalahan yang memang berasal dari pengusung (Asatidz) lalu diterima oleh para pengikut, dengan kesalahan yang cuma berasal dari pengikut saja, alias kesalahan pengikut dalam memahami apa yang disampaikan oleh pengusung.

Bila hal-hal seperti ini tidak dibedakan, maka yang timbul adalah penilaian yang sifatnya general, sehingga otomatis ditolak mentah-mentah oleh para pengusung dan pengikut dakwah tersebut.

Sekedar contoh saja. Ketika terlihat ada oknum pengikut dakwah Salafi salah dalam memahami atau menyikapi konsep ‘Tawassul’ dan ‘Tabarruk’ yang jelas masuk kategori syirik, maka kesalahan personal ini tidak etis bila disematkan pada keseluruhan pengikut dan pengusung dakwah Salafi. Karenanya, jangan terkejut bila pengusung dan pengikut Salafi secara umum menyatakan kritikan seperti itu hanyalah tuduhan semata atas dakwah yang mereka usung.

Walhasil, mari kita kaji gerakan dakwah yang ada, lalu bila ditemukan kesalahan-kesalahan di dalamnya, maka tentukan klasifikasi kesalahannya; konsep dakwah atau aplikasinya. Demikian juga, apakah kesalahannya hanya dari kalangan oknum pengikut, atau sistematis dari atas ke bawah

TAMBAHAN KOMENTAR
Paling Asyik itu kalo ada diskusi
1. Ustadz Adni Kurniawan vs Ustadz Nidlol Mansyud (Babanya Shofia)
2. Ustadz Alfitri vs Ustadz Nidlol Mansyud

Tapi, yang ada baru antara ust Adni dan ust Nidlol. Maka saya kutipkan.

Adni Kurniawan
Tapi kalau prinsip “ambil baiknya, buang buruknya” itu sendiri, apakah antum sepakat bahwa prinsip itu sendiri bernilai benar (bahkan aksiomatis), Syaikh Babanya Shofia?

Babanya Shofia
Babanya Shofia Kalau dari guru maka kita ambil semuanya, yang baik maupun yang buruk, yang benar maupun yang salah. Supaya utuh.

Akan tetapi, semua yang kita ambil dari guru ini ya kita nisbahkan saja kepada guru tersebut. Bukan kita nisbahkan kepada diri kita, bukan pula kepada orang lain, apalagi kepada Agama dan kebenaran.

Penisbahannya kepada orang lain maupun kepada Agama membutuhkan proses lanjutan.

Babanya Shofia
Babanya Shofia => Diambil tidak berarti dipakai.

Adni Kurniawan
Berarti maksud antum di sini, diambil ~ diketahui?

Babanya Shofia
Diketahui, ditimba, dan disimpan.

Ridho Muhtadi:
Awalnya diketahui semua, simpan.

Jika setelah diteliti, ternyata dinilai baik, diambil dan dimasukkan ke dalam hati (dipakai). Jika tidak baik, dipindahkan ke tempat khusus yg berbeda dengan “diketahui” versi pertama tadi (setara dengan dibuang), alias sudah diketahui buruk.

Nampaknya arah pembicaraan “Ambil baiknya buang buruknya” lebih kepada “non guru”, karena dianggap universal. Setan yg bukan termasuk guru (malah bertentangan sekali), untuk setan saja bisa diberlakukan kaidah ambil baiknya dan buang buruknya. Apalagi untuk orang yg bisa benar dan bisa salah. Maka, logika ini universal sekali.

Tapi, ini masih berhubungan dengan soal guru tadi juga. Karena apa yg dimasukkan ke dalam hati dan dipakai, ini yg menyebabkan bagaimana seseorang bisa mengambil baiknya dan membuang buruknya. Kesalahan ajar, bisa menyebabkan tidak bisa membedakan mana yg baik dan mana yg buruk. Dari yang awalnya berguru secara cerdas, setelah belajar makin tak cerdas.

Klir ya?
Mungkin setelah baca ini kita perlu cek cara belajar ilmu umum dan ilmu agama sekaligus pada diri kita masing-masing.