Oleh:

Muhammad Abduh Negara

Perbedaan paling tajam antara Hanabilah (misal: Ibnu Taimiyyah dan sepaham dengan beliau) dengan Asy’ariyyah, adalah tentang cara memahami nash-nash yang berisi sifat Allah ta’ala yang terindikasi mirip dengan sifat makhluk.

Hanabilah menyatakan: Kita tetap tetapkan (itsbat) sifat itu, sebagaimana zhahirnya nash yang menyebutkannya, namun sifat-sifat itu sesuai keagungan Allah ta’ala dan tidak serupa dengan makhluk.

Atau dengan ungkapan lain: Kita serahkan (tafwidh) kaifiyyahnya pada Allah ta’ala, kita tidak tahu bagaimana kaifiyyahnya, dan jelas tidak serupa persis dengan makhluk, namun makna dari sifat tersebut kita itsbat.

Sedangkan Asy’ariyyah punya dua pendekatan, yang mereka sebut pendekatan Salaf dan pendekatan Khalaf. Dua pendekatan ini sama benarnya menurut mereka:

Dengan pendekatan salaf, mereka katakan: Kita terima nash yang berisi sifat-sifat Allah ta’ala tersebut, namun maknanya kita serahkan pada Allah ta’ala (tafwidh).

Dengan pendekatan khalaf, mereka katakan: Kita alihkan (ta’wil) makna zhahir dari nash yang berisi sifat-sifat Allah tersebut, pada makna yang lain, agar kita tidak menyerupakan (tasybih) Allah dengan makhluk. Menetapkan sifat-sifat tersebut sesuai makna zhahirnya, meniscayakan tasybih.

Perbedaan dua kelompok ini, bukanlah perbedaan antara satu pihak yang komitmen dengan manhaj salaf, sedangkan pihak lain menegaskan menolak manhaj salaf dan memilih metode khalaf. Bukan seperti itu.

Perbedaan mereka adalah tentang:

(1) Manakah pendekatan Salaf yang tepat, yang dipahami Hanabilah atau yang dipahami Asy’ariyyah? Catatan: Asy’ariyyah juga menerima pendekatan Salaf, tapi versi mereka, yang berbeda dengan yang dipahami Hanabilah.

(2) Bolehkah membuat pendekatan baru, sebagai tambahan, dari pendekatan Salaf?

***

Perbedaan tentang hal inilah yang paling tajam antara kalangan Hanabilah dan Asy’ariyyah. Sisanya, ada beberapa pembahasan aqidah lagi, yang mereka berbeda pendapat, tapi tak setajam tema ini.

Adapun perbedaan fiqih, itu hanyalah perbedaan antar madzhab saja, serta tahqiq antar ulama di lingkungan madzhab-madzhab yang ada.

Sedangkan persoalan ngotot-ngototan, merasa benar sendiri, mudah menyesatkan pihak lain, tidak mau toleransi, dll, itu adalah masalah kita bersama, dan perlu kita selesaikan bersama. Tak elok rasanya, jika masalah bersama, tapi ditudingkan hanya pada satu pihak saja.

Wallahu a’lam.