Oleh:

Abu Khaleed

Beberapa kali saya melihat di beranda orang yang mengupload beberapa video para sufi ekstrim yang melakukan zikir atau shalawat dengan cara yang sama sekali tidak lazim, bahkan jelas sangat munkar. Kemudian video itu diberi komentar, “Inilah akibat meyakini adanya bid’ah hasanah.” Saya tidak meyakini adanya bid’ah hasanah, akan tetapi, pun tidak berani berkomentar seperti itu terkait video-video yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat tersebut. Kenapa?

Pertama, pembagian bid’ah kepada hasanah dan sayyi`ah, mahmudah dan madzmumah, atau kepada lima sesuai ahkam taklifiyyah adalah pendapat sebagian ulama ahlus sunnah. Fakta ini tidak bisa kita ingkari. Bahkan, di setiap madzhab ada ulama yang menganutnya. Di Madzhab Hanafy ada Ibnu Abidin dan Badruddin Al Ainy, di Madzhab Maliky ada Muhammad Az Zurqany, di Madzhab Syafi’i ada Imam Syafi’i sendiri, Abu Hamid Al Ghazaly, Al Izz Ibnu Abdissalam, Imam Nawawi, Ibnu Hajar al ‘Asqalany, dan di Madzhab Hanbaly ada Muhammad Al Ba’ly rahimahullahu ajma’in.

Kedua, tidak ada kelaziman antara meyakini bid’ah hasanah dengan amalan-amalan yang jelas-jelas munkar seperti dalam video-video tersebut. Para ulama yang membagi bid’ah kepada dua, bahkan juga lima, menyebutkan pengertian dan aturan dalam menentukan bahwa sesuatu yang baru itu dapat dikatakan sebagai bid’ah hasanah. Utamanya adalah, ia tidak bertentangan dengan Syariat dan Sunnah. Contoh, perkataan Imam Syafii berikut ini,

البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة فهو محمود وما خالف السنة فهو مذموم

“Bid’ah ada dua; bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Yang sesuai sunnah maka ia terpuji, dan yang bertentangan dengan sunnah maka tercela.”

Begitu juga perkataan Ibnu Hajar,

والتحقيق أن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة، وإن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبة

“Berdasarkan analisa, jika bid’ah itu termasuk sesuatu yang teranggap baik oleh syariat, maka ia hasanah. Dan jika ia termasuk sesuatu yang teranggap jelek dalam syariat, maka ia pun buruk.”

Ibnu Taimiyyah, diantara ulama yang tidak membagi bid’ah menjadi dua atau lima pun, menjelaskan,

وكل بدعة ليست واجبة ولا مستحبة فهي بدعة سيئة، وهي ضلالة باتفاق المسلمين. ومن قال في بعض البدع إنها بدعة حسنة فإنما ذلك إذا قام دليل شرعي على أنها مستحبة، أما ما ليس بمستحب ولا واجب فلا يقول أحد من المسلمين إنها من الحسنات التي يتقرب بها إلى الله.

“Dan setiap bid’ah yang bukan termasuk wajib atau mustahab, maka ia adalah bid’ah sayyi`ah, ia bid’ah yang sesat dengan kesepakatan kaum muslimin. Dan adapun orang yang berkata bahwa pada sebagian bid’ah itu ada yang baik (hasanah), hal itu maksudnya adalah, jika didukung oleh dalil syar’i maka ia mustahab, adapun yang tidak mustahab, tidak juga wajib, maka tidak ada satu pun dari kalangan kaum muslimin yang menganggapnya sebagai kebaikan (hasanah) yang dijadikan wasilah untuk bertaqarrub kepada Allah.”

Ketiga, dari contoh-contoh bid’ah hasanah yang disebutkan oleh mereka pun, kebanyakannya jelas-jelas sesuai dengan syariat. Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya mengatakan,

فقد تكون بدعة واجبة كنصب الأدلة للرد على أهل الفرق الضالة، وتعلم النحو المفهم للكتاب والسنة، ومندوبة كإحداث نحو رباط ومدرسة، وكل إحسان لم يكن في الصدر الأول

“Bid’ah itu bisa wajib, seperti menegakkan dalil untuk membantah kelompok-kelompok sesat dan mempelajari ilmu nahwu untuk memahami al Kitab dan Sunnah. Bisa juga disunnahkan, seperti membuat sarana belajar dan setap kebaikan yang tidak ada di generasi pertama.”

Syaikh Muhammad Al Jizany dalam kitabnya, “Mi’yar al Bid’ah” sampai-sampai menyimpulkan bahwa perselisihan para ulama terkait dikotomi bid’ah itu merupakan perselisihan yang tidak esensial, bukan hakiki. Beliau mengatakan,

الخلاف واقع قديما بين أهل العلم في تقسيم البدعة إلى حسنة وقبيحة، وإلى أحكام التكليف الخمسة، وهذا الخلاف يمكن أن يكون لفظيا

“Telah terjadi khilaf di kalangan para ulama dari sejak dulu dalam masalah pembagian bid’ah kepada hasanah dan qabihah atau kepada lima hukum taklif. Dan khilaf ini, kemungkinannya hanya bersifat lafdzi (tidak esensial).”

Keempat, para ulama itu tidak mengatakan setiap bid’ah itu berarti bid’ah hasanah. Mereka juga meyakini adanya bid’ah dhalalah, sayyi`ah, madzmumah, munkarah atau muharramah. Tingkah para sufi ekstrim yang ada di video itu kemungkinan besarnya akan dimasukkan oleh mereka kepada bid’ah jenis ini.

Kelima, jika para pengamal bid’ah dhalalah itu menganggap apa yang dilakukanya sebagai bid’ah hasanah, maka kita katakan bahwa itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud para ulama yang meyakininya.

Allahu A’lam.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1872838492736874&id=100000322244370